Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.82 (Sebuah pertemuan dan sebuah ciuman)


__ADS_3

Alfaro melepaskan pegangan tangannya dari Vino untuk membuka pintu ruangan rawat Mama. Arumi menelan salivanya sekuat tenaga, karena merasakan kegugupan yang luar biasa. Dengan menggadeng tangan Vino dan Viona, Arumi bersembunyi di belakang tubuh Alfaro.


Cklekk.


Saat pintu terbuka, Alfaro masih berdiri di ambang pintu. Mama yang sedang di suapi bubur oleh Amira, sontak saja langsung menoleh kearah pintu. Mereka tersenyum saat melihat kedatangan orang yang sudah di tunggu sejak kemarin. Tapi sekaligus penasaran dengan seseorang yang berada di balik punggung Alfaro.


"Kakak sudah datang," ucap Almira seraya berusaha melihat seseorang yang berada di belakang punggung sang kakak.


"Al itu siapa?" tanya Mama yang masih terdengar lemah.


Perlahan Alfaro menyingkir dari sana. Membiarkan Mama dan Almira melihat sendiri siapa yang ia bawa. Satu detik kemudian rasa penasaran itu terjawab sudah. Mama dan Almira sampai tak berkedip melihat sosok wanita yang saat ini sedang diam tertunduk seraya menggenggam tangan dua anak batita itu dengan erat.


"A-arumi," lirih Mama.


Mendengar suara itu kembali menyebut namanya, Arumi langsung berbalik hendak pergi. Tapi Alfaro langsung mencegahnya. Ia menggendong Vino dan merangkul pundak Arumi, sementara Viona masih di gandeng oleh Arumi. Dengan langkah pasti, Alfaro membawa anak dan istrinya memdekati Mama yang masih diam terpaku di atas ranjang rumah sakit.


"Ma, aku datang bersama istriku ... dan mereka adalah anak-anak ku. Anak yang di kandung Arumi saat di usir dari Mansion," ujar Alfaro dengan lugas.


Mama memandangi kedua anak kembar yang begitu mirip dengan Alfaro. Tak ada yang membedakan dari mulai mata, hidung, garis wajah semuanya sama. Seketika itu juga Mama tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Arumi menegapkan kepalanya, menatap Mama yang kali ini memberikan reaksi berbeda.


"Arumi mendekatkan Nak," pinta Mama dengan tatapan sendunya.


Arumi menoleh kearah sang suami seolah meminta pendapat, apa yang harus ia lakukan setelah ini. Alfaro hanya tersenyum seraya mengangguk pelan. Dan akhirnya dengan langkah yang ragu-ragu, Arumi memdekati Mama. Saat Arumi sudah berada tepat di sampingnya. Mama langsung memeluk Arumi dengan tangis yang kian pecah.


"Arumi, maafkan semua kesalahan Mama ... Mama menyesal sekali atas apa yang telah Mama lakukan kepada kamu, Mama tidak menyangka kamu pergi dalam kondisi hamil," ucap Mama dengan tersedu-sedu.


Tangis Arumi akhirnya tak tertahankan juga. Terbukanya hati Mama merupakan hadiah yang tidak ia sangka-sangka. Bukan hanya Arumi, tapi Alfaro dan Almira juga tak bisa membendung rasa harunya. Karena hati Mama yang dulu sekeras baja, kini perlahan mencair dengan sendirinya, tanpa di paksa sedikitpun.


"Sudah Ma, jangan menangis ... Arumi sudah mengikhlaskan apa yang sudah berlalu," ucap Arumi.


Mama melepaskan pelukannya dan kembali menatap Arumi, "Terimakasih sayang, mulai sekarang Mama tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." Mama menepuk lembut pundak Arumi, lalu mengalihkan pandangan kepada dua anak kembar yang bersembunyi di belakang kaki panjang Daddy mereka.


"Cucu-cucu Oma, sini sayang," pinta Mama seraya mengulurkan tangannya.


Alfaro menggedong kedua anaknya, lalu melangkah berdiri di samping Arumi. Sepertinya kedua bocah itu belum terbiasa melihat wanita paru baya yang ada di hadapan mereka, hingga mereka terlihat masih malu-malu.


"Sini sayang, duduk di samping Oma," pinta Mama seraya menepuk sisi ranjang yang masih kosong. Dengan ragu-ragu Vino dan Viona mendekat. Langsung saja Mama mendaratkan ciuman di kening si kembar secara bergantian.

__ADS_1


"Cantik dan tampan sekali ponakan onty ... namanya siapa kak?" tanya Almira kepada Arumi.


"Vino dan Viona," jawabnya.


"Nama yang bagus, jangan lupa mulai sekarang tambahkan Wilson di belakang nama mereka," pinta Mama kepada Arumi dan Alfaro.


"Iya Ma," ucap Arumi dan Alfaro secara bersamaan.


Pertemuan kembali yang menguras air mata. Mama dengan segala penyesalannya kini telah mengakui anak dan menantunya. Tidak perlu tes DNA karena secara fisik, semua yang ada pada diri Vino dan Viona mewarisi dari Daddy-nya.


...***...


Hari menjelang malam. Bima baru saja sampai di Bandara. Ia mengecek ponselnya yang mati sejak tadi. Ternyata ada sebuah pesan yang di kirim langsung oleh Arumi. Yang mengatakan bahwa, Bima lebih baik kembali ke Mansion karena jam besuk sudah habis. Ya, Arumi tahu Bima sudah menjual Apartemennya di Jakarta sejak lama.


