
Suasana mansion mendadak semakin hangat. Karena kehadiran seorang yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga Wilson. Di sebuah ruang keluarga, semua anggota keluarga berkumpul untuk sekedar berbincang-bincang. Sementara Vino dan Viona memilih untuk bermain di sebuah karpet yang di penuhi berbagai macam mainan.
Bima dan Almira terlihat tidak malu-malu lagi untuk menunjukkan kemesraan, meski status yang belum di satukan dalam ikatan pernikahan. Terlihat Almira beberapa kali menyuapi potongan buah ke mulut Bima. Pria itu tidak menolak, meski rasa canggung masih mendominasi. Bagi Bima saat ini adalah saat yang paling ia rindukan saat bisa bersama dengan seseorang yang dicintai di tengah keluarga yang menerimanya dengan baik.
Mungkin akhirnya ia sadar sejauh apapun ia berusaha untuk meraih impian, cinta sejati adalah tempatnya untuk pulang. Tapi bagaimana cara menjelaskan kepada sang pujaan bahwa apa yang dia usahakan saat berjauhan, kini tak membuahkan hasil yang diharapkan.
"Bima bagaimana dengan pembukaan cabang perusahaan kamu di Indonesia, apa berjalan dengan lancar?" tanya Mama tiba-tiba.
Bima nampak berpikir sejenak, ia ingin mejawab jujur, namun saat melihat wajah Almira yang terlihat begitu bahagia bibinya terasa begitu kaku untuk sekedar mengatakan jika ia telah gagal, "Berjalan lancar Tante."
"Wah baguslah kalau begitu," ucap Arumi yang nampak sangat senang. Tapi sepertinya lain dengan Alfaro, ia menatap Bima dengan heran. Sepertinya ia sudah tahu semua kebenarannya.
"Sekarang kami akan lebih sering bersama, jika Bima bekerja di Indonesia," ucap Almira yang nampak sangat senang.
"Ehm, menikah saja kalau begitu," goda Mama kepada Almira dan Bima.
Alfaro memandangi Bima yang saat ini duduk di hadapannya. Sepertinya ada yang mengganjal di pikirannya, entah apa yang ia pikirkan. Tapi saat semua orang tersenyum senang, Alfaro hanya terdiam seraya berpangku tangan.
"Bima, apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Alfaro tiba-tiba.
Semua orang tak terkecuali Bima sendiri cukup kaget mendengar ucapan Alfaro. Rasa penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan Alfaro mulai memenuhi pikiran Bima, ia bisa melihat ekspresi wajah calon kakak iparnya itu terlihat sangat serius.
"Baiklah," ucap Bima lalu beranjak, mengikuti langkah Alfaro menuju lantai dua.
~
Alfaro membuka pintu ruang kerjanya. Ia mempersilahkan Bima untuk duduk di sofa ruangan itu. Bima memperhatikan raut wajah Alfaro yang sejak di ruang keluarga tadi tiba-tiba saja berubah saat ia mengatakan jika pembukaan cabang berjalan lancar. Apa Alfaro sudah tahu semuanya? Ya, sepertinya Alfaro mengetahui hal itu.
__ADS_1
Di hadapan Bima, Alfaro duduk seraya berpangku tangan dengan kaki yang menyilang. Di lihatnya Bima yang hanya diam tanpa mengatakan apapun. Ia tahu calon adik iparnya itu pasti sudah tahu maksud dan tujuan Alfaro mengajaknya bicara di ruangan itu.
"Apa kamu tahu, kenapa aku mengajak kamu untuk bicara?" tanya Alfaro dengan tatapan mengintimidasi.
Bima yang tadinya duduk bersantai kini mulai menegapkan badan, "Iya saya tahu."
"Lalu apa alasan kamu tidak berkata jujur kepada keluarga kami, khususnya Almira," ujar Alfaro.
Bima menghela nafas panjang, saat mendengar ucapan Alfaro yang begitu menusuk relung hatinya. Entahlah, dulu Bima adalah orang yang jujur dan terbuka. Namun saat menemukan cintanya ia ingin terlihat menjadi yang terbaik di hadapan Almira, ingin selalu membuatnya terkagum-kagum, tanpa ada kata gagal yang harus di ungkapkan.
