
Akhirnya taksi yang membawa Arumi dan Alfaro sampai juga di depan gedung apartement mewah itu. Dengan menyeret koper di tangan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam tangan sang istri, masuk kedalam gedung apartement itu. Mereka terpaksa naik taksi karena mobil Alfaro di bawa oleh Aril.
Rasanya kurang nyaman saat orang yang berlalu lalang memperhatikan Arumi yang di gadeng oleh Alfaro. Arumi menundukkan kepalanya, berusaha menutupi wajahnya dengan tangan. Entahlah mungkin dia belum terbiasa, atau mungkin takut ada seseorang disana yang mengenalinya.
Akhirnya mereka sampai di unit apartment milik Alfaro. Ia mengikuti langkah sang suami masuk kedalam unit apartment itu. Sekilas Arumi kembali menggedarkan pandanganya, sudah berapa lama ia tidak kesana, kenapa apartement itu semakin mewah saja. Arumi akhirnya sadar jika unit apartment itu sungguh berbeda.
"Kamu kenapa?" tanya Alfaro saat melihat Arumi diam terpaku.
"Mas mengubah desain apartemen ini, dari furniture dan cat dinding, semuanya berbeda dari sebelumnya," tanya Arumi yang sudah duduk di kursi ruang tamu rumah itu.
Alfaro terdiam sesaat. Entah apa yang di pikiran pria itu, tapi raut wajahnya tiba-tiba saja penuh ke piluan, Arumi menunggu Alfaro untuk menjawab, namun yang terjadi, Alfaro malah berbalik, menatap lalu memeluknya.
"Mas kenapa?"
"Tidak, aku hanya ingin memelukmu saja," ucap Alfaro yang terkesan datar.
Arumi menjadi bertanya-tanya, kenapa Alfaro tiba-tiba saja menjadi aneh. Rasa penasaran itu sepertinya harus tertahankan karena Alfaro mulai keluar jalur. Tangan dan bibirnya mulai bicara. Matanya terpejam tangannya mencengkram erat punggung bidang Alfaro. Dari bahu, leher, hingga telinga, Alfaro jelajahi dan berbisik, " Kita lanjutkan urusan yang sempat tertunda."
Tangan kekar itu membawa sang istri ke atas sofa menindih dan tak memberi ruang untuk bergerak. Pergulatan yang tak biasa dari ranjang dan sekarang di sofa, mungkin esok hari di ruangan yang berbeda. Sensasi yang luar biasa, dan tak pernah di rasakan Alfaro di pernikahan pertamanya. Jujur saat Arumi bertanya kepada Alfaro mengubah design apartement itu, maka jawabannya adalah karena Sarah.
Di sana, di setiap sudut ruangan apartement itu desain dari sang mantan istri. Apartement itu adalah awal mula kisah cintanya dan Sarah di mulai dan disana pula semua itu berakhir. Semuanya ingin ia hapus dan tak menyisakan apapun. Ingin memulai dan tak ingin ada sesuatu dari apartement itu yang tiba-tiba saja mengingatkannya. Bukan mengingatkan betapa ia dulu mencintai sang mantan, tapi ia tidak ingin mengingat betapa sakitnya pengkhianatan.
~
Denting yang berbunyi dari dinding kaca karena hujan rintik yang tiba-tiba saja menyapa. Arumi sudah selesai mandi setelah pergulatan panas mereka. Sementara Alfaro masih setia di alam mimpi. Sepertinya kali ini Alfaro yang kelelahan, karena Arumi mulai bisa mengimbanginya hingga tak ragu meminta lagi dan lagi.
__ADS_1
Arumi menghela nafas panjang, saat membuka kulkas dan tak ada apapun disana. Ya, apa yang bisa di harapkan dari sebuah apartement yang jarang di huni. Ia melirik kearah jendela, hujan malah kian deras, cacing-cacing di perut pun kian memberontak minta di beri makan.
