Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.76 (Pengakuan Arumi)


__ADS_3

Sekitar dua jam ia berada di kamar Vino dan Viona. Sampai akhirnya kedua bocah itu tertidur juga. Alfaro turun dari atas tempat tidur, menyelimuti tubuh kecil kedua anaknya hingga sebatas dada, barulah ia keluar dari kamar itu. Alfaro melangkah mendekati Arumi dan Bi Ranti yang sedang duduk di kursi ruang tamu.


"Mereka sudah tidur?" tanya Arumi.


"Iya baru saja ... Rumi, apa kita bisa bicara," pinta Alfaro, membuat Bi Ranti menyadari bahwa ia tidak seharusnya berada di antara kedua majikannya itu.


"Ehm, kalau begitu saya akan menemani anak-anak di kamar, permisi Tuan, Nona." Dengan langkah cepat Bi Ranti meninggalkan tempat itu.


Sekarang tinggalah Arumi dan Alfaro yang berada di ruangan itu. Suasana kembali hening, saat rasa canggung kembali mendominasi. Perlahan Alfaro bergerak mendekat hingga jarak keduanya hanya tersisa setengah meter saja.


Dengan satu gerakan, tangan Alfaro menelusup ke bagian leher Arumi dan menarik paksa sebuah kalung dimana cincin pernikahan yang dikatakan Arumi sudah ia buang di lautan, tersembunyi dibalik baju yang menutupi bagian lehernya


Triiingg.


Cincin itu terjatuh kelantai. Arumi segera memungut cincin itu dan menggenggamnya dengan erat.


"Apa kau gila, kenapa memutuskan kalung orang lain!" seru Arumi yang semakin terlihat panik.


"Apa-apaan ini semua," ucap Alfaro lalu kembali melangkah medekati Arumi yang menjauh darinya, "Itu cincin pernikahan kita kan?"


"Bukan," jawabnya lugas seraya menggeleng perlahan.


"Kamu bilang sudah membuang cincin pernikahan kita, lalu apa yang ditangan mu sekarang?"


Arumi terdiam sesaat. Selama empat tahun terakhir, cincin itu tetap ia pakai meski tidak lagi melingkar di jari manisnya. Ia mengatakan kepada Alfaro bahwa cincin itu sudah ia buang bersama dengan kenangan mereka. Tapi sekarang Alfaro sudah tau semuanya.

__ADS_1


"Aku bilang bukan," ucap Arumi yang terus saja menyangkal.


"Sudah pasti benar ... berikan biar ku pastikan," pinta Alfaro.


"Kamu jangan memaksa," ucap Arumi yang kembali memundurkan langkahnya.


Dengan gerakan cepat Alfaro melangkah, meraih tangan Arumi dan merebut paksa cincin itu di telapak tangannya. Alfaro cukup kaget saat melihat cincin itu benar cincin pernikahan mereka. Ia menggenggam cincin itu kemudian kembali mengangkat kepalanya untuk melihat Arumi.


"Benar, ini adalah cincin pernikahan kita," lirih Alfaro.


"Berikan, itu milikku." Arumi mencoba melepaskan cincinnya dari genggaman Alfaro namun tentu saja ia kalah tenaga.


Alfaro mendorong tubuh Arumi hingga bersandar di tembok. Ia mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangan yang menempel di dinding. Tatapan mereka begitu dekat, deru nafas yang begitu lekat hingga harum tubuh yang mengusik indra penciuman yang membuat sekujur tubuh meremmang.


"Aku sudah tau segalanya ... ada apa dengan dirimu, katakan bagaimana perasaan mu yang sebenarnya, katakan padaku!" ucap Alfaro lagi yang mulai terlihat emosional.


Arumi memberanikan diri menatap mata Alfaro yang sudah memerah karena menahan gejolak di dada, " Apa tidak bisa kamu lupakan ini semua, aku tidak mau kembali ke masa kelam itu lagi! ... Aku tidak mau kembali berhadapan dengan Mama yang membenci menantunya sendiri!"


