Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.98 (Hari terakhir di kota London)


__ADS_3

Hari terakhir di London Inggris.


Alfaro dan Arumi sedang makan malam di sebuah restaurant mewah yang berada tepat di samping hotel tempat mereka menginap, sebagai penutup bulan madu selama kurang lebih satu minggu berada di luar negeri. Saat ini mereka sedang menikmati menu makan malam khas musim dingin yang sudah mereka pesan sebelumnya.


Ruangan tetap terasa hangat meski suhu di luar sana mencapai angka selebas derajat celcius. Denting piano dan gesekan biola membuat suasana semakin terasa romantis untuk setiap pasangan yang sedang makan malam di tempat itu, termasud Alfaro dan Arumi.


"Bagaimana, lezat?"


"Hm ... lumayan enak tapi tetap saja lebih enak masakan Bi Ranti."


"Tenang saja, besok kita akan pulang."


"Iya Mas, aku sudah sangat merindukan Vino dan Viona."


"Apa yang harus kita belikan untuk mereka, coklat di London sangat enak, mainan Avengers keluaran terbaru juga sepertinya bagus untuk Vino dan untuk Viona--"


"Mas jangan berlebihan, kemarin kan kita sudah membeli banyak sekali oleh-oleh, itu sudah lebih dari cukup."


"Ya baiklah, kalau Istri ku berkata seperti itu."


Arumi hanya tersenyum menanggapi sikap suaminya. Arumi dan Alfaro kembali terdiam, menikmati makan malam terakhir mereka di kota itu. Di tengah keheningan yang tercipta, tiba-tiba Arumi mengingat Sarah, ia berpikir sebelum pulang ia ingin pamit kepada Sarah dan suaminya.


"Mas, besok sebelum pulang kita mampir ke Apartement Mbak Sarah ya," ucap Arumi yang terlihat antusias.


"Untuk apa?" tanya Alfaro lalu meneguk minumannya yang ada di atas meja.


"Untuk pamit, sebelum kita kembali ke Indonesia," tutur Arumi.


"Kamu lupa, kemarin Hendry bilang kalau dia dan Sarah akan pergi untuk mengunjungi Ibu Hendry yang sedang sakit di kota Cardiff," jelas Alfaro.


"Oh iya, sayang sekali padahal aku sangat senang mengenal mereka," ucap Arumi dengan raut wajah sendunya, "Oh iya Mas, ternyata Mbak Sarah itu baik sekali ya."


"Kamu jauh lebih baik," ucap Alfaro yang tetap fokus ke piringnya.

__ADS_1


"Mbak Sarah juga cantik, pintar memasak, dan sangat keibuan," jelas Arumi lagi.


Alfaro menghentikan aktivitasnya, menegapkan kepala untuk melihat sang istri, "Kamu jauh lebih cantik, lebih pintar memasak dan juga lebih keibuan."


"Apaan sih Mas ... Mas Al sedang meledek ku ya?" tanya Arumi dengan wajah cemberutnya.


"Aku bicara fakta, karena dimata seorang suami, istri adalah wanita yang paling sempurna ... jadi percuma kamu memuji wanita lain, karena bagi ku kamu adalah wanita yang paling sempurna di dunia ini," ucap Alfaro lalu kembali melanjutkan makannya.


Arumi tersenyum-senyum sendiri mendengar ucapan sang suami. Ditatapnya wajah tampan blasteran itu dengan lekat. Kadang ia masih merasa semua hal yang ia lalui bersama Alfaro, hanyalah sebuah mimpi. Namun saat ia terbangun di pagi hari, saat ia berada di pelukan suaminya, Arumi baru sadar jika semuanya adalah kenyataan, Alfaro benar-benar kembali ke sisinya.


~


Setelah makan malam bersama, Arumi dan Alfaro melangkah keluar dari restaurant, lengkap dengan jaket tebal dan juga syal yang melilit di leher mereka masing-masing. Dengan bergandengan tangan, berjalan beriringan, melewati trotoar jalan yang di penuhi salju. Jalanan sudah nampak sepi, hanya ada mereka saja yang sedang berjalan disana.


"Satu minggu kita disini, rasanya aku kembali mendapatkan mimpiku saat masa sekolah dulu ... dulu aku bermimpi menikah dengan seorang pangeran yang mencintaiku, mengajakku berkeliling dunia dan juga melakukan banyak hal romantis bersama-sama," tutur Arumi lalu tersenyum-senyum sendiri jika mengingat mimpi-mimpi konyolnya saat SMA.


