
Di sebuah restaurant berbintang dengan desain tren masa kini. Almira sedang duduk di antara puluhan orang, yang dulu adalah teman-teman semasa SMA-nya. Semua orang yang ada di sana tak henti-hentinya memuji adik dari Alfaro Wilson itu, karena pesonanya tak kalah dari sang kakak.
"Oh iya Mira, tadi aku menonton acara kakak kamu di televisi, makin tampan saja, istrinya juga sangat cantik. Keluarga Wilson memang luar biasa."
"Kamu bisa saja, kami hanya keluarga biasa ... sekarang kakak ku sudah bahagia, aku juga ikut bahagia."
"Bagaimana dengan kamu sendiri, aku saja sudah punya anak, kapan kamu akan menikah?"
Almira terpaku sesaat. Pertanyaan horor yang selalu ia khwatikan jika akan bertemu dengan teman-temannya adalah "Kapan kamu akan menikah". Ia masih bisa tersenyum meski hatinya merasa sedikit tersentak. Bagaimana cara menjelaskan kepada mereka jika ia sedang menjalani Long distance relationship dengan seorang laki-laki yang mendominasi hati dan pikirannya saat ini.
"Oh itu ... tunggu saja kabar baiknya, aku juga tidak ingin terburu-buru," jawab Almira pada akhirnya, "Apa kita sedang menunggu orang lagi, kenapa tidak memesan makanan," ucap Almira untuk mengalihkan pembicaraan.
"Iya masih ada, masa kamu tidak ingat dengan ketua kelas kita."
"Kamu benar-benar tidak ingat Mira, dia kan yang dulu pernah menyatakan perasaannya sama kamu dan langsung di marahi habis-habisan sama Mama kamu."
"Maksudnya Dave?" tanya Almira.
"Nah iya, Dave sekarang pengusaha sukses loh, aku saja sampai tak percaya dia mau datang."
"Mungkin karena ada Almira."
"Ya, betul ... pasti karena ada kamu."
Almira hanya diam tanpa menanggapi ucapan teman-temannya. Dave, nama itu begitu tidak asing baginya. Nama dari seorang lelaki yang pernah menemani hari-harinya di masa SMA. Masa itu Almira menganggap Dave sebagai sahabatnya, namun siapa sangka ternyata Dave menyukainya.
Sampai pada suatu hari Dave menyatakan perasaannya kepada Almira. Almira yang dulu tak berpikir untuk jatuh cinta, tentu saja merasa kaget, karena ia hanya menganggap Dave sebagai teman. Waktu itu Almira tidak menjawab pernyataan Dave dan langsung pergi begitu saja. Kondisi semakin memburuk saat salah satu temannya melaporkan hal itu kepada Mama.
Mama datang ke sekolah Almira. Dan langsung memarahi Dave habis-habisnya. Sampai pada akhirnya orang tua Dave memutuskan untuk pindah Dave dari sekolah itu, di akhir semester. Semenjak hari itu, Almira tidak pernah lagi mendengar tentang Dave. Sampai sekarang Almira masih merasa bersalah kepada temannya itu, jika memang sekarang mereka harus bertemu, Almira tentu saja merasa kurang nyaman.
"Ehm ... teman-teman sepertinya aku harus pe--"
"Wah itu dia orang yang kita tunggu-tunggu."
Almira yang tadinya akan pamit, harus mengurungkan niatnya karena orang yang ia hindari sudah datang. Almira berusaha melihat ke sembarang arah.
"Selamat malam semuanya," sapa Dave seraya duduk di sebuah kursi yang sudah di persiapkan untuknya. Dan sialnya tempat duduk itu seolah sudah di atur agar berhadapan dengan Almira.
"Wah makin keren saja kamu Dave."
__ADS_1
"Kamu juga makin keren Jo," ucap Dave kepada temannya.
"Ehm, kok Mira diam saja ... tidak mau menyapa teman lama," ucap seorang teman wanita yang duduk di samping Almira.
Almira menggerakkan kepalanya secara perlahan, untuk melihat laki-laki yang saat ini ada di hadapannya. Almira berusaha tersenyum, meski ia sendiri tidak nyaman. Rasa bersalah di masalalu akibat perbuatan Mama masih sangat membekas dalam ingatan. Ia berharap Dave sudah melupakan kejadian itu.
Melihat Almira yang hanya diam, Dave berinisiatif mengulurkan tangannya terlebih dulu, "Apa kabar Almira, lama tidak bertemu."
Dengan ragu-ragu Almira menggerakkan tangan untuk menyambut uluran tangan teman lamanya itu, "Baik, senang bisa bertemu kamu lagi."
