Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.118 (Pulang ke Malaysia)


__ADS_3

Almira berdiri di depan gedung utama WB grup. Masih begitu sepi, belum ada siapapun di sana kecuali petugas keamanan dan klining servis yang sedang membersihkan lobby. Ia menatap nanar kearah depan. Pikirannya benar-benar kacau saat ini.


Setiap momen yang ia lalui bersama Bima begitu berharga, namun satu kebohongan telah menghacurkan semuanya. Hal yang paling tabu dalam sebuah hubungan tak bisa di hindari namun apa daya hati tak sekuat baja. Harapan yang mulai terbangun kini perlahan pupus kembali.


Almira menundukkan kepalanya, matanya terpejam sesaat. Tas mewah yang ada dalam genggaman di cengkraman erat. Ia tak bisa menahan rasa sedihnya, cinta itu begitu menyesakkan saat semua hal yang menjadi impian terancam kembali harus terpisah jarak dan waktu. Semalaman ia berpikir apa cita-cita Bima lebih penting dari dirinya?


Kepalanya kembali ia angkat. Hendak berjalan masuk kedalam gedung dua puluh lantai itu, namun langkahnya tertahan saat dari arah belakang seseorang tiba-tiba saja menarik tangannya. Ya, orang itu adalah Bima. Almira terpaku sesaat memandang wajah seseorang yang menjadi sumber kebahagiaan dan sumber kesedihannya di saat yang bersamaan.


"Mira, kita harus bicara," pinta Bima.


Almira menarik tangannya dari cengkraman Bima, "Aku harus bekerja, sebaiknya kamu pulang," ucapanya yang hendak kembali melangkah, namun Bima tak menyerah ia kembali menarik tangan Almira agar kembali ke posisinya.


"Aku tidak akan pulang sebelum kita bicara," tegas Bima.


Almira menghela nafas panjang. Sungguh ia benci momen seperti ini. Kenapa momen menyedihkan seperti ini harus terjadi dalam hubungannya dan Bima, "Kita bicara di taman kantor, ikut aku." Almira melangkah melewati Bima, menuju kesebuah taman yang ada di sebelah kiri gedung itu, lalu di ikuti oleh Bima setelahnya.


~


Di sebuah taman yang di hiasi beberapa pohon dan juga tanaman hias lainnya. Almira menghentikan langkahnya, berbalik kebelakang untuk melihat Bima. Ia menelan salivanya sekuat tenaga, berusaha meyakinkan diri untuk langsung bertanya, apa benar yang ia dengar malam itu.


"Sekarang aku ingin bertanya ... apa benar kalau semua yang kamu katakan pada ku itu hanya kebohongan, pembukaan cabang itu belum selesai, apa benar begitu?" tanya Almira.


Bima memenjamkan matanya sebentar kemudian kembali menatap Almira lalu mengangguk perlahan, sebagai tanda pembenaran dari pertanyaan sang pujaan, "Maafkan aku," lirih Bima.

__ADS_1


Almira berusaha menahan tangisnya, namun mata yang memerah tak bisa di sembunyikan, "Apa menyenangkan? ... Melihat aku senang seperti orang bodoh karena ucapan mu," ucap Almira dengan wajah tertunduk. Ia kembali menegapkan kepala, menatap Bima yang ada di


hadapannya, "Kau bilang tidak akan pergi lagi dan akan mengembangkan bisnis di sini, aku tersenyum bahagia saat mendengarnya ...apa begitu menyenangkan bagimu?"


Mata Bima nampak memerah, kata-kata Almira begitu menusuk relung hatinya. Ya ucapan Almira tak ada salahnya lalu bagaimana ia harus bersikap sekarang karena ia telah buta oleh cinta, "Aku tersiksa ... saat kamu melihatku, tersenyum padaku dan mendukung ku ... aku merasa sangat tersiksa karena aku sudah gagal meraih mimpi ku. Aku mau menjadi orang yang pantas untuk mu, tapi aku tak bisa mewujudkannya, apalagi saat aku melihat kamu dekat dengan laki-laki lain, untuk itulah aku cepat-cepat menyusul kemari," ujar Bima dengan suara yang bergetar.