Alfaro menoleh kesamping dimana sang istri berada, "Pasca perceraian itu, meski aku terpuruk cukup dalam, aku masih berharap ada seorang wanita yang akan datang, merentangkan tangan untuk menyabutku dengan pelukan ... dan saat itu juga kamu datang. Kamu Memberi warna baru dalam hidup ku, memberi berbagai rasa di saat semua terasa hambar," tutur Alfaro lalu menghentikan langkahnya, mengubah posisi, hingga kini mereka saling berhadapan.


"Hah, berteriak ... maksudnya?"


Alfaro terseyum melihat ekspresi kebingungan sang istri, lalu mengubah posisi menghadap kedepan, "Aku sangat mencintai Arumi!!!!" Alfaro berteriak sangat kencang hingga menggema di keheningan malam.


"Mas kamu apa-apaan, bagaimana kalau ada yang mendengar dan merasa terganggu," tegur Arumi yang terlihat panik. Namun sang suami malah terlihat tidak perduli.


"Aku sangat sangat mencintai Arumi, sangat... sangat mencintainya!!!" teriak Alfaro lagi.


Klek.


Tiba-tiba sebuah pintu dari rumah warga sekitar yang berada tepat di tempat mereka berdiri, terbuka. Seorang pria tambun berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang.


"Are you crazy! (Apa kamu gila!)," seru pria itu seraya menunjuk Arumi dan Alfaro.


Alfaro meraih tangan sang istri lalu menariknya, mereka berlari meninggalkan tempat itu, seraya terus tertawa bahagia. Di tengah suhu dingin yang membelenggu, di tengah cahaya remang-remang lampu jalan, Alfaro dan Arumi baru saja menciptakan momen-momen indah untuk kesekian kalinya, untuk terakhir kalinya di bawah langit kota London, Inggris.

__ADS_1


...**...


Sekitar pukul delapan pagi, Alfaro dan Arumi sudah siap untuk berangkat ke bandara. Beberapa petugas hotel membawa koper-koper mereka turun kebawah. Koper yang tadinya hanya berjumlah dua sekarang bertambah menjadi lima.


Sesampainya di depan lobby hotel, sudah ada orang yang akan mengantarkan mereka ke Bandara. Orang itu adalah orang yang sama dengan yang menjemput mereka seminggu yang lalu.


Arumi masuk ke dalam mobil lalu di ikuti Alfaro yang duduk di sisi kirinya. Mobil itu melaju pergi meninggalkan halaman hotel, menuju Bandar Udara Heathrow. Bandara itu adalah bandara utama yang melayani Kota London, Britania Raya dan merupakan bandara tersibuk di negara tersebut.


~


Tak butuh waktu lama untuk sampai ke bandara karena jalan yang kemarin masih tertutup salju, sudah di bersihkan oleh petugas kebersihan, membuat perjalanan menjadi lancar.


Setelah selesai melakukan check-in di loket bandara, pemeriksaan bagasi untuk koper-koper mereka dan juga pemeriksaan pasport. Alfaro dan Arumi melangkah menuju pintu keberangkatan.


Namun langkah mereka terhenti saat dari kejauhan seorang bocah laki-laki berlari mengahampiri mereka. Bocah laki-laki itu adalah Nico, anak dari Sarah dan Hendry. Nico tidak sendiri, karena kedua orang tuanya juga ikut datang.


"Bukannya kalian pergi ke Cardiff," ucap Alfaro bingung saat melihat kedatangan Sarah dan keluarga.


"Karena badai salju yang sedang berlangsung disana, jadi kami batal berangkat," jelas Hendry.


"Aku ingat hari ini kalian akan pulang ke Indonesia, Nico ingin sekali bertemu kalian," sambung Sarah.


Nico melangkah mendekati Arumi dan Alfaro seraya mengulurkan tangan yang sedang mengengam sebuah paper bag, yang berisi hadiah untuk Arumi dan Alfaro, "Thank you very much, uncle and onty."


Arumi meraih paper bag itu dari tangan Nico, lalu mencium pucuk kepala bocah laki-laki yang semakin membuatnya merindukan Vino dan Viona.


Alfaro mengulurkan tangannya kepada Hendry dan juga Sarah untuk terakhir kalinya sebelum pulang ke tanah air. Hati Alfaro merasa lega setelah berdamai dengan masalalu. Baik ia ataupun Sarah, mereka sama-sama sudah menemukan kebahagiaan masing-masing.


Setelah Alfaro, sekarang giliran Arumi. Ia menjabat tangan Hendry lalu beralih memeluk Sarah. Status Mantan istri Alfaro yang di sandang Sarah, tidak membuat Arumi menyurutkan niatnya untuk menjalin tali silaturahmi, meski ia juga tidak tahu kapan mereka akan kembali bertemu.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote+hadiah juga boleh 🤭🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2