
Setelah acara kumpul keluarga yang di warnai tawa bahagia pasangan yang sebentar lagi akan menikah, pukul setengah dua belas malam. Arumi melangkah menuju ruang kerja suaminya dengan sepiring buah yang sengaja ia siapkan untuk sang suami. Sudah beberapa hari Alfaro terlalu sibuk bekerja hingga tidak menjaga pola makannya.
Klek.
Pintu ruang kerja itu terbuka, Alfaro yang sedang sibuk di belakang meja sontak mengangkat kepalanya, memandang kearah pintu. Ia tersenyum saat mendapati sang istri datang. Arumi melangkah mendekati sang suami, di letakkan sepiring buah itu di atas meja, lalu ia ikut duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Alfaro.
"Masih lama Mas?" tanya Arumi seraya mengarahkan sepotong apel ke depan mulut suaminya.
Dengan cepat Alfaro membuka mulutnya dan langsung melahap buah itu, "Sedikit lagi, kamu kenapa tidak tidur."
"Tidak apa-apa, aku belum mengantuk, jadi aku mau menemani Mas saja disini," ujar Arumi.
Alfaro tiba-tiba saja teringat sesuatu. Jika Almira dan Bima menikah bulan ini, berarti dia harus menunda pesta pernikahan sekaligus anniversarynya dengan Arumi. Ia sudah mengatur semuanya, namun sepertinya tidak berjalan dengan yang ia harapkan.
Perlahan tangan Alfaro bergerak, diraihnya tangan Arumi dan di genggam dengan erat, "Sayang ... sepertinya pesta yang sudah aku janjikan untuk kamu, harus di tunda."
Dahi Arumi mengerut heran, "Pesta apa Mas?"
"Masa kamu lupa, waktu itu aku pernah bilang akan menggelar pesta pernikahan kita yang tertunda, tapi karena Almira dan Bima juga berencana untuk menikah akhir bulan ini, sepertinya rencana ku akan tertunda," jelas Alfaro.
Arumi terkekeh sendiri, ia pikir sang suami tidak serius dengan ucapanya waktu itu, "Mas aku sudah bilang, aku tidak butuh pesta apapun, kamu sudah cukup banyak memberikan pembuktian untuk ku dan anak-anak, sekarang kita fokus ke pernikahan Almira saja ya," ucap Arumi lalu tersenyum kepada Alfaro.
Alfaro berdiri dari tempat duduknya, meraih tangan sang istri agar beranjak dari tempat duduk lalu berjalan mengikutinya. Namun tidak semudah itu, karena Arumi menahan langkah dengan ekspresi wajah kebingungan, "Kita mau kemana Mas?"
"Ikut saja nanti kamu tahu sendiri." Alfaro kembali melanjutkan langkahnya dengan menggenggam tangan sang istri.
~
__ADS_1
Arumi terpana dengan pemandangan malam di rooftop mansion. Ia tidak pernah naik kesana, karena berpikir tempat itu di jadikan gudang dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Namun ternyata tempat itu sangat indah, dengan cahaya lampu tumber light yang memenuhi besi pembatas di tambah bintang yang berkelap-kelip menambah indah suasana.
"Tempat ini bagus sekali, aku pikir tempat ini tidak terawat," ujar Arumi seraya berjalan sampai ke besi pembatas.
Alfaro menyusul sang istri, sekarang mereka berdiri saling berdampingan, "Tempat ini baru saja di bersihkan, dulu memang tidak terawat pasca perceraianku ... sebenarnya aku mengajak kamu pindah ke tempat yang baru karena aku ingin memberikan kamu sebuah istana untuk memulai kehidupan baru ... bukan sisa peninggalan rumah tangga ku sebelumnya, bukan juga karena aku tidak ingin tinggal bersama Mama ... aku tidak memberikan kamu pernikahan yang layak, aku sudah banyak membuatmu sengsara sekian tahun, setelah semua usahaku untuk mebuatmu bahagia, entah kenapa aku masih belum puas," jelas Alfaro seraya menatap nanar kearah langit malam.
