Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.38 ( Mama Alfaro)


__ADS_3

"Ma ayo kita bicara sebentar." Alfaro menarik tangan Mama masuk kedalam Mansion. Sementara Almira, Arumi dan Bi ranti masih berada di halaman depan Mansion.


Almira melihat Arumi dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia masih belum paham, kenapa Arumi yang sudah bekerja di kantor kakaknya masih mau membantu Bi Ranti di rumah ini.


"Umur kamu berapa?" tanya Almira.


"Dua puluh tahun Nona," jawab Arumi.


"Dua puluh tahun dan sudah bisa bekerja di perusahaan besar seperti WB grup, pasti kamu sangat pintar ya, sementara aku di usia dua puluh tahun masih bergelut dengan skripsi ... perkenalkan aku Almira, adik Kak Al." Almira mengulurkan tangannya kepada Arumi, dengan ragu-ragu Arumi meraih uluran tangan Almira, "Saya Arumi."


Bi Ranti begitu kasihan melihat Arumi, karena harus menyembunyikan statusnya dari semua orang. Bi Ranti baru mengenal Arumi beberapa bulan, namun ia sudah bisa merasakan bagaimana kebaikan hati sang Nona muda.


Gelegar petir kembali menyambar, hujan yang telah reda kini perlahan kembali membasahi bumi. Bi Ranti mengajak Arumi dan Almira untuk masuk kedalam, sebelum hujan semakin deras.


"Non-- maksud saya Arumi ayo kita kebelakang," ajak Bi Ranti.


"Iya Bi, Nona Almira saya dan Bi Ranti ke belakang dulu, permisi."


"Iya, silahkan."


Arumi menyeret kopernya, mengikuti langkah Bi Ranti ke kamar belakang, kamar yang biasanya di peruntukan untuk para pelayan rumah itu. Pasti rasanya begitu berat menjalani takdir yang seakan membolak-balikkan dunia yang ia pijaki. Namun saat Arumi mengenal sisi lain dari bagian hidup Alfaro yaitu Mama dan adiknya, Arumi kembali tersadar jika ia adalah orang asing yang tidak bisa begitu saja mengambil alih dunia Alfaro.


Almira masih berdiri di sana, memandang kepegian Arumi dan Bi Ranti. Tiba-tiba saja ia penasaran dengan sosok Arumi, karena ia tahu betul sifat kakaknya, tidak mungkin sang kakak akan memberikan tumpangan kepada seorang wanita lain begitu saja. Terlebih lagi cara pandang sang kakak pada Arumi yang tidak wajar baginya.


"Apa benar, dia keponakan Bi Ranti?" tanya Almira sendiri.


~


Bi Ranti membawa Arumi masuk kedalam sebuah kamar kosong yang tersisa. Arumi mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang hanya berukuran 3×4 itu. Ya memang kecil di bandingkan kamarnya yang berada di lantai dua, namun tidak ada pilihan lain kecuali menerima keadaan.


"Maaf Nona, kamar ini sangat kecil," ujar Bi Ranti.


"Tidak apa-apa Bi, kamar di rumah saya juga hanya sebesar ini," ucap Arumi lalu tersenyum kepada Bi Ranti.


"Nona, kenapa mengaku jadi keponakan saya?"


"Bibi tau sendiri, bagaimana hubungan kami kan? Meskipun sebenarnya ... kami sudah memutuskan untuk memulai hubungan yang sebenarnya," tutur Arumi yang terlihat ragu-ragu.


"Benarkah? Tapi kenapa Tuan dan Nona tidak memberitahu jika Nona dan Tuan sudah menikah?"

__ADS_1


"Belum waktunya Bi, saya takut beliau tidak bisa menerima keberadaan saya."


Bi Ranti mengelus lembut punggung Arumi. Ia hanya seorang pembantu dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Arumi. Bi Ranti tahu betul bagaimana sikap Mama Alfaro pada Sarah, apalagi kepada Arumi, ia yakin jika betul jika Mama mengetahui hubungan Alfaro dan Arumi, sudah bisa ia bayangkan kata-kata apa yang akan keluar dari mulut ibu majikannya itu.


"Bi, bisa tolong ambilkan baju kerja saya di kamar atas?"


"Oh iya tentu saja, Nona istirahat saja, pasti sangat lelah ya perjalanan hari ini," ucap Bi Ranti.


"Iya Bi, terimakasih."


...***...


Ruang kerja Alfaro.


"Kenapa kamu memandangi mama seperti itu, bicaralah, mama mau istirahat," ucap mama seraya memainkan jarinya.


"Kenapa Mama datang tanpa pemberitahuan sebelumnya?" tanya Alfaro yang sudah duduk di hadapan sang Mama.


"Kamu juga pulang tanpa memberitahu Mama waktu itu, anggap saja kita impas," jawab Mama yang terlihat sangat santai.


