Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.106 (Tanda kemerahan)


__ADS_3

Almira mengerjapkan matanya, saat bunyi ponsel terdengar nyaring di atas meja lampu tidurnya. Perlahan ia bangkit, dilihatnya jam yang di dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Ia mengulurkan tangan, meraih ponsel di atas meja.


Rasanya ia tak percaya, saat melihat layar ponsel, ternyata itu panggilan telpon dari Bima. Ia sampai mengucek-ngucek matanya hingga berkali-kali, hingga akhirnya memutuskan untuk mengangkat panggilan telepon itu.


"Hallo?"


[Kamu sudah tidur?]


"Ya tadinya aku sedang tidur."


[Maaf karena aku baru bisa menghubungi mu sekarang.]


"Tidak apa-apa, aku sedang membiasakan diri dengan situasi seperti ini." Almira duduk seraya bersandar di kepala ranjang.


Mendengar suara Bima di tengah hati yang gundah, benar-benar membuat Almira tak bisa membendung perasaannya. Meski jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Rasa sedih dan senang bercampur menjadi satu.


[Apa kamu merindukan ku?]


Almira tak bisa membendung air matanya, ia menangis tanpa suara. Ya, ia sangat rindu, ingin rasanya ia beteriak jika ia ingin Bima untuk kembali ke pelukannya sekarang juga, namun ia kembali menurunkan ego demi janji yang sudah ia pegang untuk selalu menunggu.


"Ya, sedikit."


Suasana kembali hening sesaat. Karena Bima yang tak bicara untuk menimpali ucapan Almira. Meski Almira berusaha menutupi kesedihannya, namun Bima dengan jelas bisa mendengar ucapan Almira yang terdengar bergetar karena menahan tangis.


[Mira ... apa kamu menyesal menerima perasaan ku?]


Almira tertegun sesaat, menyesal? Apa akhirnya dia menyesal, "Tidak, aku tidak menyesal ... saat bersama mu, aku suka setiap momennya ... banyak hal yang belum pernah aku lakukan, dan bersamamu aku bisa melakukannya dan juga ... aku sangat berterimakasih karena kamu sudah menyukaiku, aku memang sedang menunggu seorang pria yang menyatakan cinta padaku ... tapi kalau boleh jujur aku merasa kehilangan kamu yang tiba-tiba saja harus kembali pulang."


[Maaf, beginilah diriku yang sesungguhnya ... ada begitu banyak hal yang harus aku selesaikan hingga aku harus jauh darimu.]


"Tidak apa, aku mengerti," ucap Almira seraya berusaha menahan air matanya, "Aku sudah sangat mengantuk, jika besok kamu ada waktu ... aku harap kamu bisa membalas pesan ku."


[Baiklah kalau begitu, selamat tidur, aku mencintaimu.]

__ADS_1


Almira mematikan panggilan telepon itu. Dan langsung menumpahkan semua kesedihannya yang sempat tertahan. Ia berbaring, meringkuk di atas tempat tidur itu sendiri, baru kali ini ia jatuh cinta, dan nyatanya hubungan jarak jauh itu tidaklah mudah.


Sama-sama sibuk dengan pekerjaan, sama-sama mempunyai visi dan misi sendiri belum tercapai, membuat keduanya harus rela di pisahkan jarak dan waktu, mungkin ini baru awalnya saja karena dia belum terbiasa dan mungkin nanti ia akan terbiasa. Tetap menunggu sampai waktu yang di janjikan oleh takdir tiba.


...***...


Arumi baru saja terbangun dari tidurnya, sekitar pukul lima dini hari, ia diam terpaku di depan kaca besar yang ada di kamar mandi. Seluruh tubuhnya di penuhi tanda merah dari leher hingga kebagian dada. Ia mengumpat sendiri, karena ia tahu ini adalah perbuatan suaminya.


Untung saja Vino dan Viona belum bangun. Kalau sampai anak-anaknya melihat semua yang ada di tubuh Mommy mereka, entah bagaimana cara Arumi untuk menjelaskan. Tak ingin menunggu lama, Arumi segera mandi agar bisa segera mencari pakaian yang bisa menutup semua tanda kemerahan itu.