Dari pada harus menginap di hotel, akhirnya Arumi meminta agar Bima menginap di Mansion. Lagi pula di sana sudah ada Bi Ranti.


Sesampainya di depan halaman Bandara. Sudah ada seorang supir kediaman keluarga Wilson yang menunggu kedatangan Bima. Supir itu dengan sigap menghapiri Bima dan langsung mengambil alih koper.


"Silahkan masuk ke mobil Tuan," ucap Supir itu saat sudah meletakkan koper kedalam bagasi.


"Baik pak, terimakasih."


~


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Mansion karena jarak yang di tempuh cukup dua puluh menit saja. Pak supir memarkirkan mobil di depan teras. Di sana sudah ada Bi Ranti yang bersiap menyambut tamu kehormatan.


"Selamat datang Tuan," sapa Bi Ranti.


"Oh Bi Ranti ... Arumi sudah pulang ke sini juga?" tanya Bima.


"Belum Tuan, sepertinya malam nanti Tuan, karena Nyonya akan pulang juga Malam ini," ujar Bi Ranti.


"Oh begitu."


"Silahkan masuk Tuan." Bi Ranti dan Bima melangkah masuk kedalam Mansion. Saat akan naik kelantai atas di mana kamar yang sudah di persiapkan Bi Ranti sudah di siapkan. Tiba-tiba saja Bi Ranti dan Bima mencium bau gosong dari arah dapur.


"Bi bau apa ini ... seperti bau hangus," ucap Bima.

__ADS_1


"Astaga, Bibi lupa tadi lagi panasin sayur sop," ucap Bi Ranti seraya menepuk jidatnya.


"Kalau begitu langsung ke dapur saja Bi, aku akan naik sendiri keatas."


"Oh iya, baik Tuan ... kamarnya ada di sebelah kiri ya." ucap Bi Ranti lalu berlari menuju dapur.


Bima melangkahkan kakinya naik kelantai dua Mansion itu. Mansion yang terlihat mewah tapi suasananya kurang hangat seperti kediaman keluarganya di Malaysia. Ya, semenjak kepergian Arumi dan perubahan sikap Alfaro, Mansion itu seakan mati suri.


Sesampainya di atas Bima menjadi bingung sendiri. Di sebelah kiri ruangan ada dua kamar, Bi Ranti tidak menjelaskan kamar yang mana yang harus ia tempati. Akhirnya setelah berpikir sekian menit, Bima langsung melangkah menuju kamar yang berada di paling pojok.


Entah kebetulan atau bagaimana, bertepatan dengan Bima yang baru saja masuk kedalam kamar. Almira baru saja sampai ke lantai dua. Ia membulatkan matanya saat melihat seseorang yang memakai jaket hitam masuk kedalam kamarnya. Sontak ia langsung berpikir bahwa itu adalah maling. Karena beberapa hari ini tetangga sekitar sering kemalingan saat rumah sedang kosong.


"Dasar maling nekat, tidak tau apa aku sudah sabuk hitam karate," ucap Almira seraya menggeretakkan giginya.


Sesampainya Alfaro, Arumi dan kedua keponakannya. Almira memang langsung kembali ke kantor jadi ia tidak tahu kalau Bima akan datang ke Mansion. Dengan langkah cepat ia meraih handel pintu dan langsung membuka pintu kamar itu. Kamar yang masih nampak gelap karena sejak kemarin ia tinggal menginap di rumah sakit.


Dari kegelapan. Ia bisa melihat Bima yang ia sangka adalah maling sedang berdiri di depan lemarinya. Melihat hal itu Almira langsung melompat dan mengunci leher Bima dari belakang dengan legan kanannya.


"Wah dasar maling tidak tahu diri, kamu salah masuk kamar tau!"


"Hey, le-lepaskan aku susah bernafas ... kau sudah salah paham," ucap Bima dengan susah payah.


"Tidak akan, sudah maling tidak mau mengaku," ucap Almira masih dengan posisi yang sama.


Bima berusaha meraih tombol lampu yang ada tidak jauh darinya. Kakinya berusaha melangkah meski Almira tak juga melepaskan lengannya dari leher Bima. Dan setelah beberapa saat akhirnya Bima bisa menekan tombol lampu.


Tikkk.


Lampu kamar itu akhirnya menyala. Almira melepaskan lengannya dari leher Bima. Saat dari pantulan cermin lemari itu, ia bisa melihat wajah yang memang tidak asing. Pernah ia lihat beberapa kali empat tahun yang lalu.


Bima segera mengubah posisinya menghadap ke Almira. Wajah Bima terlihat benar-benar kesal. Saat Bima semakin maju, Almira malah semakin mundur kebelakang, hingga kakinya menabrak pinggir ranjang.


Kyaaakkk.


Teriak Almira saat mulai kehilangan keseimbangan, reflek ia meraih jaket yang Bima pakai sebagai pegangan. Karena posisi yang tidak siap, yang terjadi malah Bima ikut terjatuh, tepat di atas tubuh Almira, dengan bibir yang saling bertubrukan.


Wajah Almira tiba-tiba saja bersemu merah. Sementara Bima merasa tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Sensasi yang pertama kali ia rasakan sebagai seorang laki-laki yang tidak pernah berbuat neko-neko hanya demi kesenangan dunia. Begitu juga dengan Almira, sebagai seorang anak yang di kekang orang tua, setiap detik kehidupannya selalu di kendalikan Mama, ia tidak pernah merasakan bagaimana berpacaran apalagi ciuman pertama. Ya, itu adalah ciuman pertama Bima dan juga Almira.

__ADS_1


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2