
Mobil yang di kendarai oleh Aril berhenti di sebuah restaurant berbintang di pusat kota. Ia bisa melihat Dinda dan pria itu melangkah masuk kedalam seraya bergandengan tangan. Mata Aril terlihat memerah karena menahan rasa yang menyesakkan dada.
Setelah Dinda menghilang dari balik pintu. Aril turun dari mobil dan ikut masuk kedalam. Ia sudah seperti penguntit yang mengikuti kencan seseorang hingga seperti ini. Andai ia menyadari perasaannya sendiri, mungkin Dinda akan mempertimbangkannya.
Aril duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari Dinda, lengkap dengan topi hitam yang menutupi separuh wajahnya. Tatapan matanya tak pernah lepas dari Dinda yang sedang duduk berhadapan dengan laki-laki tampan yang membuat rasa percaya diri Aril menciut.
Kenapa aku malah mengikutinya sejauh ini, ah entahlah, sudah terlanjur, batin Aril.
~
Di tempat yang berbeda, Alfaro dan Arumi baru saja sampai di Mansion setelah melalui momen-momen romantis bersama di apartement. Baru saja mereka keluar dari mobil. Si kembar sudah berhambur memeluk mereka. Bi Ranti terlihat menyusul dari dalam. Semenjak tinggal di Mansion Vino dan Viona lebih aktif dari biasanya, karena Mansion itu lebih besar berkali-kali lipat dari Apartement mereka di Malaysia.
"Mom, tadi Ino jalan-jalan sama uncle Bi dan onty Mia," ucap Ino yang saat ini sedang di gendong oleh Arumi.
"Iya selu sekali Daddy," sambung Viona yang saat ini sedang di gendong oleh Alfaro.
"Tidak rindu mommy dan Daddy?" tanya Alfaro kepada kedua anaknya.
Vino dan Viona saling menatap satu sama lain. Kedua batita itu sampai lupa kepada kedua orangtuanya karena terlalu asik bermain dengan Bima dan Almira.
"Lindu kok," ucap Viona.
"Iya Ino juga, hehe," kekeh Vino.
"Mommy juga rindu sayang," ucap Arumi seraya mengecup lembut pipi tembem Vino, lalu beralih menatap Bi Ranti yang berdiri di sampingnya, "Mama dimana Bi?
"Di ruang keluarga Nona, sedang mengobrol dengan Nona Almira dan Tuan Bima," tutur Bi Ranti.
__ADS_1
Tanpa menunda waktu, Arumi, Alfaro dan juga si kembar masuk kedalam. Sesampainya di dalam suasana terlihat begitu hangat, karena Mama yang kini sudah banyak berubah. Wajah yang dulu terlihat galak kini terasa hangat dan lebih ceria. Perubahan seseorang tidak mengenal waktu dan usia, dan Mama menyadari diri di usia senja itu lebih baik dari padat tidak sama sekali.
Arumi dan Alfaro ikut bergabung, duduk di hadapan Almira dan Bima yang saat ini duduk berdampingan. Sementara Vino dan Viona lagi-lagi memilih duduk di dekat onty mereka. Mama memperhatikan tingkah Vino dan Viona yang terlihat begitu akrab dengan Bima dan Almira. Mama berpikir, sepertinya kedua cucunya itu bisa di tinggal oleh kedua orang tua mereka.
"Lihatlah kedua anak kalian, mereka sangat akrab dengan Almira dan Bima, jadi kalian tidak perlu khwatir. Pergilah berbulan madu," ucap Mama pada anak dan menantunya.
"Aku masih mempertimbangkannya Ma," ujar Alfaro.
"Tapi Ma, apa tidak akan merepotkan Almira," ucap Arumi.
"Tidak kok kak, aku senang bisa merawat Vino dan Viona, pergilah berbulan madu kak," sahut Almira tiba-tiba.
Arumi melirik sang suami yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Ia benar-benar masih bingung antara pergi dan tidak, karena Arumi tidak pernah berjauhan dengan kedua anaknya. Tapi permintaan Mama juga tidak bisa di abaikan begitu saja.
