Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.17 (Menemani mu malam ini)


__ADS_3

Dengan di antar oleh seketaris Aril, Arumi pergi menuju apartement Alfaro. Baik Aril ataupun Arumi, mereka sama-sama berharap Alfaro ada di sana dalam keadaan baik-baik saja.


"Nona khawatir?" tanya Aril saat melihat ekspresi wajah Arumi.


"A-apa, bukan seperti itu aku hanya kasihan padanya," jawabnya terbata-bata.


"Oh begitu, Nona bisa membantu saya?" tanya Aril pada Arumi.


"Bantu? Bantu apa?" tanya Arumi.


"Tolong hibur Tuan Al, dia pasti sangat terpukul sekali, karena Nona Sarah akan menikah dengan selingkuhannya.


"Apa! Me-menikah, bukannya mereka baru saja bercerai, kenapa mantan istrinya sudah mau manikah lagi?" tanya Arumi bingung.


"Entahlah, yang pasti saya ingin Nona menemani Tuan Al malam ini di apartemennya, jangan pulang meski dia meminta," ujar Aril.


Kenapa, tidak Bi Ratih, seketaris Aril, mereka sama-sama meminta aku untuk menghibur Tuan Alfaro, aku harus seperti apa, yang aku tahu hanya melayaninya saja, batin Arumi.


"Nona, apa Nona bersedia?" tanya Aril.


"Ah apa ... iya baiklah."


Arumi menyederkan tubuhnya di sandaran kursi mobil. Ia menatap keluar jendela, melihat jalanan yang mulai ia kenali, sebentar lagi mereka akan sampai, semoga saja perkiraannya benar.


~


Mobil itu berhenti basement apartement, Arumi sudah turun dari mobil, sementara Aril masih diam di posisinya. Arumi, menundukkan badannya, melihat sekertaris Aril yang tidak ikut turun.


"Kenapa masih di dalam, ayo kita lihat Tuan Alfaro?"


"Nona saja, saya akan tunggu di sini, segera hubungi saya jika Tuan Alfaro berada di dalam sana," tutur Aril.


"Baiklah, jangan pergi, sebelum aku menelepon," ucap Arumi.


"Baik Nona."

__ADS_1


Arumi berbalik, melangkah masuk kedalam gedung apartement mewah itu. Entah kenapa ia ingin segera sampai di sana, untuk menemukan seseorang yang ia harapkan berada di sana. Setelah menaiki lift akhirnya ia sampai juga di lantai sepuluh gedung apartement itu.


Sesuai dengan arahan seketaris Aril dan juga kode pintu yang di berikan, Arumi menekan kode pintu yang sudah ia catat di telapak tangannya sebelum kemari.


Cklek.


Pintu itu terbuka, Arumi melangkah dengan perlahan, memasuki area dalam unit apartment yang tidak lagi asing baginya. ia tidak menggedarkan pandanganya, melihat dan mencari sosok pria yang ia harap berada di sana.


Setelah mencari ke setiap ruangan, akhirnya ia menemukan Alfaro. Alfaro sedang berdiri di balkon kamar dengan sebuah botol minuman keras yang tergenggam erat. penampilan Alfaro pun terlihat berantakan, kancing kemejanya sudah terlepas di bagian atas.


Sebelum mendekat, Arumi menelpon seketaris Aril dulu, untuk mengabarkan jika Alfaro benar-benar berada di sana.


"Hallo, Tuan Al berada disini." ucap Arumi pada Arik yang ada di sambungan telepon.


[Baiklah, kalau begitu saya akan pulang dulu, tolong Nona ingat pesan saya tadi]


"Iya saya tau."


Arumi segera memantikan panggilan telepon itu dan mulai berjalan mendekat. Arumi cukup takut sebenarnya, ia takut kalau saja Alfaro marah kepadanya.


Tubuh Alfaro terlihat sempoyongan, Alfaro menoleh kearah belakang. Dengan tatapan sayunya ia tersenyum saat melihat kedatangan Arumi.


"Hey sayang, kamu datang," ucap Alfaro lalu memeluk Arumi dengan sangat erat.


"Tuan, anda mabuk?" tanya Arumi saat mencium bau alkohol yang sangat menyengat.


Alfaro tidak menjawab, ia malah semakin mengeratkan pelukannya kepada Arumi.


"Aku sangat merindukan mu sayang, kenapa kamu mengkhianati ku, kenapa kamu pergi," ucap Alfaro dengan suara bergetar.


