
Arumi melangkah dengan sebuah map yang di peluk erat, mengikuti langkah kaki pak ketua tim perencanaan. Ia beberapa kali menebuskan nafasnya karena terlalu gugup. Saat ini ia dan ketua tim akan menghadiri sebuah rapat dimana Arumi akan mewakili departemen perencanaan untuk mempresentasikan proposal proyek mereka.
Baru beberapa minggu bekerja, dan ia sudah di berikan kepercayaan sebesar ini. Hal itu bukan tanpa alasan, karena menurut ketua tim, Arumi merupakan wanita yang berbakat dan cerdas dan ia cukup pantas untuk mewakili seluruh anggota.
"Ayo kita masuk," ajak pak ketua saat melihat Arumi berhenti di ambang pintu ruang rapat.
"I-iya pak."
Arumi melanjutkan langkahnya. Rasa gugupnya semakin menjadi saat melihat seluruh peserta rapat sudah berada di sana, kecuali presdir mereka yang masih di tunggu kehadirannya. Ia mengambil posisi duduk di samping ketua tim.
Sambil menunggu, Arumi kembali membaca-baca materi yang akan ia sampaikan di presentasi kali ini. Ia sudah biasa mempresentasikan proposal penelitian saat kuliah dulu dan ini sudah menjadi makanan sehari-harinya. Tapi ia tetap merasa takut kalau saja ia sampai melakukan kesalahan di depan Alfaro nanti.
Pintu ruang rapat itu kembali di buka oleh seseorang yang ternyata, seketaris Aril. Semua orang berdiri untuk menyambut Presdir WB grup yaitu Alfaro Wilson. pandangan Arumi mengikuti Alfaro sampai Alfaro duduk di kursinya.
"Selamat siang semuanya, kita langsung mulai saja rapat kali ini. salah seorang dari tim departemen perencanaan akan mempresentasikan proposal proyek yang masih dalam tahap pengembangan, silahkan," kata seketaris Aril lalu mempersilahkan Arumi untuk maju ke depan.
Semula Alfaro terlihat cuek saja. Ia tidak tahu jika ternyata Arumi berada dalam satu ruangan yang sama dengannya dan Arumi pula yang akan melakukan presentasi kali ini. Ia menoleh ke sekertarisnya, seolah meminta penjelasan, kenapa Aril tidak memberitahunya tentang hal ini. Dan respon yang di berikan Aril, hanyalah sebuah senyuman.
Sebelum memulai, Arumi menghembuskan nafasnya dengan perlahan, memandangi puluhan pasang mata yang kini mengarah padanya.
Aku mohon aku tidak ingin gagal, Ibu... Ayah... bantu aku, batin Arumi.
"Selamat siang semuanya, perkenalkan saya Arumi Irawan, kali ini saya akan menyampaikan beberapa poin penting tentang masalah dan kendala di lapangan, untuk proyek pembangunan gedung apartement di wilayah X."
Alfaro terlihat sangat serius, memperhatikan apa yang Arumi sampaikan. Dengan lugas dan tegas, Arumi menyampaikan apa yang terpampang di layar infokus yang kini sedang menyala. Tidak di ragukan lagi, jika Arumi adalah wanita yang cerdas, semua orang di sana terlihat menganggukkan kepalanya karena mengerti dan memahami apa yang di sampaikan Arumi.
Sekilas senyum tipis itu hadir di wajah sang Presdir. Ia tidak menyangka jika istri kecilnya itu, memiliki bakat sebesar ini. Hanya saja takdir baik tidak berpihak kepada Arumi, di usia dua puluh tahun, ia sudah harus menikah dan menjadi seorang istri bayangan.
"Sekian dan terimakasih, semoga apa yang saya sampaikan tadi, bisa di pahami, agar proyek WB grup kali ini berhasil tanpa kendala apapun," ujar Arumi yang sudah selesai dengan presentasinya. Semua orang yang berada di ruangan itu bertepuk tangan untuk Arumi tapi tidak dengan Alfaro.
__ADS_1
Baru saja Arumi akan melangkah kembali ke tempat duduknya. Alfaro tiba-tiba saja bersuara, membuat langkah Arumi terhenti.
"Aku belum menyuruhmu untuk duduk, kemarilah." Alfaro sebenarnya sangat menyukai presentasi yang di berikan Arumi tapi ia masih saja ingin mengerjainya.
Jantung Arumi berdetak sangat cepat, ia beberapa kali menelan dengan susah payah. karena ucapan Alfaro yang tiba-tiba saja memanggil agar ia mendekat. Dengan langkah yang ragu-ragu, ia melangkah lalu berhenti di samping kursi Alfaro.
