
Mata si kembar Vino dan Viona membulat saat melihat kedatangan seorang pria yang baru saja pamit pulang beberapa hari yang lalu. Bukan hanya si kembar Vino dan Viona, namun Mama dan Arumi juga demikian. Menjelang siang di Mansion, mereka di kejutkan dengan kedatangan Bima dan juga kedua orangtuanya.
Mama memeluk Mami Bima, karena sudah cukup lama mereka tak bertemu, begitu juga dengan Daddy. Sementara Bima sedang fokus dengan si kembar yang tak lagi mau melepaskan Bima kali ini. Mereka melangkah masuk kedalam Mansion untuk menikmati makan siang bersama, karena kebetulan jam makan siang telah tiba.
Sayang sekali Alfaro dan Almira sedang tidak ada di rumah. Entah bagaimana ekspresi wajah Almira jika mengetahui orang yang di cintai akhirnya datang. Membawa kabar baik, tentang hubungan yang akan lebih serius dari sebelumnya.
Di ruang makan kediaman keluarga Wilson. Arumi, Mama, si kembar, Bima dan kedua orangtuanya sedang menikmati makan siang bersama. Suasana selalu menjadi heboh saat Bima datang, karena Vino dan Viona yang berebut ingin duduk di samping Bima.
"Sayang, jangan ganggu uncle dulu ya, sini sama mommy" ucap Arumi.
"Yona aja mommy," ucap Vino.
"Ih kok aku cih, kamu aja!" sahut Viona.
"Sudahlah Rumi, biarkan mereka di samping ku," ucap Bima.
Arumi hanya bisa menghela nafas panjang, kemudian terseyum. Mama dan kedua orang tua Bima memperhatikan bagaimana Bima memperlakukan Vino dan Viona dengan sangat sabar.
"Kamu sudah cocok sekali mempunyai anak Bi," sahut Mami.
"Betul sekali, suami idaman kamu Bima," sambung Mama.
Daddy Bima meminum air di gelasnya hingga habis lalu beralih melihat Mama, "Untuk itulah kami ikut datang ke Indonesia, kami ingin membicarakan tentang kelanjutan hubungan Bima dan Almira.
"Saya tergantung anak-anak saja, jika Bima dan Almira sudah setuju, saya mendukung," ucap Mama.
Arumi beralih menatap Mama saat mendengar ucapan itu. Sekilas ia tersenyum, kini mertuanya itu sudah banyak berubah. Begitu juga Bima, jika melihat sosok Mama yang sekarang, ia seakan tak percaya jika Mama pernah membuat Arumi dan Alfaro terpisah.
"Bima bagaimana menurut kamu?" tanya Mama.
"Sebelum membicarakan hal ini lebih jauh lagi, saya ingin bicara berdua dengan Almira, karena sebelumnya kami ada sedikit masalah," jawab Bima dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Kamu tahu, sejak kamu kembali ke Malaysia Almira sangat murung, dia pasti memikirkan kamu Bima" ujar Arumi.
"Benar sekali, Mama sudah sudah bicara dengannya, dia menyesal karena membiarkan kamu pergi," sambung Mama.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka, setelah itu baru giliran kamu yang bertindak," ucap Mami.
"Kalau begitu saya akan menemui Almira sore ini," ucap Bima.
__ADS_1
...**...
Almira mempercepat langkahnya saat melihat Dinda sendiri, berdiri di lobby. Ia ingin mengajak Dinda untuk curhat masalah yang ia hadapi sekarang. Entah sejak kapan ia dan Dinda mulai dekat sebagai seorang teman. Karena di kantor ia tidak punya teman.
"Dinda," ucap Almira seraya menepuk pundak Dinda dari belakang.
Sontak saja Dinda langsung berbalik dari posisinya, "Almira, Kamu mau pulang?"
"Apa kamu punya waktu, aku ingin mengobrol dengan mu," pinta Almira.
Dinda terlihat ragu untuk menjawab, karena hari ini kebetulan ia punya janji lain juga, "Sayang sekali, sore ini aku dan Aril mau pergi ziarah makam kedua orangtuanya."
"Oh begitu ... baiklah tidak apa-apa, lain kali saja," ucap Almira dengan raut wajah sendunya.
"Dinda!" seru Aril sesaat setelah keluar dari lift.
Dinda terseyum dan melambaikan tangannya kepada Aril, lalu kembali beralih menatap Almira, "Maaf ya Mira, besok aku pasti akan menyempatkan waktu untuk kita mengobrol."
"Iya, tidak apa-apa, pergilah, seketaris Aril sudah menunggu," ucap Almira.
"Baiklah, sampai jumpa besok," ucap Dinda lalu melangkah pergi.
Satu langkah, dua langkah dan saat mobil sudah di depan mata, langkahnya terhenti saat melihat seorang pria sedang bersandar di sana. Ya orang itu adalah Bima. Saat melihat kedatangan Almira, ia menegapkan posisinya, lalu berjalan menghampiri sang pujaan yang diam terpaku tak jauh darinya.
Sekarang Bima sudah berada di hadapan Almira, mereka saling menatap dalam diam sesaat. Hingga akhirnya Bima meraih tangan Almira dan langsung menggenggamnya. Tak ada penolakan dari Almira meski ia masih saja diam tanpa bicara.