Alfaro berdecak kesal, bisa-bisanya sang Mama membalas perbuatannya, yang waktu itu pulang dari Amerika tanpa Memberitahu sang Mama terlebih dahulu. Rasanya lebih baik ia berurusan dengan kasus sengketa lahan proyek, ketimbang harus berurusan dengan Mama.


"Kamu mengusir Mama!"


"Bukan begitu Ma ... Mira masih kuliah, ini sudah semester akhirnya kan?"


"Mama memintanya untuk mengambil cuti."


"Apa! Mama ini bagaimana, ini sudah akhir semester, bagaimana bisa Almira mengambil cuti?"


"Al, uang selalu bisa merubah apapun, kamu tenang saja, adik kamu pasti akan tetap lulus tahun ini."


Alfaro benar-benar tidak menyangka dengan jalan pikiran Mama. Semenjak kepergian ayahnya, sikap sang Mama lebih banyak berubah, sekarang Mama lebih banyak mengatur jalan hidup ia dan Almira.


"Sudah ya.. Mama lelah sekali, besok kita lanjutkan lagi ngobrolnya." Mama beranjak dari duduknya, meninggalkan ruang kerja Alfaro.


Saat Mama keluar dari ruang kerja Alfaro, ia melihat Bi Ranti keluar dengan membawa sebuah keranjang dari dalam kamar yang di tempati Arumi sebelumnya. Langsung saja Mama menghapiri Bi Ranti.


"Itu apa?" tanya Mama tiba-tiba, membuat Bi Ranti terkesiap dan hampir menjatuhkan keranjang berisi pakaian itu dari tangannya.

__ADS_1


Bi Ranti menelan salivanya dengan susah payah. Bagaimana jika sang majikan curiganya. Sejenak Ni Ranti terdiam, sembari mencoba beep, alasan apa yang harus ia katakan kepada majikan galaknya ini.


"Kok malah bengong? Saya tanya itu apa!" ketus Mama yang mulai terlihat kesal.


"I-ini ... itu, pakain Nona Sarah dari kamar itu, Tuan Al meminta saya untuk membakarnya," ucap Bi Ranti pada akhirnya.


"Cih, kenapa masih ada saja barang-barang wanita sampah itu di Mansion ini. Cepat bakar semuanya! Saya tidak sudi kuman-kuman dari pakaiannya menempel di sini."


"Ba-baik Nyonya, kalau begitu saya permisi."


Bi Ranti Bergegas meninggalkan sang majikan. Mulai hari ini, situasi Mansion akan kembali menegangkan karena kehadiran Nyonya besar yang juga bermulut besar.


...***...


Situasi Apartemennya Bima mendadak menjadi heboh. Karena ternyata Maminya menelpon agar ia cepat pulang, karena kakaknya Bianca sudah tiba di Indonesia. Sang kakak yang sudah lebih satu tahun tidak ia jumpai, tapi setiap hari ia selalu berbalas pesan dengan sang kakak.


Setelah selesai makan malam bersama dengan kedua orang tua mereka, Bianca dan Bima duduk berdampingan di balkon apartement itu dengan dua kaleng soda yang saat ini di genggaman masing-masing.


"Bagaimana apa kamu sudah menyatakan perasaan mu dengan wanita yang kamu ceritakan? tanya Bianca pada Bima.


"Oh itu ... aku di tolak," ucap Bima lalu tertunduk lesu.


"Haha, its okay bro, masih ada kesempatan kan? Saat kamu mengatakan akan menyatakannya, Kakak sudah menduga ini akan terjadi, kamu terlalu terburu-buru," ujar Bianca.


"Lalu bagaimana dengan Kakak sendiri, sampai sekarang, aku belum mendengar sekalipun kakak membicarakan seorang pria? tanya Bima lalu kembali meneguk minuman soda yang ada di tangannya.


"Selama hampir tujuh tahun berkarir di dunia modeling, sekarang mungkin sudah waktunya kakak mencari pendamping hidup," ujar Bianca.


"Ya jelas lah, kakak itu sudah dua puluh tujuh tahun, sudah tua. Haha," ledek Bima, lalu tertawa dengan lepas, melupakan Kegundahan hati yang masih menyelimuti hatinya.


"Siapa ya tua? Ayo coba ulangi," ucap Bianca seraya mencubiti pinggang adiknya itu.


Bianca dan Bima adalah dua saudara yang begitu dekat. Hampir setiap kejadian yang terjadi dalam hidup Bima akan ia ceritakan kepada sang kakak. Dan begitu juga sebaliknya. Bagi Bima, kakaknya adalah seorang malaikat pelindung yang akan selalu memihak kepadanya.


BERSAMBUNG 💓


Next, siang ya kakak-kakak semuanya 😊😊🙏🙏


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2