Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.59 (Persiapan)


__ADS_3

Untuk acara malam nanti, Arumi mengajak Dinda kesebuah butik terkenal yang ada di pusat kota. Butik yang dulu hanya bisa di lewati tanpa bisa di masuki. Gaun-gaun cantik dan mewah berjajar rapi di etalase butik itu. Dengan modal sebuah black card yang di berikan oleh Alfaro, Arumi dan Dinda memasuki butik itu.


Hawa dingin dari AC langsung menyambut kedatangan mereka saat pertama kali menginjakkan kaki di butik itu. Tak lama seorang pelayan butik berpakaian rapi menghapiri mereka, menyapa dengan tundukan kepala dan senyum ramah.


"Selamat datang di butik kami, ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan butik itu.


"Kami mau mencari gaun yang paling bagus untuk Nona ini," ucap Dinda seraya menunjuk Arumi.


"Apa sih Din, untuk dia juga," ucap Arumi balas menunjuk Dinda.


Dinda tercengang saat Arumi menunjuk ke arahnya. Ia mendekati Arumi seraya berbisik, " Aku nggak punya cukup uang untuk membeli gaun di sini."


"Tenang aku yang bayar, anggap saja hadiah," bisik Arumi balik.


"Terimakasih kamu memang yang terbaik," ucap Dinda sambil memeluk lengan kiri Arumi.


"Kalau begitu mari saya tunjukkan koleksi terbaru kami."


Mereka melangkah, mengikuti pelayan itu dari belakang. Baik Arumi ataupun Dinda mereka tak henti-hentinya terkagum-kagum dengan semua gaun yang terpajang di sana. Pakaian memang membuat aura seseorang kian terpancar. Maka dari itu kadang kala ada segelintir orang yang berdompet tebal, rela mengeluarkan bajet hingga puluhan juta hanya demi gaun desainer ternama. Trend mode memang kian hari semakin beraneka ragam dan membuat orang lebih bebas memilih pakaian apa yang sesuai dengan karakter mereka.


Sudah banyak gaun yang Arumi lewati namun belum ada satupun yang membuat ia menghentikan langkahnya. Kata-kata Alfaro masih saja terngiang-ngiang, bahwa ia ingin melihat Arumi lebih cantik dari biasanya saat di pesta nanti. Itu lebih terdengar seperti misi untuknya. Meski Arumi berpikir di pesta nanti ia hanya akan melihat Alfaro dari jarak jauh tapi ia ingin melihat meskipun hanya sekali Alfaro menoleh dan tersenyum padanya.


Saat ini deretan gaun model terbaru sudah berjajar rapi di hadapannya. Gaun yang pelayan katakan adalah koleksi terbaru dari butik itu. Dari semua gaun yang ada di sana, mata Arumi tak pernah lepas dari gaun berwarna broken white, gaun itu nampak sangat elegan namun tak terlalu banyak aksen manik-manik dan semacamnya. Mermaid dres, gaun ini memang bentuknya terinspirasi dari putri duyung alias mermaid. Bentuk dress ini di bagian atas sangat ketat sampai bagian atas lutut. Kemudian seterusnya berbentuk melebar seperti sirip ikan.


"Kamu suka yang itu?" tunjuk Dinda pada gaun yang di pandangi Arumi.


"Iya cantik sekali," ucap Arumi yang masih nampak terpana.


"Kalau begitu ayo coba," ucap Dinda.

__ADS_1


Pelayan toko itu meraih gaun yang di sukai Arumi kemudian menuntunnya k sebuah ruang ganti yang ada di ruangan itu. Dinda yang berada di luar memilih gaun yang dia inginkan. Tak seperti Arumi yang langsung jatuh cinta pada pandangan pertama pad gaun pilihannya. Dinda malah kebingungan karena semua nampak sama cantik baginya. Ya, apa lagi Arumi yang akan membayarnya.


Setelah beberapa saat tirai raung ganti itu tersibak, langsung saja Dinda menoleh, melihat Arumi yang sedang berdiri dengan anggun, gaun yang tadinya hanya dalam pandangan kini sudah melekat indah di tubuhnya. Dinda diam terperangah melihat sang sahabat yang benar-benar cantik dengan model mermaid itu. Dinda mengajungkan kedua jempolnya dengan mantap kepada Arumi.


