
Sekitar pukul delapan pagi. Dinda sedang sibuk untuk bersiap-siap ke Bandara. Karena malam tadi sibuk mengepak barang, akhirnya ia terlambat bangun pagi ini. Ibu masih sibuk di belakang, entah memasak apa yang pasti makana kesukaan Dinda yang akan Ibu bungkus untuk di bawa keluar kota.
"Bu! Udah belum, aku mau berangkat nih," ucap Dinda seraya memasukan beberapa barang berukuran kecil di dalam tas selempang-nya.
"Iya, bentar!" Teriak Ibu dari dalam.
Tak lama Ibu datang mengahampiri Dinda yang sedang duduk di ruang tamu. Ibu menyodorkan sebuah kotak bekal yang sudah di masukkan kedalam plastik. Dinda mengeryitkan keningnya, indra penciumannya mendeteksi sebuah bau khas dari makanan kesukaannya tapi masa iya, ibu ingin memintanya untuk membawa makanan itu ke Bali.
"Dari baunya, ini semur jengkolkan?" tanya Dinda seraya terus mengedus bau di plastik itu.
"Ya iyalah, apa lagi." Ibu meletakkan kantung plastik itu di atas meja.
"Gimana sih bu, masa iya Dinda ke Bali bawa semur jengkol, biasanya di hotel orang-orang makannya steak kalau nggak shushi," ujar Dinda.
"Gaya bener makan stik, susi, makan daging aja mual lu," oceh Ibu.
"Iya juga sih ... tapi ogah ah, nanti kalau baunya kecium satu pesawat, terus pesawatnya jatuh gimana?"
"Masa iya?... kalau gitu kagak usah di bawa deh, kagak lucu juga ada pesawat jatoh gara-gara bau jengkol," ujar Ibu lalu kembali meraih plastik itu.
"Ya elah, kirain khawatir sama anak sendiri, ini malah pesawatnya." Dinda menggelengkan kepalanya, karena ucapan ibu yang selalu di luar dugaan.
Tritt tritt.
Terdengar suara klakson mobil dari halaman depan. Ternyata taksi online pesanannya sudah datang. Ibu membantu Dinda membawa barang-barang itu keluar. Supir taksi itu juga membantu untuk memasukkan barang-barang ke bagasi mobil. Setelah semua selesai, ia menghampiri Ibu untuk pamit sebelum pergi.
"Bu, Dinda pergi dulu ya," ucapnya seraya memeluk ibu.
"Iya, inget jaga diri baik-baik." Ibu menyeka air matanya, meskipun sering bertengkar dengan Dinda tapi Ibu tetaplah menyayangi anak tunggalnya itu, dan ini adalah untuk pertama kalinya Dinda pergi jauh dari Ibu.
Setelah ucapan perpisahan yang cukup dramatis. Dinda melangkah masuk kedalam mobil. Mobil itu mulai bergerak pergi. Dinda membuka kaca jendela mobil dan melambaikan tangan kepada ibu. Entah kenapa begitu berat padahal ia hanya berada di bali selama satu minggu kedepan.
~
Mama dan Almira sedang merapikan barang-barang yang akan mereka bawa pulang ke Amerika besok pagi. Keputusan Mama untuk pulang sudah semakin bulat. Ia tidak tahan jika harus terus melihat wajah Arumi berkeliaran di Mansion ini. Almira hanya diam tanpa biacara seraya terus memasukkan baju-bajunya di dalam koper.
__ADS_1
Almira pun mulai berpikir, apa jika kelak ia memiliki pilihan hatinya sendiri dan orang itu hanya orang biasa, apa Mama juga akan bersikap batu seperti ini. Ia tidak pernah berpikir untuk berpacaran karena ia takut merasakan kecewa seperti yang di rasakan sang Kakak pada Mama.
"Ma, pergi dengan cara seperti ini sangat tidak baik, apa tidak sebaiknya Mama meminta maaf dulu kepada Arumi dan Kakak," ujar Almira yang saat ini duduk di tepi ranjang Mamanya.
Mama yang tadinya sibuk mengepak barang, kini menoleh kearah Almira, "Maaf ... memangnya apa salah Mama? Yang harusnya minta maaf itu kakak kamu!" tegas Mama.
Almira kembali terdiam. Percuma saja ia bicara, sudah pasti ia akan kalah dengan Mama. Sebagai seorang wanita yang berpendidikan dan beretika baik, Almira sangat pantang membangkang perkataan Mama. Meski tak jarang ia melewati batas karena sudah tidak tahan tapi setelah itu pasti ia akan menyesal karena perbuatannya.
...***...
Aril, Arumi dan Alfaro sedang duduk di kursi tunggu Bandara. Waktu keberangkatan sebentar lagi dan Dinda belum datang juga. Arumi mencoba menghubungi Dinda, tapi tidak di jawab. Akhirnya mereka hanya terus menunggu dan berharap Dinda segera datang.
