Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.56 (Aku, kamu dan cinta kita)


__ADS_3

Satu langkah lagi dan akhirnya, Alfaro sampai dihadapan sang istri. Tatapan mereka beradu sejenak, menelisik rasa rindu satu sama lain. Ibu yang juga berada di sana menatap Arumi dan Alfaro secara bergantian, sudah pasti ibu bingung dengan situasi saat ini.


Arumi menggeleng perlahan, lalu berbalik hendak pergi. Tak ingin memberi kesempatan untuk Arumi menghindar, Alfaro menarik tangan Arumi agar kembali menghadap kearahnya, bahkan lebih dekat hingga deru nafas Alfaro terasa menerpa wajah Arumi.


"Kita harus bicara," ucap Alfaro menatap Arumi dengan penuh harap. Tak ingin memberi kesempatan untuk menolak ataupun mencari alasan, Alfaro segera menarik tangan Arumi agar mengikuti langkahnya.


Arumi mengikuti langkah Alfaro, perlahan namun pasti menjauh pergi. Meninggalkan Ibu yang masih terlihat kebingungan, meninggalkan Aril yang mulai panik, karena jika Alfaro dan Arumi pergi, dia akan ke kantor naik apa.


Alfaro menuntun Arumi masuk kedalam mobil lalu di ikuti oleh dirinya sendiri. Mobil itu kini telah menjauh pergi. Saat sudah hilang dari pandangan, Ibu beralih menatap Aril yang berdiri di sampingnya.


"Yang tadi itu sapa?" tanya Ibu.


"Suami Arumi," jawab Aril seraya terus memadangi mobil yang semakin menghilang dari pandangannya.


"Apa! Kapan nikahnya tu anak, kagak ngundang-ngundang. Mana lakinya ganteng bener, kayak artis turki," ujar Ibu.


Dinda datang dari dalam. Ia kaget saat mendapati Aril sudah berada di sana.


"Arumi sudah pergi?" tanya Dinda pada Aril.


"Sudah, baru saja," jawab Aril tanpa menoleh kearah Dinda.


"Aril bilang Arumi udah nikah? Kok Ibu nggak di undang?" tanya Ibu pada Dinda.


"Iya Bu, nanti Dinda jelasin ya, sekarang Dinda mau kerja dulu ya," ucap Dinda pada ibunya.


"Ya udah deh, kalau gitu Ibu juga mau ke pasar dulu," ucap Ibu lalu menoleh kepada Aril, " Nak Aril, ibu tinggal dulu ya."


"Oh iya bu," ucap Aril lalu tersenyum kepada Ibu.


Sekarang tinggalah Aril dan Dinda yang berada di sana. Dinda memperhatikan Aril yang terus saja memandang kearah jalan sejak tadi.


"Hey, kenapa bengong begitu," ucap Dinda seraya menepuk pundak Aril dengan cukup kuat.


Aril sampai terkesiap, ia menoleh kearah wanita yang tingginya hanya sebahunya saja. Aril terkejut karena hari ini Dinda sedikit berbeda, jika biasanya Dinda akan memakai celana dasar di padu-padankan dengan kemeja dan blazer tapi hari ini Dinda memakai Rok di atas lutut.


"Wow, ada apa ini? Kamu memakai rok?" tanya Aril yang malah terkesan meledek.


"Kenapa? apa aku terlalu cantik hari ini, aku merasa setiap hari aku sudah seperti wanita karir sungguhan," ucap Dinda penuh percaya diri.


"Hah, kamu itu malah seperti bunglon," ucap Aril yang berusaha menahan tawanya.

__ADS_1


"Apa! Bunglon?"


"Kamu bisa merubah tampilan dengan cepat dari seorang gangster menjadi seperti ini, itu bukannya memang mirip Bunglon, sebuah evolusi manusia yang sangat luar biasa. Tapi maaf aku tidak akan tertipu karena sudah pernah melihat wujud aslimu," tutur Aril.


"Tinggal bilang cantik apa susahnya! Tadinya aku ingin menawari Tuan sekertaris yang terhormat ini tumpangan untuk pergi ke kantor. Tapi karena aku sudah keburu kesal ... Bye selamat berjalan kaki," ucap Dinda lalu melangkah keluar dari teras.


Aril baru sadar jika ia ditinggalkan oleh Alfaro sendiri di sana. Jika mau menaiki kendaraan umum, ia harus berjalan kaki sampai kedepan gang. Hari pun semakin siang, tanpa pikir panjang akhirnya ia memutuskan untuk menyusul Dinda yang saat ini sudah naik keatas motor.


"Hey tunggu aku!" seru Aril seraya berlari mengahampiri Dinda.


"Aku ikut, ayolah tadi aku hanya bercanda," ucap Aril saat sudah di samping motor Dinda.


Dinda mendengus kesal, dengan tatapan tajam dan tangan terlipat kedepan, "Boleh saja, tapi Anda harus berkata satu kali saja, katakan Dinda cantik, hanya itu saja syaratnya."


Tak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Dinda, meski mulutnya terasa kaku saat harus mengucapkan sesuatu yang menggelikan, mau tidak mau Aril harus melakukannya.


"Di-dinda cantik, aku boleh ikut ya," ucap Aril pada akhirnya.


"Nah gitu dong, saya ini orang yang baik kok Tuan sekertaris yang terhormat," ucapnya dengan nada suara lembut yang di buat-buat, "Ayo naik." Dinda memberikan sebuah helm kepada Aril.


Aril meraih helm itu dan langsung memakainya. Saat ia sudah naik keatas motor, dengan kecepatan penuh, Dinda tancap gas meninggalkan halaman rumahnya.


