Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.68 (Sakit yang mendalam)


__ADS_3

...Satu Minggu berlalu....


...🍂...


...🍂...


...🍂...


Aril berlari seraya menyeret kopernya di ikuti oleh Dinda yang mencoba menyeimbangkan langkah mereka. Saat keluar dari Bandara internasional Soekarno Hatta, sudah ada seseorang dari perusahaan yang menjemput Aril.


Raut wajah khawatir Aril begitu tergambar jelas, saat pagi tadi menerima panggilan telepon dari Almira bahwa Alfaro akan di pindahkan kerumah sakit yang ada di daerah Jakarta. Awalnya ia bingung, namun Almira menjelaskan perihal kecelakaan itu kepada Aril.


Almira baru bisa mengabari Aril ketika ia pulang ke Mansion untuk mengambil ponselnya karena saat pergi ke Bogor ia tidak membawa ponselnya. Aril dan Dinda bergerak dengan cepat memasukkan barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil.


"Aku ikut ke rumah sakit ya," pinta Dinda.


"Iya, cepat masuk," ucap Aril sambil membuka pintu mobil agar Dinda cepat masuk lalu di susul dengan dirinya.


Mobil itu bergerak cepat meninggalkan halaman Bandara menuju sebuah rumah sakit besar di pusat kota. Sepanjang perjalanan Aril tak henti-hentinya gelisah. Rasanya ia begitu menyesal pergi keluar kota meninggalkan Bos yang ternyata terlibat kecelakaan beberapa hari yang lalu.


"Tuan Al pasti baik-baik saja, tenanglah." Dinda berusaha menenangkan Aril. Meski mereka sudah seperti Tom and Jerry tapi di saat seperti ini tentu saja Dinda mengerti situasi saat ini bukan untuk bercanda.


"Aku harap juga begitu ... tapi kenapa Nona Arumi tidak mengabari kita, apa dia juga lupa membawa ponsel saat kerumah sakit di Bogor," ujar Aril.


"Entahlah, kita akan segera tau kalau sudah sampai disana."


...**...


Akhirnya setelah setengah jam perjalanan, mereka sampai juga di rumah sakit. Lagi-lagi Dinda harus berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan Aril. Sesuai arahan Almira, Aril dan Dinda naik lift menuju lantai tiga rumah sakit itu, dimana tempat Alfaro di rawat pasca di pindahkan dari rumah sakit di daerah Bogor.


Saat sampai di depan pintu, Aril berhenti tiba-tiba, hampir saja Dinda menabrak punggungnya. Ia mencoba mengatur nafas sebentar baru Kemudian meraih handel pintu dan langsung memasuki ruangan. Di dalam ruangan itu mereka bisa melihat Alfaro yang belum sadarkan di atas ranjang rumah sakit.


Disana juga ada Mama dan Almira yang selalu setia duduk di samping Alfaro. Aril dan Dinda melangkah mendekat. Raut wajah Aril sangat khawatir, sementara Dinda malah sibuk melihat ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan Arumi yang sejak tadi tak ia lihat keberadaannya.

__ADS_1


"Kak Aril," ucap Almira saat melihat kedatangan Aril dan Dinda.


"Bagaimana keadaan Tuan Al?" tanya Aril yang sudah berdiri di sisi kiri ranjang rumah sakit itu.


"Dokter bilang dia akan segera sadar sebentar lagi," sahut Mama.


"Syukurlah kalau begitu." Aril menghembuskan nafasnya dengan panjang, karena merasa lega kondisi Alfaro sudah membaik.


"Tapi, dimana Arumi, saya tidak pernah melihatnya sejak tadi?" tanya Dinda tiba-tiba.


Almira melirik Mama yang hanya diam tanpa jawaban. Jika bukan Mama yang menjelaskan, haruskah dirinya? Aril dan Dinda saling menatap sesaat karena melihat ekspresi wajah Mama dan Almira yang tiba-tiba saja berubah.


"Kak Rumi ... dia pergi meninggalkan Kak Al," jawab Almira pada akhirnya.


"A-apa pergi ... Kemana?" tanya Dinda yang semakin penasaran.


"Kami juga tidak tau, tapi setelah dia ketahuan mengkonsumsi obat penunda kehamilan, dia pergi begitu saja. Kecelakaan yang di alami Alfaro juga karena dia kecewa dengan Arumi," tutur Mama dengan akting yang amat sempurna.


"Apa Nyonya sudah mencari Nona?" tanya Aril.


"Untuk apa mencari wanita yang sudah membuat anak saya menjadi seperti ini, biarkan dia pergi kemanapun dia mau," sahut Mama yang mulai terlihat kesal.


