
Pagi hari di Mansion. Rasanya begitu susah untuk Arumi menelan sarapannya. Ya, malam tadi ia dan Alfaro kembali ke Mansion, dan saat ini mereka sarapan bersama dengan Mama dan juga Almira. Meski sedang Marah tapi Mama tak akan pernah melewatkan sarapan di meja makan. Mulutnya terkunci rapat, pandangannya fokus ke piring tanpa menoleh kepada Arumi.
Dari bawah meja, Alfaro menggenggam tangan sang istri yang saat ini sedang duduk di sampingnya. Seakan memberikan kekuatan jika semua ini bisa terlewati, mungkin bukan sekarang, tapi nanti. Kapan waktunya tidak ada yang tahu karena hanya sang pemilik hati yang bisa menggerakkan setiap hati manusia.
~
Sarapan itu berlalu begitu saja, tanpa canda tawa sebagaimana keluarga biasanya. Arumi mengantarkan Alfaro sampai ke teras depan. Sementara ia sendiri, sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus kepada keluarga. Ia harap dengan kehadirannya di Mansion, sedikit demi sedikit pintu hati Mama terbuka.
"Aku berangkat dulu ya," ucap Alfaro kemudian mengecup singkat kening sang istri.
"Iya Mas, hati-hati," ucap Arumi.
Alfaro melangkah masuk kedalam mobil. Sebelum pergi ia membuka kaca mobil dan kembali melambaikan tangan dengan senyum yang tak henti-hentinya tergambar. Saat mobil milik suaminya sudah keluar dari balik pagar yang menjulang tinggi itu, Arumi berbalik masuk kedalam Mansion.
Langkah demi langkah ia tapaki hingga melewati ruang keluarga dimana adik iparnya dan Mama sedang duduk bersama. Melihat Arumi berada di sana. Almira melambaikan tangannya, memanggil sang kakak ipar.
"Kak Rumi, sini," panggil Almira sementara Mama tak bergeming sedikitpun, ia tetap fokus kepada koran yang ada di tangannya. Meski ragu, Arumi memberanikan diri untuk duduk di samping Almira, berhadapan dengan Mama.
"Sekarang aku akan memanggil mu Kak Rumi, bagaimana?" tanya Almira yang terlihat begitu senang.
"Terserah saja, aku tidak masalah," ucap Arumi.
Tiba-tiba saja Mama beranjak dari duduknya, melemparkan koran itu dengan kasar ke atas meja. Arumi dan Almira cukup terkejut dengan tindakan Mama.
"Kamu bisa bebas duduk di manapun setelah Saya dan Almira berangkat ke Amerika. Tapi jika Saya masih disini, jangan sok dekat dan sok akrab," tegas Mama.
"Ma, aku yang memanggil Kak Rumi duduk disini!" ucap Almira dengan nada suara yang lebih tinggi dari biasanya. Ya, mungkin ia mulai merasa sikap Mama sudah semakin di luar batas.
"Kamu dan kakak mu sama saja." Mama melenggang pergi meninggalkan ruangan itu.
Almira berbalik menatap Arumi yang mencoba tetap tersenyum kepadanya.
"Maafkan Mama Kak, aku akan mencoba bicara dengan Mama nanti," ucap Almira mencoba menenangkan Arumi.
__ADS_1
"Terimakasih Mira."
...***...
Gedung utama WB grup.
Alfaro sedang sibuk di belakang meja kerja dengan berkas-berkas yang menumpuk. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan ternyata Aril orangnya. Aril masuk dengan membawa sebuah map. Ia berjalan menghapiri Alfaro yang sepertinya tidak menyadari kedatangannya.
Saat sampai di hadapan sang Bos ia meletakkan map itu di atas meja. Akhirnya Alfaro menyadari jika Aril ada di hadapannya sekarang.
"Apa itu?" tanya Alfaro dengan mata yang mengarah ke map coklat di atas meja.
"Pagi tadi ketua tim bagian perencanaan menerima surat pengunduran diri Bima, sepertinya dia tidak bisa lagi bekerja di sini setelah mengetahui fakta jika Nona Arumi adalah istri Anda."
Alfaro menghentikan aktivitasnya dan meraih map itu. Ia mengeluarkan isinya. Alfaro menyunggingkan senyum saat melihat nama belakang Bima yang jelas-jelas menggunakan nama besar keluarga Hartanto. Bagiamana ia tidak bisa mengenali Bima, bahkan setelah satu tahun bekerja di perusahaan.