...***...


Angin berhembus cukup kencang, Hingga rambut panjang Arumi tersapu kebelakang. Perlahan Alfaro menoleh, menatap wajah sendu sang istri yang menatap nanar kearah depan.


"Kenapa kamu menghindari ku?" tanya Alfaro.


"Aku tidak menghindar, hanya menenangkan diri." Arumi menoleh kesamping hingga mata mereka kembali beradu, "Mas ... apa kamu benar-benar akan di jodohkan?" Mata Arumi terlihat berkaca-kaca, saat mengatakan hal yang bahkan tidak di sanggupi oleh hatinya.


Segurat senyum tipis terlihat mewarnai bibir Alfaro. Entah kenapa ia menjadi senang saat melihat sang istri cemburu seperti ini. Namun respon berbeda malah di berikan Arumi. Saat ia merasa sedih dan suaminya malah tersenyum tentu saja ia menjadi heran.


Alfaro bergerak mendekat, memeluk sang istri dari belakang. Arumi sudah pasti memberontak hendak di lepaskan tapi tubuhnya terkungkung dalam dekapan sang suami yang tubuhnya jauh lebih besar.


"Aku bertanya bukanya di jawab, malah di peluk," ucap Arumi dengan wajah cemberutnya.


"Namanya Bianca, dia putri dari rekan bisnis mendiang ayah ku. Memang kedua orang tua menginginkan kami untuk menjalin hubungan. Tapi baik itu aku ataupun Bianca kami sudah punya orang yang kami cintai sendiri. Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu hanya untuk sebuah perjodohan seperti itu. Kamu boleh cemburu dan dan marah pada ku. Tapi jangan meragukan cinta dan kesetiaan seorang Alfaro Wilson," tutur Alfaro seraya terus menciumi bahu Arumi.


Segampang itu Arumi luluh. Bukan karena ia seseorang yang mudah di bujuk rayu, tapi saat hatinnya sudah yakin dan percaya maka ia bisa apa. Wajah Arumi memerah tomat bukan karena blush on yang ia pakai tapi karena ucapan sang suami yang selalu berhasil membuatnya tersipu malu.


"Jadi kamu tidak akan meninggalkan ku untuk wanita pilihan Mama?"

__ADS_1


"Apa aku harus menjawabnya lagi?"


Arumi membalik posisinya dan langsung memeluk erat Alfaro. Air mata kebahagiaan itu terlihat keluar dari sudut matanya. bahagia? Ya, mungkin ia sedang menikmati masa-masa indah ini yang ia harapkan akan begitu seterusnya. Lagi-lagi manusia hanya bisa berencana tapi sang penguasa alam semesta adalah penentu segalanya.


"Aku sangat merindukan mu ... apa kamu tidur nyenyak malam tadi?" tanya Alfaro lalu mengecup lembut pucuk kepala Arumi.


"Tidak Mas, aku terjaga sepanjang malam karena memikirkan kamu," jawab Arumi yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alfaro.


Namun tiba-tiba saja Alfaro melepaskan pelukannya, menatap sang istri yang melihatnya dengan bingung.


"Mau main air? Hari ini aku akan bolos demi kamu," ucap Alfaro seraya menarik pelan hidung Arumi.


"Benarkah? Apa boleh?" Arumi terlihat sangat antusias mendengar hal itu.


"Tentu saja, waktu itu aku ingin mengajakmu kemari, tapi Almira malah menggagalkannya."


"Wah, aku suka sekali pantai ... tapi Mas, kenapa disini sepi sekali, dulu pantai ini sangat ramai pengunjung meskipun bukan hari libur?" tanya Arumi bingung, melihat ke sekitar yang nampak sepi.


"Hari ini pantai ini di tutup untuk umum ... karena aku sudah menyewanya," ujar Alfaro.


"Apa! Me-menyewa, kalau begitu kita harus bermain air sepuasnya, agar uang yang Mas keluarkan tidak sia-sia," ucapanya antusias.


"Iya terserah kamu saja."


Cup.


Tiba-tiba saja Arumi langsung mendaratkan ciuman di pipi Alfaro lalu berlari pergi meninggalkannya yang masih diam terpaku.


"Ayo mas kejar aku!" seru Arumi dari jarak dua puluh meter.


"Jika aku mendapatkan mu, aku akan menciummu sangat lama!!!" teriak Alfaro sambil memandangi sang istri.


"Coba saja kalau bisa!!" teriak Arumi balik kemudian kembali berlari. Tanpa membuang waktu Alfaro menyusul sang istri.


Setelah di rasa cukup jauh, Arumi kembali menghentikan langkahnya. Berbalik kebelakang, melihat Alfaro yang saat ini sedang berlari kearahnya. Hatinya kembali bergetar, seakan Alfaro adalah sebuah takdir yang akan segera menghampirinya, takdir yang membuat segala sisi kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat.


Saat ini dia sedang berlari kearahku, dengan senyuman bahagia karena mencintai ku. Pria ini datang dari mana aku juga tidak tahu, tapi untuk pertama kalinya aku merasa di hargai dan di harapkan. Tuhan, jangan hilangkan dia dari pandangan ku, meski restunya tak berpihak, buat dia selalu berjuang demi cinta yang dia ucapkan. Karena aku menginginkan dia selamanya, aku sangat mencintainya, batin Arumi.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


Maaf upnya tipis-tipis aja karena terkendala waktu. Hehe, makasih untuk yang selalu setia menunggu update dari author Alya Aziz. lope lope sekebon deh untuk para readers ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2