Semua orang yang ada di sana, sontak bersorak-sorai saat kedua teman lama itu kembali berjabat tangan setelah sekian lama. Dengan cepat Almira menarik kembali tangannya dari tangan Dave.
~
Acara makan malam itu berjalan dengan lancar. Meski masih saja terasa canggung saat teman-teman Almira dan Dave, menyinggung-nyingung masa lalu mereka.
"Dave kamu benar-benar masih jomblo?" tanya seorang teman laki-lakinya.
"Ya begitulah ... aku masih sibuk mengembangkan bisnis, cabang restaurant ku di Jakarta akan segera launching, nanti aku akan mengundang kalian," ujar Dave yang tak henti-hentinya melirik ke arah Almira.
"Kami tunggu undangan kamu."
"Mira, kenapa kamu hanya diam saja," tegur seorang teman, sampai Almira tersadar dari lamunannya.
"Oh iya apa," ucap Almira yang nampak kebingungan.
"Mira bagaimana dengan kamu, apa kamu sudah punya pacar?"
"Ya aku sudah punya pacar," ucap Almira lugas.
Ekspresi wajah Dave yang tadinya nampak ceria. Kini perlahan surut, setelah mendengarkan pernyataan Almira. Belasan tahun terbelenggu dalam perasaan yang sama, ia tidak menyangka jika hati Almira sudah di isi oleh orang lain.
Almira menyadari perubahaan ekpresi wajah Dave tapi ia tidak ingin menduga-duga, sudah belasan tahun berlalu dan ia pikir perasaan Dave itu hanyalah sebuah pernyataan cinta monyet yang telah sirna dan terkikis oleh waktu.
~
Pukul sembilan malam, acara makan malam itu akhirnya selesai. Almira pamit terlebih dahulu untuk pulang. Melihat Almira yang beranjak pergi, Dave segera berpamitan juga dan beranjak pergi untuk menyusul Almira.
Di halaman parkiran restaurant. Almira mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Karena Mama yang tidak henti-hentinya menelpon sejak tadi. Karena tak ingin membuat Mama semakin khwatir, ia pun segera mengangkat telepon itu.
__ADS_1
"Hallo Ma."
[Mira kamu sudah dimana?]
"Aku sudah di parkiran, aku akan pulang sekarang."
[Baiklah, hati-hati di jalan ya sayang.]
"Iya Ma."
Almira mematikan panggilan telepon itu dan hendak melanjutkan langkahnya ke tempat mobilnya terparkir. Namun langkahnya harus terhenti saat seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya dari belakang. Sontak saja Almira langsung berbalik.
"Dave," ucap Almira saat seraya melepaskan tangan Dave dari lengannya.
"Kenapa kamu buru-buru sekali, kita sudah lama tidak bertemu," ucap Dave.
"Itu bukan urusan kamu, maaf aku harus pulang sekarang," ucap Almira yang hendak kembali melangkah namun kembali di cegah oleh Dave.
"Apa benar kamu sudah memiliki pacar?" tanya Dave memastikan.
"Ya begitulah, aku tidak tahu kenapa kamu sangat ingin tahu urusan pribadi ku, tapi maaf aku merasa tidak nyaman, aku harap kamu--"
"Aku masih mencintai kamu," tegas Dave, membuat Almira tak melanjutkan ucapannya, "Persaan ku masih sama bahkan setelah kamu menolak ku belasan tahun berlalu."
"Ck, kau gila ... aku bilang aku sudah punya pacar," decak Almira kesal.
Dave mengalihkan fokusnya ke ponsel yang ada di tangan Almira. Dengan satu gerakan ia langsung merebut ponsel itu dari tangan Almira.
"Hey, kembalikan ponselku," ucap Almira seraya berusaha meraih ponselnya kembali, namun Dave tak bergeming dan tetap fokus mengetikkan sesuatu di ponsel itu. Setelah selesai ia mengembalikan ponsel itu kepada Almira.
"Apa yang kamu lakukan dengan ponselku," ucap Almira saat kembali memegang ponselnya.
"Ponsel yang di biarkan tanpa password ... ternyata kamu masih seceroboh dulu," ucap Dave kemudian terseyum kepada Almira, "Aku akan menghubungi mu nanti, sampai jumpa." Dave beranjak pergi meninggalkan Almira yang masih berdiri di posisinya. Almira sampai terperangah melihat sikap teman lamanya itu yang setelah sekian tahun ternyata tak banyak berubah.
Bersambung π
Siapa yang menunggu kisah cinta Bima dan Almira. Kisah yang akan di warnai dengan hadirnya Dave, orang dari masalalu Almira yang tiba-tiba saja datang. Bagaimana akhir perjuangan cinta Bima dan Almira? Ikuti terus kisahnya. ππ
Jangan lupa like+komen+votenya readers πβΊοΈ
__ADS_1