Setelah ini, mereka akan langsung ke salon yg juga tidak jauh dari butik itu dan langsung pergi ke lokasi pesta yang nyatanya juga tak jauh dari butik itu juga.


...***...


Saat ini di sebuah kamar hotel tempat pesta ulang perusahaan itu akan di gelar. Mama dan Almira sedang di tangani oleh seorang make up artis ternama. Sementara itu Alfaro sudah selesai bersiap-siap, ia sedang duduk di sebuah sofa di ruangan yang sama dengan Mama dan Almira, sambil melihat foto Arumi yang ada di ponselnya. Foto yang di ambilnya saat mereka pergi ke pantai.


Sedang apa dia sekarang, aku sudah sangat merindukannya, batin Alfaro.


Cklek.


Pintu ruangan itu terbuka. Aril muncul dari sana dan dan langsung menghampiri Alfaro.


"Tuan, acara akan segera di mulai," ucap Aril.


"Ya pergilah, sebentar lagi keluaga bianca juga akan datang, pastikan kamu menyapanya," ujar Mama.


"Iya Ma."


Alfaro beranjak pergi, meninggalkan ruangan itu. Ia sudah tidak sabar untuk melihat Arumi berada di antara orang-orang yang ada ballroom hotel itu.


~


Mobil taksi yang membawa Arumi dan Dinda berhenti di depan pintu utama Hotel itu. Sebelum keluar Arumi mencoba menenangkan dirinya yang entah kenapa terasa begitu gugup. Saat merasa sudah lebih baik, ia turun dari taksi di ikuti oleh Dinda yang keluar.


Langkah demi langkah mereka tapaki hingga masuk kedalam ballroom hotel itu. Tiba-tiba saja semua mata tertuju padanya. Rasa percaya diri Arumi pun jadi menciut. Apalagi tatapan mata orang-orang padanya malah terkesan mengintimidasi.

__ADS_1


"Apa gaun yang aku pakai ini terlalu lebay," bisik Arumi pada Dinda.


"Tidak, kamu harus percaya diri, lihat aku, lihat gaun merah yang aku pakai sekarang, lebih mencolok lagi, tapi aku percaya diri," bisik Dinda balik.


Arumi kembali menarik nafas sedalam mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia kembali melangkah menembus kerumunan orang yang ada dihadapannya. Apa lagi si Clara, saat melihat Arumi datang ia sudah terlihat sangat kesal. Tapi entah kenapa, kata-kata Arumi waktu itu membuat ia tidak lagi ingin berurusan dengan Arumi.


Teman-teman Arumi sewaktu acara camping tahunan perusahaan waktu itu mengahampiri Arumi dan Dinda. Sejak acara itu mereka sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Arumi.


"Hai rumi," sapa Kiki.


"Hai, kalian apa kabar?" tanya Arumi yang terlihat senang melihat rekan satu timnya.


"Kami baik ... ini asisten Sekertaris Aril kan?" tanya Risma memastikan.


"Kalian tau aku?" sahut Dinda tiba-tiba, ia tidak menyangka ada yang mengenalinya.


"Kita beberapa kali bertemu di HRD mungkin kamu tidak ingat," ucap Kiki.


"Oh begitu, maaf aku memang pelupa ... perkenalkan aku Dinda sahabat Arumi dari lahir," ucap Dinda seraya mengulurkan tangannya kepada Risma dan Kiki. Mereka langsung menyambut uluran tangan Dinda secara bergantian.


Saat tengah asik mengobrol dengan teman-temannya. Tiba-tiba saja dari arah pintu utama, ia melihat Bima datang tapi ia tidak sendiri. Bima bersama dengan dua orang lainnya. Orang itu adalah kedua orang tua Bima. Sementara sang kakak, Bianca akan menyusul sebentar lagi.


"Eh itu Bima sama siapa?" tanya Dinda.


"Sepertinya mereka bukan orang biasa," ucap Kiki.


Arumi terus saja memandangi dari jauh. Ia penasaran siapa orang yang bersama Bima.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2