Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.109 (Wawancara eksklusif)


__ADS_3

"Tuan yakin akan menerima wawancara eksklusif itu," ucap Aril yang masih tak percaya karena setahunya sang bos menutup diri dari awak media, setelah perceraiannya dengan Sarah beberapa tahun yang lalu.


"Ya aku yakin, tidak ada salahnya kan ini semua juga demi perusahaan kita agar semakin berkembang."


"Wah, ternyata saya tidak salah dengar ... tapi bagaimana jika mereka mempertanyakan hal di luar bisnis, misalnya kehidupan pribadi Tuan."


"Tidak masalah. Itu juga salah satu alasan ku menerima tawaran ini, beberapa tahun ini aku terlalu tertutup dengan awak media, hingga banyak berita simpang siur yang merugikan diriku sendiri dan perusahaan, aku ingin meluruskan semua berita tidak benar itu."


"Baiklah Tuan, orang-orang dari stasiun TV akan datang siang ini, mungkin ruangan kerja Tuan akan berubah menjadi lokasi syuting dadakan, apa tidak masalah?"


"Kamu tetap disini untuk mengatur semuanya, aku harus keruangan rapat sekarang, pastikan saat aku selesai rapat, orang-orang dari stasiun televisi itu sudah datang."


"Baik Tuan."


Alfaro beranjak dari tempat duduknya, mengambil beberapa berkas dan melangkah keluar dari dalam ruangan. Aril menghela nafas panjang tapi kemudian ia tersenyum, karena pada akhirnya sang bos sudah kembali lagi ke jati dirinya yang dulu.


Dulu sekali Sarah adalah seorang disaigner terkenal. Pernikahannya dan Alfaro benar-benar menggemparkan dunia maya begitu juga perceraian mereka yang membuat orang-orang penasaran apa penyebab perceraian itu. Namun dengan alasan privasi, Alfaro menutup diri dari awak media hingga akhirnya berita itu tenggelam dengan sendirinya.


Setelah empat tahun berlalu, kenapa tiba-tiba saja Alfaro ingin muncul di hadapan awak media. Itu sama saja dengan membuka kembali pertanyaan banyak orang tentang masalalunya. Entah bagaimana respon Alfaro saat pertanyaan itu di ajukan nanti. Dan juga pertanyaan tentang gadis misterius yang ia umumkan sebagai istrinya di ulang tahun perusahaan empat tahun yang lalu.


Tak lama setelah kepegian Alfaro, Dinda masuk kedalam ruangan itu karena ia heran melihat Alfaro yang pergi keruang rapat tanpa di dampingi Aril. Ia melangkah mendekati Aril yang masih duduk tertegun di depan meja kerja Bos-nya. Dengan perlahan Dinda melangkah medekat untuk mengejutkan Aril.


Duaaarr.


Seketika Aril terperanjat kaget karena ulah kekasihnya itu, "Huh kamu mengagetkan saja."


"Hehe maaf, tapi kenapa kamu masih disini ... bukannya kamu bilang akan keruangan rapat bersama Tuan Al?" tanya Dinda yang saat ini berdiri disamping Aril.


"Sepertinya siang ini kita batal ke restaurant seafood yang kamu bilang itu," ujar Aril dengan nada datar seraya menatap Dinda.


Dinda mengeryitkan keningnya heran, "Kenapa? Kamu sudah janji, akan membawa aku kesana ... apa ada tugas dadakan?"


"Masalah wawancara ekslusif yang kita bicarakan kemarin ... Tuan Al menyetujuinya."


"Apa! Kamu serius?"

__ADS_1


"Hm, aku serius."


"Tapi kenapa tiba-tiba? Aku pikir Tuan Al itu sangat tertutup dengan kehidupan pribadinya."


"Kita lihat saja nanti, sepertinya Tuan Al akan membuat kejutan."


...***...


Menjelang sore, sekitar pukul tiga. Alfaro kembali ke ruangannya. Di depan pintu ruangan sudah banyak karyawan yang berdesak-desakan karena ingin melihat lebih dekat, ruangan bos mereka yang tiba-tiba saja menjadi lokasi syuting sebuah wawancara eksklusif dari salah satu stasiun televisi ternama.


Saat menyadari kedatangan Alfaro, petugas keamanan yang berjaga, membuka jalan agar Alfaro bisa masuk kedalam. Bertepatan dengan Alfaro yang sudah masuk, pintu ruangan itu langsung di tutup, membuat orang-orang yang masih penasaran menjadi kecewa.


"Kami mau lihat apa tidak boleh?" tanya salah seorang staf perempuan.


"Kalau mau lihat, lihat di televisi saja karena ini wawancara eksklusif," tegas petugas keamanan itu.


"Di siarkan secara langsung?"


"Iya, jadi silakan pergi keruangan masing-masing saja."