Arumi akhirnya mengerti, jika Alfaro memeluknya seerat ini. Ya, Alfaro sedang mabuk dan menyangka Arumi adalah Sarah. Arumi mengangkat tangannya, menepuk pundak Alfaro perlahan. Ia tidak boleh egois sekarang, sekertaris Aril benar, ia tidak boleh meninggalkan Alfaro di saat seperti ini.


Alfaro tiba-tiba saja melepaskan pelukannya, lalu melemparkan botol minuman keras itu hingga pecah berhamburan. Ia mencengkram kedua sisi pundak Arumi, menatap Arumi dengan penuh amarah dan kebencian.


"Kenapa kamu datang, kenapa kamu bisa datang kemari!" teriak Alfaro.

__ADS_1


Arumi cukup terkejut, tapi ia hanya diam, membiarkan Alfaro melampiaskan semuanya, mengeluarkan semua amarah yang menyesakkan dadanya.


"Apa tidak cukup, kamu meninggalkan ku, kenapa... kenapa kamu mengirim kembali cincin pernikahan kita, kenapa kamu memberitahu ku jika kamu akan menikah, kenapa! Aku sangat mencintaimu, aku bekerja keras demi masa depan kita, mimpi-mimpi yang ingin aku bangun bersama mu, sekarang sudah hancur!!!" Air matanya keluar begitu saja, rasa benci , sakit hati, rasa cinta dan pengkhianatan menjadi satu. Alfaro memaki Arumi, dan mengira jika itu benar-benar adalah Sarah.


Tanpa Arumi sadari, air matanya juga ikut keluar. Pria yang sekarang ada di hadapannya ini benar-benar berbeda dari apa yang ia sangka. Pria selalu bersikap dingin, angkuh dan sangat disiplin saat di kantor, ternyata hanyalah manusia biasa yang juga begitu rapuh.


Alfaro jatuh bersimpuh di hadapan Arumi. Ia menangis, tangisan Bu bahkan tidak pernah ia tunjukkan di depan orang tuanya, tangisan yang keluar karena rasa patah hati yang begitu hebatnya.


Arumi ikut memposisikan diri sejajar dengan Alfaro yang bersimpuh di hadapannya. Ia menepuk pundak Alfaro perlahan, membuat Alfaro mengangkat kepalanya, melihat Arumi yang saat ini berada di hadapannya.


"Tenanglah Tuan saya ada disini," ucap Arumi sambil menyeka air matanya.


Perlahan bayangan wajah Sarah hilang dari wajah Arumi, ia sudah sadar dari khayalannya, "A-arumi," ucapanya lirih.


Alfaro bangkit dari posisinya dan menjauh dari Arumi. Ia tiba-tiba saja menjadi bingung, kenapa ia bisa seperti ini, pandangannya pun kembali buram, padanganya berputar-putar, sampai akhirnya ia jatuh pingsan, akibat terlalu banyak mengkonsumsi Alkohol.


"Tuan!" pekik Arumi.


Arumi bergegas menghampiri Alfaro, meletakkan kepala Alfaro kedalam pangkuannya.


"Tuan... tuan..."


"Sepertinya dia pingsan karena terlalu banyak minum."


Dengan susah payah Arumi menyeret tubuh Alfaro masuk kedalam kamar. Ia beberapa kali berhenti, karena terasa lelah menyeret Tubuh Alfaro yang sangat berat untuk ukuran tubuhnya.


Pelahan namun pasti, ia berhasil membaringkan tubuh Alfaro di atas tempat tidur. Arumi duduk di tepi ranjang, mencoba mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


Pandangannya mengarah ke wajah tampan Alfaro yang saat ini sedang terlelap. Ia menyentuh wajah Alfaro, " Luka di hati anda pasti sangat dalam, sampai air mata itu bisa keluar dari mata seorang Alfaro Wilson, tidurlah Tuan, istirahatkan hati anda, saya akan menemani anda malam ini, sama seperti saat anda menemani saya saat sakit."


Arumi melepaskan sling bag yang ia pakai lalu ikut berbaring di samping Alfaro. Lama ia memandangi wajah Alfaro dalam diam, lalu perlahan mulai terlelap di atas ranjang, ranjang yang menjadi saksi bisu kejadian saat Alfaro merenggut kesucian Arumi beberapa bulan yang lalu.


Bersambung πŸ’“


Jangan lupa like+komen+vote ya readers.

__ADS_1


Agar author makin rajin updatenya β˜ΊοΈπŸ™


__ADS_2