
Arumi dan Alfaro baru saja selesai menikmati makan malam mereka. Makanan yang membuat Alfaro tak henti-hentinya memuji sang istri. Arumi semakin bersemangat untuk belajar memasak menu yang lain lagi karena mendengar pujian Alfaro.
~
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Mereka kembali ke kamar. Sepasang suami istri itu kini sedang duduk bersandar di jendela kaca bagian luar balkon dengan beralaskan kain di lantai balkon kamar itu. Arumi bersandar di bahu Alfaro yang sekarang ia harap akan selalu menjadi sadarannya ketika lelah dengan kehidupan dunia.
Cahaya lampu kamar yang entah bagaimana tidak terlalu terang, namun juga tidak redup, membuat suasana menjadi semakin hangat. Pemandangan malam yang begitu menakjubkan, bintang yang berkelap-kelip dan lampu-lampu bangunan yang mengecil ketika di lihat dari ketinggian.
"Apa tidak apa-apa kalau Mas berlama-lama di sini?"
"Bukannya memang sudah seharusnya aku disini bersama mu." Alfaro kembali menciumi rambut Arumi dengan lembut, merangkul dengan erat untuk memberi kehangatan.
"Ya aku senang kamu disini, bersama ku tapi Mama kamu bagaimana?" tanya Arumi ragu-ragu namun kepalanya mendongak keatas, penasaran dengan ekspresi wajah Alfaro.
"Cepat atau lambat, aku akan memberitahu Mama tentang kita, jadi biarkan saja Mama curiga kenapa aku tidak pulang, aku malah berharap Mama akan tau dengan sendirinya," tutur Alfaro.
Arumi kembali memandangi langit malam, dengan perasaan campur aduk. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Almira, jika mantan istri Alfaro memilih pergi itu semua karena ulah Mama.
"Mas."
"Hemm, kenapa?"
"Mas dan mantan istri ... kenapa kalian berpisah?" tanya Arumi yang mulai penasaran.
Terlalu banyak misteri dari masalalu sang suami yang belum ia ketahui. Tirai kenangan masa lalu itu belum sepenuhnya tersibak, seolah tak ingin mengulang kembali meski hanya lewat cerita. Alfaro meraih tangan Arumi, menggenggamnya dengan erat dan sesekali menciumnya. Alfaro lupa kalau ia belum pernah menceritakan tentang perpisahannya dan Sarah kepada Arumi.
"Di sini, di tempat ini ... aku pernah duduk berdua dengannya, dan di sini juga aku pernah ... duduk sendiri, saat dia pergi meninggalkan ku."
__ADS_1
Apa dia sedang membicarakan mantan istrinya, sekarang, batin Arumi.
Rasa hati Arumi mulai tidak nyaman saat Alfaro mulai menceritakan tentang sang mantan, mungkin Arumi sedang cemburu tanpa ia sadari. Tapi rasa tidak nyaman itu terkalahkan dengan rasa penasarannya karena ini untuk pertama kalinya Alfaro membicarakan tentang Sarah.
"Apa kamu ingin mendengarnya lagi, jika tidak aku tidak akan melanjutkannya lagi," ucap Alfaro takut Arumi merasa tidak nyaman.
"Lanjutkan Mas, aku ingin tau," jawab Arumi yang sudah menegapkan kepalanya dari bahu Alfaro.
Alfaro kembali mencium pucuk kepala Arumi dengan lembut, lalu menyadarkan kepala di bahu kecil itu. Entah kenapa semua Begitu berat untuk terucap, namun Alfaro ingin membagi kisah pilunya dengan Arumi, tak ingin menutupi apapun yang akan membuat Arumi mempertanyakannya suatu saat nanti.
"Aku pernah duduk di sini bersamanya ... namun situasinya sudah berbeda. Hari itu aku menyodorkan surat dari pengadilan kepadanya. "
Suasana menjadi hening sesaat.
Arumi bisa merasakan jika luka itu masih teramat dalam. Hanya karena Arumi ingin tahu, Alfaro harus kembali membuka luka itu lebar-lebar. Ya, Alfaro pernah di posisi itu, posisi dimana ia harus merelakan wanita yang di cintai pergi bersama dengan laki-laki lain.
