Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.122 (Akhir yang bahagia)


__ADS_3

...Dua Minggu Berlalu....


...☘️...


Malam ini di sebuah hotel berbintang di pusat kota Jakarta. Almira di dampingi Arumi dan Mama, sedang berada di ruangan khusus untuk calon pengantin perempuan. Ya, hari ini adalah pesta pernikahan Almira dan Bima, setelah resmi menikah secara hukum dan agama pagi tadi.


Almira menatap wajahnya dari pantulan cermin, sentuhan make up flawlees membuat wajahnya memancarkan aura kecantikan alami, akhirnya ia resmi menjadi seorang istri. Sekilas matanya nampak berkaca-kaca saat mengingat sang ayah yang tak bisa menyaksikan pernikahannya. Sejak pagi tadi ia beberapa kali menitikkan air mata saat bayangan wajah ayahnya kembali menghantui.


Hati dan pikirannya.


Di penuhi satu nama, yaitu Ayah.


Almira meraih ponselnya, membuka galery. Tangisnya kembali pecah saat ponsel itu menampilkan foto dirinya dengan sang ayah. Masa itu ia masih remaja, ia dan Ayah sudah seperti amplop dan perangko. Kemanapun Ayah pergi, Almira akan ikut. Mitos ataupun fakta, anak perempuan biasanya akan sangat dekat dengan sosok seorang Ayah.


*Ayah..


Aku rindu*.


Asisten make up artis yang baru saja selesai menyelesaikan finishing, terlihat kebingungan melihat kliennya. Langsung saja asisten MUA itu menghampiri Mama dan Arumi yang sedang duduk di sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Saat mengetahui jika Almira sedang menangis, Arumi dan Mama langsung berhambur menghapiri Almira.


"Almira kenapa menangis lagi?" tanya Arumi seraya menepuk lembut pundak adik iparnya.

__ADS_1


"Ingat Ayah lagi?" sambung Mama.


Perlahan Almira mengangguk seraya menyeka air matanya. Mama membawa putri semata wayangnya itu kedalam pelukan. Mama pun ikut menangis karena juga ikut mengingat sang suami, yang untuk kedua kalinya tak bisa menyaksikan pernikahan anak-anak mereka. Sebelum melepaskan pelukannya, Mama menyeka air mata agar tetap terlihat kuat di hadapan sang putri, walau Arumi menyaksikan semuanya.


"Kamu harus percaya, Ayah pasti sedang menyaksikan penikahan kamu sekarang, ayah pasti sangat bahagia," ucap Mama dengan suara bergetar.


"Mira, aku juga merasakan hal yang sama, aku menikah bahkan tanpa di saksikan Ibu dan Ayahku. Tapi aku tahu di alam yang berbeda mereka menyaksikan kebahagiaan ku sekarang. Kamu juga harus yakin akan hal itu, hari ini adalah hari paling bahagia untuk kamu, Ayah kamu juga pasti bahagia," ujar Arumi yang tak bisa membendung rasa harunya.


Almira berbalik mengubah posisi yang sebelumnya menghadap Mama, kini menghadap ke Arumi, ia memeluk kakak iparnya, "Terimakasih kak, aku sangat senang memiliki kalian dalam hidup ku, terimakasih juga karena sudah membawa Bima untuk ku."


"Itu semua sudah rencana yang di atas, kamu memang wanita yang di takdirkan untuknya, bahagia selalu ya Mira," ucap Arumi.


Mama tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya yang terlihat sangat akrab. Mama ikut bergabung, memeluk kedua putrinya. Setiap detik yang terlewati hari ini begitu bermakna. Tak ada kesedihan apalagi perselisihan, semua tertawa, bercanda dan kompak. Membuat hari ini menjadi sejarah, agar di kenang sepanjang masa.


Setelah sang make up artis harus di buru waktu karena memperbaiki make up Almira yang berantakan karena terlalu banyak menangis. Akhirnya semua selesai, acara pesta akan segera di mulai. Para tamu sudah berdatangan, menunggu pengantin wanita untuk keluar. Jangan tanya Bima, karena ia sudah berada di sana bersama keluarganya. Menunggu wanita yang saat ini resmi menjadi istrinya.