"Sekarang aku datang untuk memenuhi janji ku, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi," ucap Bima dengan lugas.
Mata Almira terlihat berkaca-kaca, tanpa berkata-kata, ia langsung berhambur memeluk Bima. Bima terlihat terkejut, namun sedetik kemudian ia tersenyum dan membalas pelukan itu, "Aku sangat merindukan mu."
"Aku juga merindukan mu, sangat merindukan mu, maaf atas ucapan ku waktu itu," ucap Almira dengan suara yang bergetar.
Bima melepaskan pelukannya, lalu kembali menatap Almira, "Kita harus bicara." Tanpa menunggu Almira menjawab Bima langsung menarik tangan kekasihnya itu masuk kedalam mobil.
...**...
Tangan saling menggenggam erat. Mereka berjalan menuju pinggir danau buatan yang tak jauh dari kantor. Suasana cukup sepi, padahal pada hari biasa akan sangat ramai pengunjung. Sesampainya di tepi danau Almira dan Bima duduk di sebuah batang pohon tumbang yang tidak terlalu panjang.
Genggaman tangan mereka tak pernah lepas, Almira menyadarkan kepalanya di bahu Bima, kemudahan memejamkan mata. Memikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.
__ADS_1
"Mira," panggil Bima.
"Hm, kenapa," sahut Almira yang masih bersandar di bahu Bima, matanya pun masih terpejam.
"Kenapa kamu menyukai ku ... kamu bukanlah cinta pertama ku, aku jarang ada di sisimu bahkan aku sudah membohongimu dan melukaimu ... aku pikir kamu tidak mau mekihatku lagi," ucap Bima.
Perlahan mata Almira mulai terbuka, namun ia masih setia bersandar di bahu Bima, "Aku ... aku juga tidak tahu kenapa, jangan terus bertanya."
Bima hanya tersenyum menanggapi ucapan Almira. Tapi bukan untuk menyerah, karena yang terjadi malah ia kembali bertanya, "Kenapa kamu menyukai ku?"
Almira mengangkat kepalanya dari bahu Bima. Ia menatap sang kekasih yang terlihat sangat menunggu jawaban darinya. Almira terlihat sedang berpikir, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu, karena sungguh ia juga tidak mengerti dengan hatinya.
Almira menunduk sesaat kemudian kembali menatap Bima, "Kenapa perlu alasan? Aku menyukaimu tanpa alasan, karena orang itu adalah kamu, kamu yang apa adanya dan hati ku sudah memilih kamu, tidak ada alasan apapun."
Bima terlihat terseyum saat mendengar ucapan Almira. Lalu tiba-tiba saja ia bangkit dari posisinya dan duduk bersimpuh di hadapan kekasihnya itu.
"Sekian lama aku berjalan, menyusuri kehidupan untuk menjari gadis pujaan. Aku menyesal karena baru menemukan dirimu sekarang ... beberapa hari di Malaysia membuat aku semakin sadar jika kehadiran kamu sangat berarti, aku tidak bisa me jauh darimu lagi," ujar Bima.
"Aku pasti membebani pikiran mu, aku juga sudah memikirkan semuanya, selama apapun kamu berjuang untuk meraih cita-cita mu, aku akan tetap mendukung dan menunggu ... maaf karena aku sempat goyah karena keegoisan ku," ucap Almira kemudian kembali tertunduk.
Bima berusaha menahan senyumnya. Ya, Almira memang belum tahu jika usahanya telah berhasil. Ia meraih tangan Almira kemudian menggenggamnya dengan erat.
"Terimakasih sudah mau menunggu ... tapi sepertinya kamu tidak perlu menunggu lagi, karena aku akan segera membuka cabang perubahan di sini," tutur Bima, membuat Almira kembali menegapkan kepalanya.
"Benarkah, kamu tidak berbohong lagi kan?" tanyanya memastikan.
Bima mengangguk perlahan, "Kamu boleh membunuh ku jika aku berbohong kali ini," ucap Bima kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku jaketnya. Ia membuka kotak kecil itu.
Almira terperangah percaya saat melihat isi dari kotak kecil itu.
"Aku tahu ini bukan momen yang romantis seperti di film-film, saat seorang pria melamar kekasihnya di sebuah restaurant mewah dengan di iringi musik klasik, tapi aku melakukannya dengan caraku dan berharap kamu menerimanya dengan baik ... Mira, will you marry me?"
Air mata kebahagiaan itu akhirnya turun juga, cukup deras untuk mengekspresikan bagaimana bahagianya ia sekarang, pelahan ia mengangguk seraya menyeka air matanya, "Yes, I Will."
Tanpa pikir panjang, Bima langsung meraih tangan Almira, memasangkan cincin itu di jari manisnya. Mereka saling menatap, terseyum lalu saling berpelukan. Akhirnya kisah cinta mereka sampai ke titik ini juga. Bukan sebuah akhir, namun sebuah awal dari kisah selanjutnya.
Bersambung 💓
Maaf untuk keterlambatannya karena masih fokus sama anak. Terimakasih yang masih setia menunggu, luv😘😘😘
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