~


Setelah selesai Mandi, Arumi keluar dari kamar mandi. Ia bisa bernafas lega karena kedua anaknya belum bangun. Begitu juga dengan suaminya yang masih terlelap karena kelelahan akibat aktivitas malam yang menguras tenaga. Dengan perlahan ia melangkah dan langsung masuk ke Walk in closet.


Arumi membuka lemari besar yang ada di hadapannya. Ini bukan pertama kalinya ia mendapatkan tanda seperti ini dari suaminya, untuk itu ia memang membeli beberapa pakaian dengan kerah tinggi untuk menutupi bagian lehernya.


"Huh untung saja masih ada, empat tahun aku pergi dan tidak ada yang berubah dari isi lemari ini," ucap Arumi kemudian segera mengambil baju itu untuk ia pakai.


~


"Astaga," ucap Arumi yang merasa kaget saat hampir saja menabrak tubuh Alfaro yang sedang berdiri di depan pintu walk in closet.


Alfaro menatap Arumi dari ujung kaki hingga ujung kepala, "Kamu mau kemana?" tanyanya saat melihat Arumi sudah rapi sepagi ini.


"Mas benar-benar tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu," ucap Arumi kemudian membuka sedikit kerah bajunya, "Lihat ini, seluruh tubuh ku penuh dengan tanda seperti ini," ucap Arumi dengan nada rendah tapi wajahnya terlihat kesal.


Alfaro berusaha menahan tawanya, "Salah sendiri, berpakaian seksi di hadapan ku ... tapi aku suka, mulai besok malam setelah anak-anak tidur, aku mau kamu memakainya lagi."


"Ehm, aku tidak bermaksud menggoda, tapi kalau Mas tergoda, aku bisa apa."


"Wah, apa yang sudah terjadi selama kamu menghilang, kamu semakin pintar bicara sekarang."


"Emm, mungkin karena aku bekerja sebagai sales marketing, hehe."

__ADS_1


"Mommy...Daddy!" teriak Viona yang akhirnya membuat Vino juga terbangun.


Dengan cepat Arumi dan Alfaro menghapiri kedua anak mereka. Namun sepertinya Vino dan Viona malah lebih fokus dengan Mommy mereka yang sudah sangat rapi hari ini.


"Mommy mau pelgi ya?" tanya Viona.


"Ino ikut Mommy!" seru Vino sambil berloncat-loncat di atas tempat tidur.


"Tidak Mommy tidak mau kemana-mana," jelas Arumi.


"Siapa bilang, hari ini kita memang akan pergi," sahut Alfaro.


"Asikk, jalan-jalan lagi," ucap Vino dan Viona berloncat kegirangan di atas tempat tidur.


"Pergi kemana Mas, bukannya hari ini kamu ke kantor?" tanya Arumi.


"Hari ini aku hanya ada rapat di luar, siang nanti aku akan menjemputmu dan anak-anak ... kita akan pergi kesuatu tempat, sesampainya di sana kamu akan tahu," ujar Alfaro, kemudian mencubit pipi istrinya sebentar dan langsung melangkah menuju kamar mandi.


Arumi hanya bisa menatap kepergian suaminya dengan perasaan bingung sekaligus penasaran. Kemana sebenarnya suaminya akan mengajak ia dan anak-anak pergi, karena ini bukanlah akhir pekan. Yang pasti Arumi begitu yakin Alfaro akan mengajakmu ketempat yang pasti sangat penting.


"Mommy, kenapa bengong," ucap Vino seraya menepuk pipi Arumi.


"Oh tidak apa-apa sayang, ayo kita turun kebawah ... karena Vino dan Viona sudah sembuh, hari ini kita berenang."


"Asikkk, ayo mommy kebawah Yona mau belenang," ucap Viona seraya tersenyum menarik tangan Arumi.


"Iya Mommy, Ino iga mau belenang."


"Iya sayang, tapi sebelum itu kita ganti pakaian renang dulu ya."


Arumi menggandeng kedua anaknya menuju walk in closet, untuk berganti pakaian renang yang ia belikan untuk kedua anaknya di London. Vino dan Viona terlihat sangat senang karena Mommy mereka akhirnya memperbolehkan untuk berenang.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊


__ADS_2