Dengan menggadeng kedua keponakannya, Vino dan Viona. Almira dan keluarga memasuki Ballroom hotel yang sudah di sulap menjadi lokasi pesta mewah bak negeri dongeng. Gaun berwarna putih yang mengembang bak bunga yang sedang mekar, rambut tersanggul indah menambah kecantikan seorang Almira Wilson.


Semua tamu nampak terpana, termaksud Aril dan Dinda yang sibuk mengabadikan momen dengan sebuah kamera. Suara riuh tepuk tangan bercampur dengan alunan musik romantis, Almira melangkah perlahan menuju sang suami yang sudah sudah berdiri menunggu kedatangannya. Dari kejauhan tatapan mata mereka tak pernah lepas dengan senyum yang terukir jelas.


Saat jarak mereka hanya tersisa satu meter, langkah Almira terhenti. Bima mengulurkan tangannya untuk mengambil alih tangan sang istri dari si kembar Vino dan Viona. Secara suka rela kedua bocah kembar itu melepaskan tangan mereka, mereka seolah sudah mengerti dengan situasi saat ini. Vino dan Viona lari ke belakang, dimana Alfaro dan Arumi berada.

__ADS_1


Satu langkah.


Dua langkah.


Hingga akhirnya Almira menyambut uluran tangan sang suami. Mereka berjalan beriringan menuju singgah sana. Tempat dimana mereka akan duduk sebagai seorang raja dan ratu sehari. Bima menuntun sang istri untuk duduk di kursi yang ada di atas pentas. Namun tidak dengan dirinya, sebelum ikut duduk bersama Almira, ia meraih sebuah Mic yang sudah di persiapkan sebelumnya.


"Sebelum ikut bersanding di samping wanita tercantik malam ini," ucap Bima yang membuat seisi ruangan bersorak sorai, Almira hanya bisa tersenyum, tersipu malu mendengar ucapan sang suami. Bima kembali melanjutkan ucapannya saat situasi kembali tenang.


"Untuk wanita yang saat ini tak lepas dari pandangan, terimakasih karena sudah menerima aku dengan segala kekurangan dan kelebihan ku. Takdir mempertemukan kita dengan cara yang unik, aku tidak akan melupakan saat itu, saat perlahan dunia ku mulai teralihkan. Dimana kamu mengajarkan banyak hal, bahwa aku harus membuka hati ku, melihat dunia seluas-luasnya. Saat kamu mengatakan hal itu hati ku langsung bergetar, saat itu dunia yang aku lihat adalah kamu. Kamu membuatku jatuh cinta dalam waktu yang singkat, membuat aku beramibisi untuk menjadi yang terbaik untuk mu, meski pada akhirnya aku sempat gagal," tutur Bima seraya membayangkan bagaimana cara takdir mempertemukan ia dan Almira.


"Hari ini kita resmi menikah, sebuah awal yang baru untuk kehidupan rumah tangga kita. Aku tak bisa berjanji apapun yang mendahului kehendak sang pencipta. Namun aku akan terus berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu, membuat setiap detik yang kita lalui menjadi berharga. Untuk kamu, istriku ... I will always love you, forever," sambung Bima.


Almira tak bisa membendung harunya. Tubuh yang tadinya duduk diam membeku, kepala yang tadinya mendongak keatas, kini perlahan ia bangkit dan langsung memeluk sang suami. Semua tamu yang tadi hening, kini kembali bersorak gembira seraya bertepuk tangan. Dinda terlihat sangat emosional ia menangis haru di samping Aril.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Aril.


"Apa kamu juga akan seperti itu saat kita menikah, romantis sekali," ucap Dinda sambil terisak haru.


Aril hanya bisa tersenyum kepada sang kekasih. Ia sudah menangkap sinyal bahwa Dinda pasti akan berharap dia seperti Bima. Padahal ia adalah orang yang kaku dan tak bisa mengungkapkan perasaannya di hadapan banyak orang, sudah bisa di pastikan jika ia melakukan hal seperti Bima, semua tidak akan berjalan lancar.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊


__ADS_2