Langkahnya bergerak menuju jendela kaca yang ada di ruang tamu, dari sana ia bisa melihat mini market yang di seberang jalan sana terbuka. Langsung saja ia kembali ke kamar, mengambil jaket dari koper dan dompet. Ia pun bisa bernafas lega karena menemukan payung di sudut ruang tamu dan ia tidak perlu hujan-hujanan.
~
Arumi menutup kembali payung itu saat sudah masuk ke bagian dalam mini market. Ia meraih keranjang dan mulai mengambil bahan makanan yang ia butuhkan untuk di masak malam ini dan juga pagi nanti. Rasanya ia benar-benar sudah menjadi seorang istri dan ibu rumah tangga yang berbelanja untuk keperluan keluarga.
Tak butuh waktu lama untuk Arumi selesai berbelanja. Ia melangkah menuju kasir untuk melakukan transaksi pembayaran. Setelah selesai Arumi hendak meraih payung yang ia letakkan di samping pintu mini market. Namun tiba-tiba saja gerakannya terhenti karena seseorang yang berdiri di depannya. Eh bukan satu tapi dua orang, yaitu Bima dan kakaknya Bianca.
"Rumi."
"Bima."
Mereka sama-sama tekejut karena bisa bertemu di kawasan ini. Kawasan yang hanya di huni oleh kalangan kelas atas lalu kenapa mereka bisa berada disana. Arumi kaget karena setaunya Bima hanya karyawan biasa di WB grup dan tentunya tidak mungkin untuk Bima tinggal di kawasan ini. Dan begitu juga dengan Bima, setaunya Arumi tinggal di sebuah gang sempit yang jauh dari kawasan ini.
"Oh jadi kamu yang bernama Arumi," ucap Bianca tiba-tiba seraya melirik kearah Bima.
"Perkenalkan aku Bianca, kakak Bima, senang bisa bertemu dengan mu." Bianca mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Arumi, "Saya Arumi."
"Kenapa kamu bisa di sini dan bukannya kamu sedang sakit?" tanya Bima.
"Oh itu ... kakak sepupu ku tinggal di apartement yang ada di seberang sana, aku sudah lebih baik jadi menginap di apartement kakak sepupu ku," jelas Arumi.
Maaf Bima lagi-lagi aku bohong sama kamu.
__ADS_1
"Dan kamu sendiri?" tanya Arumi balik.
"Ya aku juga sama, aku sedang menginap di apartement kakak ku, ya kan," ucap Bima seraya menatap tajam kearah Bianca.
"Oh iya benar," ucap Bianca membenarkan kebohongan sang adik, demi mempertahankan identitas palsu yang melekat pada Bima.
"Oh, begitu ... kalau begitu aku duluan ya Bima, kak Bianca, kakak sepupu ku sudah menunggu."
"Oh iya, sampai jumpa besok di kantor," ucap Bima.
Arumi melangkah dengan cepat keluar dari minimarket itu. Ia benar-benar tidak menyangka bisa bertemu dengan Bima di kawasan ini. Apartement Bima memang berada tidak jauh dari apartement milik Alfaro, kemungkinan untuk mereka bertemu tentu saja sangat besar.
Arumi mulai menghilang dari pandangannya. Namun Bima masih diam tertegun di tempatnya, seraya memadangi jejak yang tersisa dari sang pujaan hati.
"Sudah jangan kelamaan, orangnya udah pergi tuh," ucap Bianca seraya menepuk pundak adiknya.
"Bagaimana menurut kakak, apa aku salah jika tergila-gila dengannya?"
"Firasat kakak mengatakan jika dia sudah mencintai seseorang." ucapan Bianca membuat Bima menoleh kepadanya, menatap tajam seolah meminta penjelasan dari ucapan sang kakak.
"Bhahaha... kakak bercanda, kenapa kamu serius sekali," gelak tawa Bianca tak tertahankan hingga membuat kasir yang berada di sana sudah memandang kearahnya.
"Tidak lucu tau!" ucap Bima kesal lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan Bianca.
"Hey! kau marah," seru Bianca namun tak di gubris oleh Bima.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