Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bonus chapter.4 (Melamar Dinda)


__ADS_3

Menjelang pagi, Aril masih saja duduk di kursi ruang tamu seraya memandangi koper berisi pakaian yang akan ia bawa keluar negeri. Ya, ia masih galau karena meski Dinda sudah bilang pergilah, tapi ekspresi wajah sendu tak bisa di tutupi hingga membuat Aril mengerti jika rela hanya sebatas kata.


"Kenapa juga tugas negara harus datang sekarang," gumam Aril.


Akhirnya ia beranjak dari tempat duduknya, meraih koper dan melangkah menuju pintu keluar rumah dengan desain minimalis modern itu. Langkahnya terhenti saat dering ponsel yang ada di saku celana terdengar begitu nyaring.


Tuan Al? Mungkin dia sudah sampai di Bandara, batin Aril saat melihat layar ponselnya.


Tanpa menunda waktu Aril menerima panggilan telepon itu.


"Saya dalam perjalanan Tuan."


[Tidak usah ke Bandara.]


"Hah, kenapa?"


[Kita tidak jadi pergi. Aku mengutus tim perencanaan dan investor itu setuju, sudah dulu aku mau berenang bersama anak-anak ku.]


Alfaro mengakhiri panggilan telepon.


"Yes! Tidak jadi pergi," ucap Aril dengan sangat antusias.


Aril kembali berbalik masuk kedalam, ia meletakkan kopernya lalu berbaring di kursi ruang tamu rumah itu. Sekilas senyumnya terlihat mengembang seraya terus menatap langit-langit ruangan. Ya, ia sedang memikirkan sebuah rencana dadakan untuk melamar sang pujaan.


Wait for me, your sadness will turn into happiness, batin Aril.


~


Di tempat yang berbeda, Ibu melangkah dengan ekspresi datar menuju kamar Dinda. Sejak malam tadi, putri semata wayangnya itu terlihat sangat sedih. Ibu tahu karena Aril juga sudah meminta izin padanya, ia mengerti perkejaaan sang calon menantu, tapi sepertinya tidak dengan Dinda.


Klek.


Pintu kamar terbuka, Ibu menghela nafas perlahan saat melihat Dinda duduk meringkuk di atas tempat tidur. Ia kembali melanjutkan langkahnya duduk di tepi ranjang sang putri.


"Kagak kerja Din?"


Dinda yang tadinya menatap keluar jendela, kini mengalihkan fokusnya ke Ibu. "Nggak Bu, aku izin."


"Lah kenapa? Din Ibu tau lu sedih Aril pergi, tapi ini juga demi masa depan kalian juga, kagak lama kok."


"Huh, iya Bu ... tapi hari ini Dinda mau di rumah aja."


"Kagak nganterin nak Aril ke bandara?"


"Nggak Bu, mungkin sekarang pesawatnya sudah terbang."


"Ya udah jangan sedih terus dong ... Ibu jadi sesak ini."


"Lah kenapa Ibu yang sesak?"

__ADS_1


"Kagak biasanya muka lu kayak gitu, teriak aja kayak biasanya biar Ibu juga bisa teriak. Pagi-pagi Ibu kagak teriak jadi sesak."


"Ya elah, Ibu ada-ada aja."


Akhirnya lengkungan senyum terlihat di wajah Dinda, meski begitu tipis hingga tak dapat menutupi kesedihan yang mendominasi. Ia menoleh kearah ponselnya, tak ada notifikasi apapun yang membuat benda pipih itu bergetar. Ia ingin menghubungi terlebih dahulu namun ia tahu pasti sekarang Aril sedang dalam perjalanan. Karena subuh tadi, Aril sempat mengirim pesan jika ia akan segera berangkat.


...***...


"Babe ngapain si pagi-pagi udah di luar aje?" tanya Ncing.


"Olahraga pagi," jawabnya saat menoleh kearah Ncing yang berdiri di teras rumah.


