Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.55 ( Menjemput mu)


__ADS_3

"Kamu mandi dan bersiap-siap lah, kita akan pergi setelah Mama ku sadar," ucap Alfaro kepada Aril yang berdiri di sampingnya. Sementara Mama kini sedang terbaring di atas tempat tidur, di temani Almira yang duduk di sampingnya.


"Baik Tuan, tapi sebelum itu saya akan pergi ke basement untuk mengambil pakaian di dalam mobil saya," ujar Aril.


"Iya pergilah."


Aril beranjak pergi, meninggalkan kamar itu. Kini tinggallah Alfaro, Almira yang berada disana menunggu sampai Mama sadar dari pingsannya.


"Kenapa kakak tidak pernah pulang ke Mansion, lihatlah sekarang Mama mengira kakak dan seketaris Aril itu gay," ucap Almira.


"Itu urusan kakak, lagi pula kenapa kamu tidak pulang ke Amerika. Disini kamu juga tidak ada kegiatan," tutur Alfaro.


"Aku juga maunya seperti itu, tapi Mama ingin tetap disini dan tidak mau jika aku pulang sendiri ke sana ... aku jadi bingung, disini aku seperti orang bodoh dan tak berguna." Almira menghembuskan nafasnya perlahan, kemudian mendongakan kepala untuk melihat sang kakak sedang berdiri di sampingnya, "Kak, katakan sebenarnya kepada ku, pasti ada sesuatu yang kakak sembunyikan dariku dan Mama kan?"


Alfaro terdiam sesaat, memandangi sang Mama yang masih juga belum sadar. Melihat orang tua satu-satunya seperti ini, ia menjadi merasa bersalah, karena dari semua orang terdekatnya, Aril, Bi Ranti dan para pelayan di Mansion semuanya tahu jika Arumi adalah istrinya.


Sementara Mama dan adiknya sendiri seperti orang yang sedang di permainkan dalam drama yang ia buat sendiri. Andai, Andai saja Mama mempunyai sikap yang lebih lembut sebagai seorang ibu, Andai Mama tak mencampuri setiap inci kehidupannya, mungkin Alfaro akan lebih terbuka tentang kehidupannya.


Alfaro beralih memandangi sang adik, yang masih setia menunggu jawaban darinya mungkinkah ini akhirnya ia harus mengatakan semuanya kepada Almira. Tentang apa yang membuatnya betah berada di apartement itu, tentang bagaimana ia kembali jatuh cinta selain dengan Sarah.


"Sebenarnya ... Kakak dan--"


Ucapan Alfaro terpotong saat pandangan Almira beralih menatap Mama yang mulai mengerjap perlahan, menggerakkan tangan untuk memegangi kepalanya yang terasa begitu berat.


"Ma, Mama baik saja kan?" tanya Almira seraya membantu Mama duduk.


"Kepala Mama sakit sekali," ucap Mama.


"Mau aku antar ke rumah sakit?" tanya Alfaro.


Mama mendongak melihat sang putra yang kini berdiri di sampingnya, "Kamu dan dia sejak kapan kalian menjadi seperti ini?"


"Ma, itu tidak seperti yang Mama bayangkan, aku ini masih normal, Aril hanya menginap disini, semua yang Mama pikirkan itu tidak benar," jelas Alfaro.


"Iya Ma, Kak Al dan seketaris Aril tidak seperti yang Mama bayangkan," sahut Almira.

__ADS_1


"Be-benarkah ... Mama tidak akan jadi seperti ini jika kamu pulang ke Mansion, mencemaskan saja," ucap Mama kesal.


Krieekk.


Pintu kamar itu kembali terbuka. Aril sudah selesai mandi dan berpakaian rapi. Ia berjalan mengahampiri keluarga kecil yang saat ini sedang memandang kearahnya.


"Selamat pagi Nyonya," ucap Aril sopan.


"Apa benar kamu dan Al tidak ada hubungan yang menyimpang?" tanya Mama tiba-tiba.


"Ma, sudahlah," tegur Almira.


"Tentu saja Nyonya, saya dan Tuan masih normal, seratus persen normal," tegas Aril.


Mama hanya tersenyum kecil, lalu kembali memijat-mijat kepalanya yang terasa amat pusing.


"Kalau begitu, aku dan Aril akan berangkat ke kantor sekarang," ucap Alfaro kepada Mama, kemudian menoleh kepada Almira, "Kamu temani Mama disini, sampai Mama merasa lebih baik."


"Baik kak."