Arumi dan Alfaro tidak ikut ke Bali. Tapi saat Alfaro mengatakan jika Dinda akan ikut ke bali bersama Aril, Arumi memutuskan untuk mengantarkan Dinda meski hanya sampai bandara. Sebenarnya ia begitu ingin ikut, karena pasti akan sangat seru liburan bersama dengan sahabatnya itu.
Tapi melihat sang suami sangat sibuk, akhirnya ia memutuskan untuk memendamnya saja tanpa mengatakan kepada Alfaro. Apalagi mereka masih dalam tahap meminta restu Mama, rasanya kurang sopan jika harus pergi liburan di saat situasi seperti ini.
"Rumi!!" teriak Dinda.
Dinda berlari mengahampiri Arumi dan yang lainnya, dengan menyeret koper dan menjinjing tas lainya. Arumi melambaikan tangan saat dari jarak dua puluh meter, ia bisa melihat Dinda. Aril pun bisa bernafas lega, akhirnya orang yang di tunggu datang juga karena waktu keberangkatan tinggal beberapa menit lagi.
"Maaf ... aku terlambat bangun karena berkemas sampai larut malam," ucap Dinda dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Aku baru tau malam tadi kalau kamu juga ikut ke luar kota. Jika tahu lebih awal, aku pasti akan membantu kamu berkemas," ujar Arumi.
Ting.
Sebuah speaker bebunyi dan suara announcement mulai terdengar. Bahwa pesawat dengan tujuan Bali akan segera berangkat dan diharapkan semua penumpang memasuki pesawat. Arumi dan Dinda saling berpelukan, melepas rindu karena akan berpisah.
...**...
Dalam perjalanan menuju Mansion. Arumi hanya diam sambil menatap keluar jendela. Alfaro melirik sang istri yang terlihat murung. Ia meraih tangan Arumi dan langsung menggengam-nya. Sontak Arumi langsung menoleh kearah sang suami yang saat ini sedang fokus menyetir.
"Kamu kenapa?" tanya Alfaro.
"Tidak apa-apa Mas, aku hanya memikirkan Dinda, dia pasti akan sangat senang saat sampai kesana," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu juga mau liburan?" tanya Alfaro tiba-tiba.
"Emm itu ... sebenarnya aku mau, tapi waktunya belum tepat."
"Yang sabar ya, kalau pekerjaan Mas sudah selesai, kita akan atur waktu bulan madu, agar kamu bisa cepat hamil."
Deg.
Tiba-tiba saja Arumi mengingat jika di pil Kb itu masih berada di apartement bersama dengan barang-barang lain yang belum di pindahkan ke mansion. Ia sudah tidak memakannya lagi sejak ia yakin dengan perasaannya kepada Alfaro tapi entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak.
"Mas, kita mampir ke Apartement sebentar ya, aku ingin mengambil beberapa barang-barang ku," pinta Arumi.
"Tidak perlu sayang ... Mas sudah meminta orang untuk memindahkan semua barang-barang kita ke Mansion, jadi kamu tidak perlu capek-capek untuk beres-beres, Mas juga sangat sibuk, setelah mengantar kamu ke Mansion Mas harus kembali ke kantor," ujar Alfaro.
Arumi menelan salivanya dengan sekuat tenaga. Jangan sampai yang ia takutkan itu terjadi.
~
Setelah selesai berkemas, Mama turun ke lantai bawah untuk bersantai di taman belakang. Menyegarkan pikiran dengan secangkir teh herbal dan kue. Saat sampai di ujung tangga, ia melihat beberapa orang masuk sambil membawa koper dan beberapa barang lainnya. Langsung saja Mama mengahampiri mereka.
"Apa ini?" tanya Mama.
"Ini Barang-barang milik Nona Arumi dari apartement, Tuan Alfaro meminta kami membawanya kemari.
Mama memutar bola matanya malas seraya berpangku tangan, "letakkan saja di situ, itu barang-barang yang tidak penting."
Mereka meletakkan barang-barang Arumi di sudut ruangan. Mama hendak beranjak pergi meninggalkan tempat itu, namun salah seorang petugas itu memanggilnya. Mama mengehentikan langkahnya dan berbalik melihat orang itu.
"Apa lagi?" tanya Mama malas.
"Ini Nyonya, saya menemukan botol kecil ini di bawah tempat tidur apartement saat bersih-bersih. Sepertinya ini adalah obat yang mungkin saja penting, jadi saya membawanya kemari." Orang itu menyodorkan botol kecil itu di hadapan Mama, tanpa basa-basi Mama meraih botol kecil itu.
Saat barang sudah di tangan, Mama mencoba membaca tulisan yang tertera di label obat itu, tulisannya sangat kecil hingga Mama harus membacanya lebih dekat lagi. Setelah beberapa saat, ekspresi wajah Mama tiba-tiba saja berubah. Karena di sana tertera tulisan obat KB penunda kehamilan. Senyum menyeringai licik kini menghiasi wajah Mama. Entah apa yang Mama pikirkan yang jelas itu pasti sesuatu yang tidak baik.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
Jangan pada tegang ya, berat ... biar author aja 🤭 next siang ini ya kak, 🙏