Dinda dan Aril tak lagi bisa berkata-kata. Mereka takut jika terus bertanya, Mama malah akan bertambah emosi. Di tengah ketegangan yang terjadi, tiba-tiba saja tangan Alfaro mulai bergerak,matanya mulai terbuka dan langsung menoleh kearah Mama dan Almira.


"Sayang, kamu sudah sadar," ucap Mama saat berdiri dari duduknya,


"Saya akan memanggil dokter," ucap Aril lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan itu.


Alfaro tak memperdulikan Mama yang memeluknya. Ia sibuk menoleh kekanan kiri dengan lemah. Mencari seseorang yang ia rindukan keberadaannya. Mama menatap Alfaro yang sejak tadi menoleh ke kanan kiri.


"Kamu mau sesuatu Al, katakan pada Mama?" tanya Mama seraya mengusap kepala anaknya.


"A-arumi ... dimana Arumi," ucapnya dengan lemah."

__ADS_1


"Sudah Al, jangan mencarinya lagi ... dia sudah pergi meninggalkan kamu, dia tidak memperdulikan kamu lagi," ucap Mama.


"Mama bercanda kan?" tanya Alfaro.


"Tidak Al, wanita itu sudah pergi meninggalkan kamu," jawab Mama.


Alfaro menatap Mama tak percaya. Apa yang telah terjadi setelah tidur panjangnya, apa benar Arumi pergi meninggalkannya. Sebelum sadar tadi ia bermimpi, Arumi menaiki sebuah perahu menuju seberang lautan seraya melambaikan tangan dengan raut wajah penuh kesedihan. Alfaro mencoba memanggil namun tak ada jawaban. Dan saat ia mencoba menyusul Arumi dengan cara berenang, tiba-tiba ia tenggelam dan saat ia membuka mata, ia sudah berada di sebuah ruangan dengan cairan infus yang menggantung di sudut ruangan.


"Tidak ... tidak mungkin." Lagi-lagi Alfaro menggeleng tak percaya, "Arumi...Arumi kamu dimana!!!!" tiba-tiba saja Alfaro berteriak dengan mata yang berkaca-kaca. Ia harap ini hanyalah sebuah mimpi, mimpi buruk yang akan segera berakhir.


Perlahan ia mencoba bangkit dari posisinya, membuat Mama, Almira dan Dinda menjadi panik, karena kondisi Alfaro yang belum sembuh sepenuhnya.


"Al apa yang kamu lakukan!" pekik Mama saat melihat Alfaro mencabut jarum infus yang menempel di punggung tangannya.


"Aku harus mencari Arumi Ma, dia pasti mengira aku marah kepadanya, aku harus mencarinya Ma!"


Almira dan Dinda mencoba menahan lengan Alfaro yang hendak turun dari atas ranjang rumah sakit. Karena kondisi yang masih lemah, Alfaro tidak bisa berbuat banyak meski dia ingin.


"Lepaskan aku! Aku harus mencari Arumi," teriak Alfaro dengan nada lemah karena kehabisan tenaga, kesedihannya begitu mendalam hingga air mata yang tak pernah di tunjukkan kepada orang lain, kini mengalir deras.


"Kak tenanglah," ucap Almira dengan suara bergetar karena tak bisa menahan tangisnya. Untuk pertama kalinya ia melihat sang kakak dalam kondisi terburuknya.


Sedangkan Mama, bergerak mundur ke belakang. Ia tidak menyangka jika Alfaro begitu mencintai Arumi hingga seperti ini. Ia hanya pernah melihat Alfaro menangis sebanyak tiga kali, yaitu saat petama kali dilahirkan, saat ayahnya meninggal dan saat ini. Nasi sudah menjadi bubur, ia sudah terlanjur melangkah jauh untuk memisahkan Arumi dan Alfaro, tak ada kata penyesalan untuk Mama atas apa yang telah terlanjur ia perbuat.


Tak lama Aril datang bersama dengan seorang dokter dan juga perawat. Aril sangat kaget saat melihat kondisi Alfaro. Nama Arumi tak henti-hentinya terucap dari mulutnya. Meskipun tubuhnya hampir tumbang, namun ia tetap berusaha untuk turun dari tempat tidur itu untuk mencari Arumi.


Dokter itu bergerak cepat menyuntikkan obat penenang kepada Alfaro. Hingga pada akhirnya ia kembali menutup mata dan bisa kembali terbaring di atas tempat tidur. Aril mengusap wajahnya dengan kasar, ini bahkan lebih parah dari pada saat Sarah pergi meninggalkan Alfaro.


Kenapa Anda harus kembali kehilangan dalam satu tahun yang sama, apa yang harus aku lakukan sekarang, batin Aril.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍

__ADS_1


__ADS_2