"Hari itu dia berlutut di hadapan ku, namun aku hanya diam dan memandangi bintang yang sama seperti yang kita lihat saat ini." Tunjuknya kepada bintang malam yang memancarkan cahaya kelap kelip, "Dia berlutut bukan untuk meminta kembali kepada ku, tapi dia meminta agar aku membiarkannya pergi jauh dengan laki-laki yang dia cintai." Raut wajah penuh kepiluan itu Alfaro tutupi dengan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Arumi.
"Mas masih mencintainya?" Pertanyaan itu keluar begitu saja, rasa penasaran yang berakar dari rasa cemburu Arumi.
Alfaro mengeratkan genggaman tangannya, menciumi bahu, leher, hingga ke telinga Arumi. Entahlah ia mendadak gemas saat mendengarkan pertanyaan Arumi, sudah jelas-jelas hati Alfaro sudah berpaling kepadanya, tapi dia masih saja bertanya hal yang telah menjadi masalalu. Ya wanita memang selalu seperti itu, ingin di mengerti tanpa harus menjelaskan kenapa dan bagaimana, laki-laki harus mengerti dengan sendirinya.
"Mas hentikan, jawab aku dulu." Arumi berusaha menjauhkan diri dari Alfaro.
"Dia adalah masalalu dan Arumi adalah masa depan ku."
Deg
__ADS_1
Apa itu, dia jelas mengatakan jika Arumi adalah masa depannya, batin Arumi.
Alfaro kembali menatap ke depan, memandangi cahaya dari lampu-lampu gedung pencakar langit yang berjajar rapi di hadapannya. Arumi kembali bersandar bahu bidang itu tanpa bicara apapun lagi, mungkin ia masih tidak percaya jika Alfaro menginginkan dia selamanya.
"Maaf." ucapan itu tiba-tiba saja terdengar dari mulut Alfaro yang sempat hening. Lagi dan lagi ia menciumi pucuk kepala Arumi.
"Maaf untuk apa mas?" tanya Arumi dengan tatapan mata yang tetap fokus kedepan.
"Maaf karena telah menceritakan tentang dia, aku hanya ingin menunjukkan jika sekarang aku bahagia dan kamu adalah sumber kebahagiaan ku."
Lekungan bibir Arumi kembali tertarik keatas, hatinya begitu senang karena mendengar bahwa ia adalah sumber kebahagiaan suaminya. Masalalu memang akan membekas dalam ingatan, namun Alfaro sudah meninggalkan ruang masalalu yang sempat membelenggu, menjemput kebahagiaan itu kembali dengan rasa yang sama dari orang yang berbeda.
Apartement itu begitu lekat dengan kenangannya bersama sang mantan. Namun saat ini, saat dimana ia melalui detik-detik bersama Arumi, tidak sekalipun ia memikirkan hal indah apa saja yang pernah ia lalui bersama Sarah. Hal itu cukup untuk membuktikan jika cinta itu sudah milik Arumi.
"Aku mencintaimu, Arumi."
"Aku juga mencintaimu, Mas Al." Sesaat mereka saling melepar senyum lalu kembali menatap kedepan, menatap langit malam yang menjadi saksi bisu kisah yang baru saja akan dimulai.
"Aku berharap kamu tidak menyerah, pergi menghilang dari sisi ku," ucap Alfaro.
Arumi mengarahkan jari kelingkingnya kehadapan Alfaro. Sebagai tanda janji untuk tidak pergi dan menghilang. Alfaro tertawa kecil saat melihat jari kelingking yang menunggu untuk di sambut. Meski terkesan kekanak-kanakan, namun tingkah Arumi itu benar-benar menggemaskan baginya. Tanpa menunggu lama, Alfaro mengaitkan jari kelingking mereka dengan erat.
"Kamu tidak boleh mengingkari janji," ucap Alfaro.
"Iya Mas, aku janji."
Janji yang sudah terikat, akan tertanam dalam hati dan semoga saja restu sang pencipta juga mengiringi. Karena manusia hanya bisa berencana namun Tuhan tetaplah penentu segalanya.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