Alfaro beranjak dari duduknya dan berdiri tepat di hadapan Arumi. Arumi berusaha mengalihkan pandangannya, saat netra coklat itu menatap tajam kearahnya.
"Bukannya kamu pegawai baru?" tanya Alfaro.
Aril medekati sang bos saat ia mengerti jika yang di lakukan bosnya kali ini, sudah keluar dari zona keprofesionalan dalam bekerja.
"Tuan dia--" Baru saja Aril ingin bicara, Alfaro sudah mengarahkan telapak tangannya kepada Aril, seolah memberikan kode agar Aril tidak ikut campur kali ini.
Arumi mencengkeram erat ujung blazernya, lalu kemudian memberanikan diri menatap mata Alfaro, "Iya, benar Tuan."
"Nama kami siapa tadi, A... Arumi?"
Apa-apaan dia, kenapa bertanya seperti itu, kita memang harus bersikap layaknya orang asing saat di luar Mansion, tapi tidak perlu sampai lupa ingatan tentang nama, yang sudah aku katakan dari awal rapat tadi, perasaan ku mulai tidak baik tentang ini, batin Arumi.
"Iya benar," jawab Arumi.
"Apa yang kamu sampaikan tadi itu sangat luar biasa, untuk seorang karyawan baru yang belum pernah turun kelapangan secara langsung, saya rasa kamu harus pergi meninjau lapangan setelah rapat ini selesai, untuk mempermatang perencanaan proyek ini,"
Seketika seisi ruangan menjadi tegang. Bagiamana bisa Alfaro memerintahkan seorang pegawai wanita untuk meninjau lokasi proyek yang biasanya di tinjau oleh staf laki-laki yang sudah berpengalaman masalah lapangan.
Arumi terdiam sesaat karena perasaannya tadi benar-benar terbukti sekarang. Alfaro sedang mengerjainya lagi, "Baiklah, saya akan pergi Tuan." ucapan itu terlontar begitu saja, seolah mengibarkan bendera perang antar keduanya.
Apa yang kamu pikirkan, kenapa kamu tidak memohon agar aku menarik kembali perintahku, dasar keras kepala, batin Alfaro.
__ADS_1
Aril memijat-mijat keningnya. Tiba-tiba saja ia merasa pusing karena ulah bosnya yang malah di tanggapi oleh Arumi.
~
Rapat telah usai, dengan di ikuti oleh Aril, Alfaro masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya. Aril sengaja mengikuti Alfaro sampai ke ruang kerjanya, karena ia ingin menanyakan maksud Alfaro memutuskan hal yang menurutnya begitu gegabah.
"Tuan, Nona arumi bukanlah pekerja lapangan, dia tidak perlu pergi ke sana," tutur Aril.
"Kamu membelanya sekarang?" Alfaro manatap Aril dengan tajam.
"Bu-bukan begitu, tapi--"
"Biarkan saja, dia juga sudah setuju, lagi pula aku tidak menyuruhnya untuk menjadi pekerja bangunan di sana, aku hanya ingin ia meninjau lokasi, itu saja. Lebih baik kamu kembali ke mejamu, karena aku sedang sibuk."
Aril kembali terdiam, percuma saja ia bicara, karena Alfaro tidak akan pernah mendengarkannya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Alfaro tanpa bicara apapun.
...***...
Setelah rapat selesai, Arumi di temani Bima yang memang biasa di tugaskan departemen perencanaan untuk meninjau lapangan, akan segera berangkat. Bima berusaha melarang Arumi ikut karena cuaca hari ini sangat terik.
"Aku akan mengartakan kamu pulang, anggap saja kamu sudah pergi kesana, aku janji tidak akan mengatakan hal ini kepada siapapun," ucap Bima saat mereka sudah di parkiran kantor.
"Tidak Bim, aku akan tetap ikut, menghidar hanya akan membuat dia semakin besar kepala, ayo cepat, ini sudah jam dua siang." Arumi kembali melangkah menuju sebuah mobil milik perusahaan yang akan mereka gunakan ke lokasi proyek.
Bima menghela nafasnya dengan cukup berat. Ia benar-benar tidak tega jika harus membiarkan wanita sebening Arumi, pergi ke lokasi proyek yang di penuhi debu. Ia masih tidak paham apa yang membuat sang prsedir selalu mencari masalah dengan Arumi, mulai dari masalah ponsel dan kali ini masalah proyek.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1