Arumi masih belum bisa melupakan bagaimana ia di perlakukan. Saat seharusnya seorang mertua menyayangi menantu sebagimana anak sendiri tapi Mama malah bersikap sebaliknya. Hal itu yang membuat Arumi tak mau kembali ke kehidupannya yang dulu, apalagi sekarang ada Vino dan viona yang harus ia lindungi.


"Jadi ... kamu lebih suka hidup dengan nama palsu di tempat yang asing ini? Bagaimana dengan anak-anak kita, mereka berhak menikmati masa kecil dengan kedua orang tua yang lengkap." Alfaro sudah tidak bisa lagi menahan dirinya, saat Arumi masih saja kekeh pada pendiriannya.


"Pergi dari sini aku mohon," ucap Arumi yang mulai terlihat goyah karena terus di desak oleh Alfaro.


"Kamu pikir hanya kamu saja yang kecewa dengan sikap Mama ... aku juga sama, tapi apa masuk akal hanya karena itu hubungan kita harus benar-benar berakhir, dimana janji kamu untuk tidak pergi dan menghilang!"

__ADS_1


"Tidak bisakah kita akhiri saja semua ini," ucap Arumi dengan kepala tertunduk.


"Kau serius?" Alfaro meraih dagu Arumi dengan tangan, agar Arumi kembali menatap matanya, "Pasti tidak ... kau pasti tidak serius kan?" Arumi tetap tak bergeming diam seribu bahasa.


"Ya! Arumi, lihat aku ... saat kamu memutuskan untuk tetap menyimpan cincin itu, apa yang kamu pikirkan? ... pasti kamu memikirkan aku kan, ayo jawab!"


Arumi tak lagi bisa menahan perasaannya karena terus di desak oleh Alfaro. Ia sangat merindukan sang suami, belaiannnya dan semua yang ada pada diri suaminya, tak bisa ia pungkiri selama ini ia kesepian tanpa kehangatan. Ingin menyimpan semuanya dalam hati tapi jika terus seperti ini, siapa yang bisa tahan.


"Iya, iya, iya!! Aku memikirkan mu karena aku masih mencintaimu bahkan sampai saat ini perasaan itu masih sama, aku tersiksa karena rindu tapi aku berpura-pura kuat di hadapan semua orang," ucap Arumi pada akhirnya.


Tanpa menunda waktu, Alfaro meraih tengkuk leher Arumi lalu mendaratkan ciuman di bibir yang masih terasa begitu hangat. saling ******* hingga ciuman itu kian menuntut dan begitu dalam. Tanpa sadar kini Arumi telah mengalungkan kedua tangannya di leher Alfaro.


Lidah yang saling melilit, hingga suara decapan terdengar lirih. Hasrat Alfaro kian membuncah saat eluhan kecil terdengar dari mulut sang istri saat ia mengigit bibir merah muda itu. Ciuman itu terhenti sejenak, memberi ruang untuk mereka sekedar mengambil nafas.


"Aku sangat merindukan mu, semua yang ada pada dirimu," bisik Alfaro di telinga Arumi.


Arumi diam tak bergeming, tangannya seakan tak ingin lepas, tetap mengalung indah di leher suaminya. Tanpa pikir panjang Alfaro kembali melanjutkan aktivitasnya, menyatukan bibir mereka kembali, ciuman itu kian dalam dan bergairah, hingga tubuh mereka melekat tanpa jarak.


Malam itu menjadi malam yang hangat untuk sepasang suami istri yang tengah melepas rindu. Meski tidak sampai melakukan aktivitas panas di atas ranjang, tapi sudah sampai di tahap ini saja sudah cukup untuk membuktikan jika cinta itu masih kuat, sekokoh apapun dinding pertahanan diri Arumi, akhirnya roboh juga. Karena kata hati selalu mampu mengubah segalanya.


Bersambung 💓


Terimakasih atas dukungannya, btw author udah baikan berkat doa dan semangat dari para reader, yang selalu setia mendukung author 😭😭😭


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2