"Saya tidak ingin Almira kecewa karena saya belum berhasil mengembangkan perusahaan di Indonesia," tutur Bima dengan suara yang terdengar datar.
"Bima, aku tahu kamu seorang pekerja keras, mandiri dan ingin berdiri dengan kaki sendiri. Tapi semua butuh proses yang tidak instan. Kamu tidak gagal jadi kamu tidak perlu ragu untuk mengatakan semuanya kepada Almira. Aku kenal baik adikku, dia pasti akan terima jika sejak awal kamu mengatakan yang sejujurnya," tutur Alfaro yang berusaha memberi pengertian tanpa maksud untuk menghakimi.
"Saya akan mencoba membicarakan semuanya kepada Almira," ucap Bima.
"Lebih cepat lebih baik, maaf jika aku membuatmu kurang nyaman. Ini semua demi kamu Dan Almira juga," ucap Alfaro.
Obrolan itu berlangsung sangat serius, hingga Alfaro dan Bima tidak menyadari, dari balik pintu yang terbuka sedikit, Almira mendengar semua pembicaraan mereka. Almira diam tertegun, namun cairan krista bening mulai membasahi pipinya.
Mendengar fakta bahwa Bima berbohong, ia tidak bisa memendam rasa sedihnya. Harapan yang sempat terbangun untuk terus bersama, kini telah hancur. Almira menyeka air matanya lalu melangkah dengan cepat meninggalkan tempatnya berdiri.
~
Pagi kembali menyingsing. Setelah selesai mandi dan berpakaian santai. Bima keluar dari dalam kamarnya dan melangkah turun ke lantai satu Mansion. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Namun saat sampai di sana, ia tidak menemukan sosok Almira.
"Uncle kok bengong, ayo duduk cini," ucap Vino seraya menepuk kursi yang biasanya di duduki oleh Almira.
__ADS_1
"Oh iya." Bima memundurkan kursi lalu ikut duduk, "Almira kemana ya?"
"Tadi ia berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada sedikit urusan," sahut Mama.
"Iya, tadi aku juga melihatnya keluar, sepertinya sangat terburu-buru sekali," sambung Arumi.
"Sejak semalam sikapnya benar-benar aneh, Mama melihat Mira berdiri di depan pintu raung kerja kamu tapi belum sempat Mama mehampiri dia sudah pergi ke kamarnya," ujar Mama.
Alfaro dan Bima saling menatap. Sepertinya mereka punya pikiran yang sama. Tidak biasanya Almira pergi begitu saja dan melewatkan sarapan bersama Bima, pasti ada sesuatu yang tidak beres, Almira pasti mendengar semuanya. Tanpa pikir panjang, Bima beranjak dari tempat duduknya.
"Loh Bima, kamu mau kemana?" tanya Mama.
"Saya akan menemui Almira sebentar," jawabnya.
"Pakai mobil yang ada di garasi, mungkin dia sudah di kantor sekarang," sahut Alfaro tiba-tiba.
"Baik, terimakasih." Dengan cepat Bima melangkah meninggalkan tempat itu.
"Al sebenarnya ada apa?" tanya Mama.
Alfaro mengehela nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya. Mama dan Arumi awalnya cukup terkejut, namun mereka bisa mengerti kenapa Bima melakukan hal itu.
Cinta kadang membuat buta. Hingga tanpa sadar kita melakukan hal di luar kebiasaan. Saat kata hati di kalahkan oleh ego diri, maka semua bisa saja terjadi. Begitu juga dengan Bima, dengan berlandaskan rasa cemburu saat berhadapan dengan seorang laki-laki yang juga menyukai Almira, akhirnya ia melupakan fakta hanya demi terlihat lebih sempurna di hadapan wanita yang di cintainya.
Apa Bima menyesal karena tidak jujur?
Ya, tentu saja. Tapi Almira sudah terlanjur mengetahui semuanya. Andai sejak awal Bima berkata jujur, mungkin Almira tidak akan kecewa karena sudah terlanjur berharap berlebihan kepada sesuatu yang ternyata semu.
__ADS_1
Maaf karena hanya bisa update satu bab 😢 anak lagi demam dan rewel, adakah yang sudah punya baby dan merasakan apa yang author rasakan sekarang, Insyaallah besok kejar update tiga bab. Semoga Allah memudahkan 😇😇🙏
Bersambung 💓