"Ya, baiklah."


Alfaro tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Mama. Walaupun sebenarnya ia ingin malam ini, bersama Arumi. Rindunya tak terbendung meski hanya satu malam tak bertemu.


Tak ingin membuang waktu, karena takut Arumi dan Dinda akan berangkat sebelum mereka datang. Alfaro dan Aril melangkah keluar dari dalam kamar itu.


...***...


Perjalanan menuju rumah Dinda, terpantau lancar. Seolah alam mendukung penuh Alfaro untuk segera menyelesaikan kesalahpahaman antara ia dan Arumi. Ponsel mahal yang saat ini sudah dalam genggaman seolah tak berguna, karena tak bisa membuat ia mendengar suara Arumi, tak bisa menggambarkan wajah wanita yang ia rindukan. Ya, Alfaro baru sadar jika ia tidak mempunyai foto sang istri.


"Tuan, kenapa tidak mengatakan langsung ke pada Nyonya jika Arumi adalah istri Anda, saya merasa di rugikan karena di curigai sebagai pria yang menyimpang," ujar Aril yang tetap fokus melihat kedepan.


"DI rugikan bagaimana? Kamu tidak tau saja apa yang akan Mama ku perbuat jika ia tau fakta itu sekarang. Tinggal sedikit lagi dan semua orang akan tau siapa istri ku, aku tidak mau hanya karena ingin menjelaskan kepada Mama, dan semua rencana ku menjadi berantakan," ucap Alfaro tanpa menoleh kepada Aril.


Aril kembali diam tanpa menimpali ucapan sang Bos. Ia semakin mengerti jika tidak semuanya bisa di katakan dengan mudah. Segurat senyum tiba-tiba saja menghiasi wajah Aril. Entah kenapa ia bersemangat sekali menantikan momen dimana sang Bos memperkenalkan Arumi kepada semua orang di pesta ulang tahun perusahaan akan di gelar dua hari dari sekarang.

__ADS_1


...***...


Arumi sudah siap sejak tadi untuk berangkat ke kantor setelah sarapan bersama dengan Dinda dan ibu. Untung saja ia dan Dinda mempunyai size pakain yang sama, jadi ia bisa meminjam pakaian sahabatnya itu. Disaat Arumi sudah siap, Dinda malah bolak-balik WC sejak tadi.


Dinda tidak sakit perut atau ingin buang air kecil. Tapi ia ingin mengulur-ngulur waktu, karena sejak tadi orang yang di tunggu-tunggu belum juga datang. Ia mencoba menghubungi Aril namun tak ada jawaban.


"Dinda ngapain sih di WC lama amat, Arumi nungguin tuh," ucap Ibu sambil menggedor-gedor pintu WC.


"Iya Bu, bentar!"


'Aduh, kenapa belum datang juga sih, aku capek ngulur-ulur waktu terus', batin Dinda.


Arumi sedang duduk termenung di kursi teras. Tak lama Ibu datang dan langsung menepuk pundak Arumi.


"Rumi, kok bengong?"


"Ti-tidak papa kok Bu ... Dinda mana?"


"Sebentar lagi katanya."


"Oh iya Bu."


Ibu beranjak duduk di samping Arumi. Dari arah depan ibu dan Arumi melihat sebuah mobil masuk kehalaman depan. Arumi langsung berdiri dari tempatnya, saat ia sadar jika mobil itu adalah mobil Alfaro.


"Siape tu?" Ibu juga ikut berdiri, memandangi mobil yang saat ini sudah terparkir.


Alfaro turun dari dalam mobil. Penampilannya sangat gagah sepeti biasa, badan proporsional, hidung mancung, wajah yang di hiasi sedikit bulu halus dengan mata coklat yang membius siapapun yang melihatnya. Tak lama Aril juga ikut turun dari mobil, melangkah tepat di belakang Alfaro.


Daun-daun kering beterbangan, semilir angin berhembus sepoi-sepoi, mengiringi Alfaro yang kini sedang berjalan ke arah sang istri. Arumi diam tertegun, melihat pesona sang suami yang selalu berhasil membiusnya meski dalam kondisi hati yang tidak baik-baik saja.


Sepertinya bukan hanya Arumi. Tapi ibu juga demikian. Ibu memandangi Alfaro yang kian mendekat dengan mulut terperanga. Ia seakan sedang melihat artis di drama turki yang sering di tontonnya.


"Astaga, cakep bener," ucap Ibu dengan mata yang tak berkedip sedikit pun.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍


__ADS_2