Ncing meletakkan nampan ke atas meja lalu menghampiri Engkong yang masih saja berlari kecil di halaman rumah. Meski usianya sudah tujuh puluh tahun, namun semangatnya masih empat lima.


"Sarapan dulu ngapa Be, lagian tumben amat."


Engkong mengehentikan aktifitasnya lalu melangkah mendekati Ncing. "Mulai hari ini, Babe mau idup sehat, biar bisa liat si Dinda nikah, punya anak."


"Nah itu, makanya sarapan dulu."


"Iya juga ya, ayo dah kalo gitu."


Engkong hendak berbalik menuju teras, namun langkahnya kembali terhenti saat sebuah mobil yang tidak asing masuk ke halaman. Ia mendekati mobil bersama Ncing. Wajah sumbringah Engkong terpancar saat melihat pria yang keluar dari dalam mobil adalah Aril.


"Selamat pagi Engkong, Ncing." Aril menyalami tangan keduanya secara bergantian.


"Tumben amat lu kemari?" tanya Engkong.


"Masuk dulu yuk, sarapan bareng," ajak Ncing.


"Iya Ncing terimakasih."


Aril melangkah beriringan bersama Engkong dan Ncing. Entah apa yang akan ia bicarakan, namun sudah pasti itu adalah sesuatu yang serius. Kegagalan Aril melamar Dinda di sebuah restaurant, membuat ia mempunyai ide lain yang tentunya menantang dirinya sendiri.


...***...


Senja begitu cepat menyapa. Dinda yang sedang duduk di kursi teras masih terlihat gelisah. Bagaimana tidak, seseorang yang seharusnya memberi kabar, namun sampai detik ini tidak ada pesan apalagi telefon.


Dinda kembali mengecek ponselnya, kali ini ia memberanikan diri untuk menghubungi terlebih dulu ia sudah tidak tahan dan juga, ia rindu. Ponsel itu melekat di telinga, namun bukannya suara Aril yang ia dengar, tapi malah suara operator seluler yang bekata, bahwa nomor yang di hubungi sedang tidak aktif.


"Kok nggak aktif sih ... apa ponselnya mati," gumam Dinda dengan raut wajah kesalnya.


"Cemberut mulu, mandi sana udah sore," sahut Ibu yang tiba-tiba saja sudah berada di depan Dinda.


"Gimana nggak cemberut Bu, nomor Aril nggak aktif," ucap Dinda.


"Mungkin aja dia lagi ... lagi apa tu namanya ... rapat, ya mungkin dia lagi rapat," ujar Ibu seraya melangkah duduk di samping Dinda.


"Jangan-jangan Aril selingkuh Bu," ucap Dinda dengan ekspresi wajah sendunya.

__ADS_1


"Selingkuh? ... Gini ni, keseringan nonton layangan kendor si lu, lagian diakan pergi sama suami Rumi, mana mungkin dia selingkuh," ujar Ibu.


"Iya juga sih."


Di tengah obrolan anak dan Ibu itu, tiba-tiba terdengar bunyi musik khas ondel-ondel Betawi. Sontak Ibu dan Dinda menoleh kearah halaman. Terlihat Engkong, Ncing, beberapa ondel-ondel dan pemain musik memasuki halaman depan. Ya, mobil itu adalah mobil milik Engkong Dinda.


"Lah, engkong ngapain bawa ondel-ondel banyak bener kesini," ujar Dinda yang tetap fokus melihat ke depan.


"Iya ya, kagak biasanya, mobil Engkong juga kagak ada, masa iya jalan kaki," ucap Ibu.


Pertunjukan ondel-ondel pun di mulai. Dinda dan Ibu menghampiri Engkong dan Ncing. Karena situasi yang begitu menarik, membuat tetangga-tetangga sekitar ikut berkumpul untuk menyaksikan acara pertunjukan dadakan itu.


"Engkong, kok bisa disini?" tanya Dinda penasaran.


"Kagak usah banyak tanya, liat aja entar," jawab Engkong.