Arumi menghela nafas panjang lalu menoleh kearah sang suami, "Mas, aku menerima kamu dan semua masalalu kamu, tidak perlu mengganti semua dengan sesuatu yang baru, jika kenangan buruk yang dulu, kini sudah berganti dengan kebahagiaan lalu untuk apa pergi dan mencari suasana yang baru." Arumi medekati Alfaro, menyadarkan kepala di bahu, dengan tangan yang melingkar di lengan sang suami.
"Seharusnya kamu jangan terlalu baik seperti ini, apa tidak bisa sedikit saja kamu menuntut sesuatu dariku, misalnya kamu ingin belanja tas branded setiap hari atau kamu ingin di belikan perhiasan setiap hari, jika seperti itu aku akan sedikit berguna menjadi suami mu," tutur Alfaro lalu merangkul sang istri.
"Aku sudah sangat bahagia Mas, karena ada kamu, Vino, Viona dan calon adik mereka," ujar Arumi.
"Ya aku juga sangat bahagia ta--" Alfaro menghentikan ucapannya saat ia menyadari sesuatu, ada yang aneh dari ucapan sang istri, ia mengubah posisinya, hingga Arumi yang tadi bersandar di bahunya kini menegapkan kepala, menatap sang suami yang terlihat kaget.
Sebenarnya Arumi sudah tidak datang bulan satu bulan setelah kepulangan dari London, namun ia baru memeriksakannya beberapa hari yang lalu. Tadinya ia ingin menyampaikan semuanya saat di ruang kerja Alfaro. Tapi sang suami malah mengajaknya ke rooftop mansion.
"Coba ulang ucapan kamu yang tadi," ucap Alfaro yang ingin memperjelas dan berharap ia tidak salah dengar.
"Aku sangat bahagia bersama kamu, Vino, Viona dan calon adik mereka ... aku hamil Mas," ucap Arumi pada akhirnya.
Alfaro tak bisa membendung rasa harunya. Mereka menangis bersama, di tengah cahaya remang-remang dengan langit malam sebagai saksi bisu. Alfaro membawa Arumi kedalam pelukan, mendekap erat dengan suara isakan tangis yang tak kunjung reda hingga menyesakkan dada.
Ternyata rasanya sebahagia ini saat mendengar kamu hamil. Tuhan, jangan pernah hilangkan dia lagi dari pasangan ku, biarkan aku membahagiakannya, mendampingi masa-masa kehamilan yang dulu sudah aku lewatkan, batin Alfaro.
~
Pagi harinya, Alfaro dan Arumi melangkah turun dari lantai dua bersama kedua anak mereka. Sesampainya di bawah, Vino dan Viona berhambur mengahampiri Mama dan yang lainnya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Oma, kata mommy Yona mau jadi kakak," ucap Viona saat duduk di samping Mama.
"Iya Oma, Ino mau jadi Abang," sambung Vino.
Mama terlihat terkejut dengan pernyataan kedua cucunya. Bukan cuma Mama, tapi Bima, Almira dan kedua orang tua Bima juga begitu terkejut. Alfaro dan Arumi saling bergandengan, melangkah menghampiri semua orang yang saat ini sedang memadangi mereka.
"Al, apa maksud anak-anak kamu?" tanya Mama penasaran.
"Iya kak, apa dugaan kami benar," sambung Almira.
"Ucapan Vino dan Viona benar, karena sekarang Arumi sedang hamil," ujar Alfaro.
"Tuh kan benar, pantas saja kemarin Arumi mual saat mencium bau tumisan," sahut Mami Bima.
"Iya Tante, saya tidak mengatakannya karena ingin memberitahu Mas Al dulu," ujar Arumi.
"Syukurlah, Mama sangat senang karena di limpahi kabar baik yang tidak ada habisnya," ucap Mama seraya melihat kearah Arumi dengan mata berkaca-kaca.
"Selamat ya Arumi, Alfaro," ucap Daddy Bima.
"Iya Om, terimakasih," ucap Alfaro.
"Selamat ya ... ka-kak ipar," ucap Bima yang terlihat ragu-ragu saat mengatakannya.
"Wah kamu sudah bisa memanggil kami kakak ipar itu sebuah kemajuan, jadi pertahankan," ucap Alfaro menggoda Bima.
Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa bahagia. Momen-momen paling bahagia saat ini sedang mereka rasakan. Karena selain penikahan, kabar kehamilan kedua Arumi melengkapi segalanya.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