Aril bersama seorang wanita berkacamata menghapiri Alfaro saat melihat Alfaro muncul dari balik pintu. Alfaro menggedarkan pandangannya ke sekeliling ruang kerja yang saat ini di penuhi beberapa orang dan barang-barang seperti lampu sorot dan juga kamera.


"Selamat sore Tuan, saya Eva dari stasiun televisi X, sebelum wawancara dimulai Tim wodrobe kami akan membantu anda untuk bersiap-siap."


"Bersiap-siap? Tapi saya sudah siap."


Aril mengehela nafas berat, kemudian mendekati sang Bos untuk membisikkan sesuatu, "Tuan harus berganti pakaian dan di make up sedikit, agar tampilan Tuan semakin sempurna saat wawancara nanti," bisik Aril.


"Oh begitu, baiklah."


"Silahkan ikut saya Tuan."


Alfaro melangkah mengikuti wanita itu menuju ruangan istirahatnya yang saat ini sudah beralih fungsi menjadi ruangan wadrobe. Setelah sekian tahun ruangan yang tidak pernah tejamah oleh para pencari berita, kini akhirnya terbuka demi meluruskan berita-berita yang simpang siur beberapa tahun ini.


Tentang masalah perceraiannya dan tentang sosok wanita yang dulu sempat menghebohkan di pesta ulang tahun perusahaan. Meski Alfaro sudah mengatakan jika Arumi adalah istrinya tapi setelah peristiwa menghilangnya Arumi, awak media seolah kehilangan arah, hingga akhirnya muncullah berita-berita bohong tentang gadis misterius di pesta ulangtahun perusahaannya masa itu.

__ADS_1


Setelah itu juga Alfaro cukup terpuruk dan kembali menutup diri. Hingga media cetak sempat memuat berita jika Alfaro adalah seorang pebisnis sukses dengan misteri kehidupan asmara yang belum pernah terungkap hingga saat ini.


Di dalam ruangan itu, Alfaro sedang duduk dengan seseorang yang sedang menata rambutnya dan wanita berkacamata itu duduk di sampingnya seraya membacakan beberapa pertanyaan yang akan di ajukan pembawa acara nanti, siapa tau saja ada pertanyaan yang tidak Alfaro setujui.


"Apa saya boleh minta bantuan anda," ucap Alfaro pada wanita itu.


"Tentu Tuan, kalau boleh tahu apa yang Tuan inginkan."


Alfaro mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, "Tolong tampilkan foto-foto ini saat wawancara nanti," ucap Alfaro seraya menyerahkan ponselnya ke wanita itu.


Wanita itu membulatkan mata tak percaya, ini adalah sebuah berita besar, pikirnya, "Ba-baik Tuan, pasti akan saya tampilkan."


~


Setelah setengah jam. Alfaro akhirnya selesai bersiap-siap. Ia keluar dari ruangan istirahatnya dengan setelan formal dan tampilan yang semakin sempurna. Aril dan Dinda sampai terperanga melihat sang Bos yang sudah seperti bintang film Hollywood yang terkenal di kalangan emak-emak, contohnya seperti Ibu Dinda.


"Bagaimana penampilan ku?" tanya Alfaro saat berhenti di hadapan Aril dan Dinda.


"Sempurna Tuan," ucap Aril dan Dinda secara bersamaan seraya mengacungkan dua jempolnya.


Lampu sorot yang berdiri tegak di setiap sudut ruangan mulai menyala. Kamera sudah standby dan pembawa acara juga sudah siap. Alfaro mencoba mengatur nafasnya sebelum memulai wawancara. Ia melangkah menuju sofa yang ada di ruangannya itu, duduk di sana bersama dengan sang pembawa acara.


Ini adalah kemunculan perdana Alfaro di depan media. Terakhir kali ia muncul adalah saat di pengadilan ,saat itu adalah sidang perceraiannya dengan Sarah dan pesta ulang tahun perusahaan. Setelah itu ia benar-benar menutup diri. Acara sudah dimulai, dengan pembukaan dari sang pembawa acara.


Dinda dan Aril menjadi deg-degan sendiri. Sampai akhirnya Dinda ingat sesuatu, jika ia belum memberitahu Arumi, tentang acara ini. Ia pun melangkah sendikit menjauh dari tempatnya berdiri tadi. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Arumi. Setelah beberapa saat akhirnya panggilan telepon itu tersambung.


"Hallo Arumi, kamu dimana?"


Bersambung 💓


Sejak kemarin author agak sibuk, di tambah badan kelelahan dan akhirnya sedikit drop karena aktivitas lainnya, mohon maaf membuat semuanya menunggu, Terimakasih yang tetap setia menunggu 🙏.


Next malam ini ya, author mau istirahat sebentar dan lanjut nulis lagi.


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2