"Aku akan menemuinya nanti," ucap Alfaro seraya melihat nomor ponsel Bima yang tertera di kertas itu.
"Menemuinya? Untuk apa?" tanya Aril penasaran.
"Hah, ti-tidak Tuan, anda bukanlah lawan yang bisa dikalahkan."
"Baguslah ... oh iya, besok kamu berangkat keluar kota untuk mengecek proyek kita disana," ujar Alfaro.
"Saya, sendiri?" tanya Aril memastikan.
"Aku tidak bisa ikut karena terlalu banyak perkejaaan yang tertinggal, kamu ajak saja Dinda, jika sendiri pasti akan sangat repot," ujar Alfaro yang kembali fokus ke laptopnya.
"Huh, baiklah tidak ada pilihan lain lagi ... kalau begitu saya permisi." Aril berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu.
Saat berada di luar, ia memandang kearah Dinda yang sedang sibuk membuat laporan. Ia melangkah duduk di hadapan Dinda. Meski sebenarnya Aril belum bisa melupakan masalah belahan yang membuat Dinda sejak tadi hanya diam tanpa menyapanya.
"Mulai hari ini bersiap-siap lah, karena besok kita akan keluar kota," ucap Aril.
__ADS_1
Dinda mengangkat kepalanya, menatap Aril yang ada di depan mata, "Keluar kota ... untuk apa?" Akhirnya Dinda bicara juga, setelah diam sejak pagi.
"Tuan Alfaro, meminta kita mengecek proyek yang ada disana," jawabnya.
"Benarkah, dimana?"tanya Dinda yang mulai terlihat antusias karena ia belum pernah dan ingin sekali naik pesawat.
"Bali, tepatnya di daerah Denpasar," jelas Aril.
"Wah, akhirnya aku bisa naik pesawat. Apa yang harus aku bawa ya, apa cuaca disana panas, apa aku perlu membeli bikini seperti bule-bule disana, aku tidak punya koper bagaimana ini." Aril hanya bisa memijat-mijat keningnya, saat mendengar celotehan Dinda.
...***...
Menjelang petang, di sebuah cafe ternama di pusat kota. Alfaro dan Bima duduk berhadapan. Tenggelam dalam pikiran mereka sendiri. Secangkir kopi ekspreso kini ada di hadapan Alfaro sementara Bima lebih memilih Es cappucino, untuk menyegarkan tubuh yang mendadak panas karena pria di hadapannya.
"Untuk apa Anda mengajak saya bertemu?" tanya Bima pada akhirnya.
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tau kenapa kamu berhenti dari pekerjaan yang sangat kamu cintai sebagai jalan untuk mandiri," ujar Alfaro kemudian kembali menyeruput kopinya.
Bima menundukkan pandangan, dengan senyum menyeringai yang tergambar di wajahnya. Ia merasa Alfaro sedang menguji dengan pertanyaan yang jelas-jelas sudah di ketahui jawabannya.
"Arumi, dialah alasan saya untuk pergi. Saya mengaku kalah. Apa anda puas?"
"Kamu masih muda, masih banyak waktu untuk mencari wanita yang lebih baik darinya. Aku tidak melarang istri ku berteman dengan siapapun termasuk kamu, tapi aku mau kamu mulai belajar melupakan dan menghapus perasaan untuknya," ucap Alfaro penuh penekanan.
Tangan Bima terkepal erat. Semua fakta itu memang benar adanya tapi apa salah jika ia mencintai Arumi. Semua rasa itu timbul dengan sendirinya, kenapa seolah ia yang paling di sudutkan. Alfaro berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah pergi. Namun langkahnya tiba-tiba tertahan saat Bima kembali bersuara.
"Andai saja suatu hari nanti," ucap Bima yang membuat Alfaro kembali menoleh kepadanya, "Mungkin itu besok, lusa, tahun depan atau kapanpun ... Anda membuat dia menangis dan menyakiti hatinya, saya adalah orang pertama yang akan merebutnya dari Anda," lanjut Bima.
Alfaro menatap tajam kearah Bima dengan tangan yang sudah terkepal erat. Ucapan Bima itu terdengar sebagai sebuah ancaman yang meragukan kebahagiaan yang akan ia berikan kepada Arumi. Baru kali ini ada seorang pria yang berani menjadi pesaingnya, meski jelas ia sudah lebih unggul.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1
Terimakasih atas dukungan yang sudah di berikan, novel ini dan author sendiri bukan apa-apa tanpa dukungan dari para readers tercinta. 🤗😭