"Onty bulan madu itu apa?" tanya Viona tiba-tiba.
"Ih masa kamu nggak tau, bulan itu yang di langit ... temannya bintang," sahut Ino seraya menepuk pundak Viona.
"Tau ah," ucap vino seraya mengangkat bahunya.
Semua orang yang ada di sana terkekeh sendiri karena tingkah Vino dan Viona yang begitu menggemaskan. Bima memperhatikan Arumi yang saat ini sedang tertawa di hadapannya. Sejak mengenal Almira, ia sudah lebih bisa mengontrol perasaannya kepada Arumi.
"Sayang, dengar onty ... bulan madu itu seperti jalan-jalan tapi anak kecil tidak boleh ikut, mommy dan Daddy mau pergi bulan madu sebentar saja, Vino dan Viona tinggal sama onty dan oma dulu ya," jelas Almira kepada kedua keponakannya.
Vino dan Viona kembali saling menatap lalu kembali melihat Almira, "Cuma onty sama Oma, uncle Bi tidak?" tanya Vino.
"Sayang uncle Bi harus pulang, karena uncle sibuk," ucap Almira lagi.
__ADS_1
"Ehm ... aku akan menunda kepulangan ku, sampai kalian pulang dari berbulan madu," sahut Bima, membuat Arumi dan yang lainnya menjadi bingung.
"Bima, tidak perlu seperti itu ... bagiamana dengan pekerjaan mu," ucap Arumi.
"Tidak masalah Rumi, aku masih merindukan Vino dan Viona ... kalian pergilah, aku yang akan menjaga mereka."
Almira menoleh kearah Bima. Entah kenapa melihat Bima bersikap tegar seperti ini membuatnya semakin kagum. Ia tau Bima masih dalam proses melupakan Arumi. Saat laki-laki lain mungkin akan pergi menjauh, tapi Bima masih bisa sesantai ini.
Apa aku harus membantunya lepas dari bayang-bayang kak Arumi, tapi apa yang harus aku lakukan? Batin Almira.
Arumi dan Alfaro tediam sesaat merenungi sebelum akhirnya memutuskan. Tiba-tiba saja Vino dan Viona menghapiri mereka dengan senyuman polos yang selalu berhasil membuat Arumi dan Alfaro bahagia.
"Mommy, Daddy ... pergi aja, disini kan ada uncle Bi, onty Mia dan Oma," ucap Vino.
"Tapi kalau mommy sama Daddy pulang jangan lupa beli mainan untuk Yona," ucap Viona.
Arumi memeluk kedua anaknya. Ia tidak bisa membendung perasaan haru karena ucapan si kembar yang begitu mengerti bahwa mommy dan Daddy mereka membutuhkan waktu untuk berdua.
Alfaro semakin yakin jika mereka memang harus pergi. Tidak lama tapi cukup untuk membuat ia dan Arumi mengeratkan kembali perasaan yang sempat terpisah. kepegian kali ini juga adalah bulan madu perdana mereka hampir lima tahun menikah.
"Baiklah kalau begitu kami akan pergi," ucap Alfaro pada akhirnya.
Mama akhirnya bisa bernafas lega. Ia begitu menginginkan anak dan menantunya mengabiskan waktu berdua untuk menebus waktu yang telah terbuang karena keegoisan Mama yang sempat memisahkan keduanya.
Bima ikut bahagia melihat Arumi dan Alfaro. Mungkin Almira benar, mengikhlaskan adalah bentuk kebahagiaan yang sesungguhnya. Saat ini melihat Arumi bahagai dengan keluarga kecilnya, membuat Bima juga ingin segera menemukan kebahagiaannya sendiri.
Bima beralih menatap Almira. Entah kenapa ia ingin mengenal Almira lebih dalam lagi. Mungkin ini adalah jawaban atas kegundahan hatinya saat ini. Jika cinta itu memang harus berpaling, Almira adalah orang yang tepat untuk menerimanya, dan semoga saja Almira menyambut dengan baik.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