Akhirnya cairan bening itu keluar juga dari sudut mata Almira, namun ia segera menyekanya, "Apa kamu meragukan kesetiaan ku ... sejak awal aku tidak pernah meminta apapun darimu, aku hanya membutuhkan kamu saja, sungguh aku benar-benar tidak mengenal kamu sekarang." Almira melangkah pergi melewati Bima, namun Bima segera menyusul dan mencegah Almira untuk pergi.


"Jangan buat aku semakin terlihat menyedihkan. Tolong pergilah! ... Aku sangat malu, aku sangat malu dengan diriku sendiri karena sudah berharap lebih kepada orang yang memilih impiannya dan dari pada aku ... jadi tolong pergilah!" seru Almira dengan mata memerah dan emosi yang tak tertahankan.


"Mira, ku mohon maafkan aku," ucap Bima dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Bima ... bukan hubungan seperti ini yang aku inginkan, kamu tidak benar-benar menginginkan ku," ucap Almira kemudian melepaskan sebuah kalung yang beberapa bulan ini terpajang indah di lehernya. Di raihnya tangan Bima dan di letakkan kalung itu di telapak tangan Bima, "Aku juga bukanlah mimpi mu."


"Aku mau kamu tak terus keras kepala karena cita-citamu," ucap Almira lalu menarik tangannya dari genggaman Bima, "Kita harus terima kenyataan ini, kita sudah sama-sama dewasa, sampaikan terus bermimpi? Benar, kan? ... Sebaiknya sekarang kita sama-sama berpikir jernih sebelum memutuskan apakah hubungan ini akan lanjut atau berhenti sampai disini, pulanglah ke Malaysia dan pikirkan semuanya, aku tidak bisa bertemu dengan mu untuk sementara waktu."


Almira mengubah posisinya membelakangi Bima kemudian melangkahkan kakinya yang terasa begitu berat.


"Apa kamu benar-benar ingin aku pergi?" sahut Bima.


Almira kembali menghentikan langkahnya namun ia tetap berdiri membelakangi Bima, "Iya," ucap Almira dengan perasaan campur aduk, cairan kristal bening itu kembali keluar tanpa di lihat oleh Bima. Ia kembali melangkah dengan cepat, meninggalkan Bima yang masih diam mematung di posisinya.


Bima terduduk di sebuah kursi taman yang ada di sana. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia menyesal karena sejak awal tidak jujur, hingga membuat Almira berharap lebih kepadanya. Mungkin Almira benar, mereka butuh waktu untuk saling merenung, jangan terburu-buru untuk memutuskan, ia juga tidak ingin terlalu mendesak hingga membuat Almira semakin tidak nyaman.

__ADS_1


~


Sepulangnya dari kantor, Bima langsung membereskan barang-barangnya. Untung saja ia masih mendapatkan tiket penerbangan siang ini meski bukan kelas bisnis. Di depan teras Mama, Arumi, dan si kembar mengantarkan Bima sebelum masuk kedalam mobil yang akan membawanya ke bandara. Ia juga sudah pamit kepada Alfaro sebelumnya, dan Alfaro memaklumi jika memang itu yang terbaik untuk mereka.


"Uncle Bi, kenapa puyang," ucap Vino.


"Uncle belum main sama Yona," ucap Viona.


Bima mensejajarkan tubuhnya dengan si kembar Vino dan Viona, ia tersenyum kepada keduanya, "Uncle hanya pulang sebentar, nanti kita main lagi ya."


"okey Uncle," ucap Vino dan Viona dengan wajah cemberutnya.


Bima kembali berdiri dari posisinya. Ia menjabat tangan Arumi dan mencium tangan Mama, "Saya berangkat sekarang."


"Kamu hati-hati ya Bima," ucap Arumi.


"Sampaikan salam kami ke orang tua kamu ya, ucap Mama seraya menepuk pelan pundak Bima."


Bima menyeret kopernya menuju mobil yang akan mengantar ia ke bandara. Akhirnya ia harus kembali pulang. Setidaknya sampai situasi membaik dan bisa kembali bertatap muka dengan kepala dingin.


Bersambung 💓


Jangan lupa like, komen, votenya readers 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2