"Udah Din, nikmatin aja pertunjukannya ya," ucap Ncing yang terlihat sangat senang.


Petunjuk ondel-ondel itu semakin menarik perhatian, bukan hanya tetangga tapi orang-orang yang lewat pun ikut mampir. Iringan musik dari tanjidor, Gong, rebana dan alat musik lain mengiringi pertunjukan itu, hingga pada akhirnya sebuah ondel-ondel besar mendekati Dinda.


Ondel-ondel itu menari-nari mengelilingi Dinda, hingga akhirnya berhenti di hadapannya. Engkong melangkah, memasukkan sebuah mic lewat mulut ondel-ondel yang sudah di stel sebelumnya. Sementara Dinda masih terlihat bingung, ia hanya bisa diam dalam pikirannya sendiri.


"Cek...cek, untuk wanita cantik yang ada di hadapanku sekarang ... maaf karena aku datang terlambat," ucap seorang laki-laki yang berada di dalam badan ondel-ondel.


Mata Dinda mulai berkaca-kaca, saat mendengar suara yang terdengar begitu tidak asing. Ya, tentu saja itu Aril, namun rasanya masih begitu menggajal karena ia tahu betul kekasihnya sangat takut dengan ondel-ondel.


"Aril," lirih Dinda.


"Ternyata kamu masih mengenali suara ku ya meski tidak melihat aku dari dalam sini ... aku berusaha melawan ketakutan ku, agar bisa berdiri di depan kamu dengan cara yang berbeda dan pantas. Hari ini aku datang, dengan satu pertanyaan yang harus kamu jawab ... sudah begitu banyak hari-hari yang kita lewati bersama, aku masih tidak menyangka hari ini akan tiba di waktu yang tidak aku duga. Aku ingin sesuatu yang kita impikan menjadi kenyataan, dimana aku dan kamu menjadi kita ... Dinda, maukah kamu menikah dengan ku?"


"Terima! Terima! Terima!" Suara kerumunan orang terdengar menggema.


Mata Dinda semakin memanas, sebelum menjawab ia menoleh kesamping dimana Ibu, Ncing dan Engkong berdiri. Ia seolah meminta persetujuan dan tentu saja yang ia dapatkan adalah anggukan kepala yang sangat kompak dari ke tiganya. Ia pun kembali menatap kedepan.


"Iya aku mau ... ayo kita menikah," ucap Dinda yang tidak lagi bisa membendung matanya.


Suara sorak sorai terdengar dari orang-orang yang menyaksikan. Beberapa orang membantu Aril untuk keluar dari dalam badan ondel-ondel itu. Sesaat Aril keluar, dengan gerakan cepat Dinda langsung berhambur memeluknya.


"Terimakasih karena sudah menerima ku," ucap Aril tepat di telinga Dinda.


"Terimakasih juga karena sudah mewujudkan mimpi ku ... kenapa kamu tidak bilang kalau kamu tidak jadi pergi?" tanya Dinda seraya terus terisak haru.


"Namanya juga surprise," jawab Aril singkat.


Akhirnya kebahagiaan itu datang juga. Semua berawal dari ketidaksengajaan dan lemparan tas belanja Ibu. Hingga akhirnya mereka akrab sebagai teman. Bertahun-tahun bersembunyi dalam perasaan masing-masing dan akhirnya saling mengungkapkan.


Pernikahan adalah dambaan Dinda sejak lama hingga menjadi prioritas Aril untuk mewujudkannya. Hal ini adalah suatu bukti bahwa rasa nyaman dari sebuah pertemanan, bisa saja menjadi rasa yang lebih dari itu.


Akan menyakitkan jika rasa itu bertepuk sebelah tangan, namun tidak demikian dengan Aril dan Dinda karena mereka jatuh cinta satu sama lain. Perjuangan Aril untuk mendapatkan restu keluarga tidaklah mudah, ia harus menahan rasa trauma.

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote readers 🙏😊


__ADS_2