Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.57 (Harus datang)


__ADS_3

Di apartement, Mama dan Almira bersiap-siap untuk pulang ke Mansion. Karena kondisi Mama yang sudah lebih baik.


"Mama tidak mau ke rumah sakit dulu, untuk cek up rutin, sepertinya tekanan darah Mama naik," ajak Almira.


"Tidak usah, Mama baik-baik saja kita langsung ke Mansion saja," tolak Mama yang saat ini sedang berjalan menuju pintu keluar.


Almira menyusul Mama yang sudah hendak keluar dari pintu. Namun tiba-tiba saja matanya menangkap sebuah sepatu wanita yang tergeletak di rak sepatu yang ada di pojok ruangan.


"Kamu lihat apa?" tanya Mama sambil menoleh kearah Almira.


Amira langsung menghampiri Mama, agar tidak melihat apa yang sedang ia lihat saat ini.


"Tidak ada apa-apa kok Ma, ayo pergi aku sudah sangat lapar," ucap Almira seraya menarik tangan Mama keluar dari dalam unit apartment itu.


Dalam benak Almira ia kembali mengumpulkan potongan-potongan fakta yang sedikit demi sedikit terkumpul. Hal yang semakin meyakinkannya jika sang kakak pasti memiliki seorang wanita yang identitasnya di rahasiakan dari semua orang.


~


Masih di tempat yang sama, Arumi dan Alfaro sedang duduk di bibir pantai. Dengan beralaskan pasir pantai. Kaki mereka selonjoran kedepan, tangan saling menggenggam erat, kepala saling bertumpu. Hati kini telah tenang, karena menyelesaikan apa yang sempat menyesakkan.


"Mas?" panggil Arumi.


"Ya, kenapa," ucap Alfaro yang tetap menatap lurus kedepan.


"Sebentar lagi ulang tahun perusahaan, pasti pekerjaan kamu sangat banyak, apa tidak apa-apa jika kamu malah disini?"


"Tidak apa-apa, aku akan lembur malam ini karena kamu lebih penting dari semua perkejaaan yang menumpuk di meja kerja ku," ujar Alfaro.


"Pasti ketua tim perencanaan mencari ku sekarang," ucap Arumi, lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Oh iya, di acara ulang tahun nanti kamu harus berpenampilan lebih cantik dari biasanya. Pakailah kartu yang aku berikan kepada mu untuk membeli gaun dan segala macam kebutuhan mu," ujar Alfaro.


"Huh, aku malah berencana untuk tidak datang," ucap Arumi.


Alfaro menegapkan kepalanya, menatap sang istri yang juga sedang memandanginya, "Kenapa? Pokoknya kamu harus datang," tegas Alafro. Jika Arumi tidak datang berarti sia-sia saja rencananya.


"Haha, aku cuma becanda Mas, tentu saja aku datang untuk menyaksikan kesusksesan seorang Alfaro Wilson," ucap Arumi.


"Kamu benar-benar ya, aku sudah merenc--" ucapan Alfaro terhenti, hampir saja ia mengatakan hal yang masih ia rahasiskan pada Arumi.


"Apa Mas?" tanya Arumi penasaran.


"Ah itu ... maksud ku, ya pokoknya kamu harus datang," ucap Alfaro yang terlihat gelagapan.


~

__ADS_1


Bandara internasional Soekarno Hatta


Bianca berlari saat dari jarak tiga puluh meter, seorang laki-laki tinggi sedang merentangkan tangan untuk menyambutnya dengan pelukan. Satu langkah lagi dan akhirnya ia melompat kedalam pelukan sang pacar. Tangan Bianca melingkar di leher pria itu, kepalanya menempel di dada bidang yang tertutup jaket tebal.


Sudah lima bulan mereka tidak bertemu, karena kesibukan masing-masing di tambah lagi Bianca yang pergi ke Indonesia. Long distance relationship yang mereka lalui tidak membuat cinta itu surut, sudah sama-sama yakin, dengan satu misi dan visi yang sudah sama-sama kuat. Dan setelah ini tinggal satu langkah lagi untuk meraih impian itu.


"I really miss you so much ( Aku sangat merindukan mu)," ucap Bianca dengan linangan air mara bahagia.


"I also miss you so much (Aku juga sangat merindukan mu)" ucap pria itu.


Pelukan itu terlepas, mereka saling menatap satu sama lain, melemparkan senyum yang sudah lama tak bersua. Tangan mereka saling menggenggam, lalu berjalan beriringan menuju sebuah hotel yang sudah Bianca pesan untuk sang pacar, sebelum menyambut hari esok dimana ia akan memperkenalkan Pria itu kepada orangtuanya.


...***...


Cahaya kemerahan dari langit senja membuat dua pasang anak manusia yang sedang memadu kasih, mulai melangkah pergi. Pergi dari tempat itu dan mulai kembali kepada kenyataan, bahwa di hadapan semua orang mereka harus kembali menjadi orang asing. Setidaknya hanya sampai pengakuan itu terucap dari mulut seorang Alfaro Wilson.


Kini Alfaro dan Arumi sedang dalam perjalanan pulang. Sebelum sampai ke Apartement, Alfaro menghubungi Aril, untuk memastikan Mama dan adiknya sudah pulang ke Mansion. Alfaro menoleh tiba-tiba kearah sang istri, saat ingatan tentang permintaan Mama yang memintanya untuk pulang ke Mansion hari ini belum ia katakan kepada Arumi.


"Rumi," panggilannya.


"Ya, kenapa Mas?"


"Hari ini ... aku akan pulang mansion karena Mama memanggil, kamu tidak apa-apa di apartemen sendiri?"


"Oh ya aku baik-baik saja, pergilah kasihan Mama sudah lama Mas tidak pulang ke Mansion," ucap Arumi dengan senyum yang merekah, namun hati tak berkata sama.


"Oh Dinda ... terimakasih Mas, setidaknya aku ada teman bicara," ucap Arumi.


"Iya sama-sama, aku akan sangat merindukan mu."


"Kita akan bisa bertemu lagi di acara ulang tahun perusahaan nanti,


...***...


Di apartemen Alfaro.


Dinda tak henti-hentinya memperhatikan setiap inci Ruangan di apartemen itu. Mewah, mungkin itulah kata-kata yang sekarang menempel di pikiran Dinda. Ia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya akan mendapatkan keberuntungan seperti ini. Ia pun mulai berpikir mungkin saja di kehidupan sebelumnya Arumi adalah seorang yang sangat baik, sehingga di masa sekarang Arumi bisa mendapatkan Alfaro sebagai suami.


"Kamu lihat apa?" tanya Aril yang saat ini sudah di belakang Dinda.


"Lukisan ini pasti sangat mahal, dan guci besar ini juga ... Arumi beruntung sekali," ucap Dinda seraya menggeleng perlahan.


"Nona memang sangat beruntung karena di cintai oleh seorang Alfaro Wilson, tapi Mama Tuan Al adalah hambatan satu-satunya," ujar Aril.


"Ya, Anda benar ... sampai kapan Arumi harus menjalani kehidupan seperti ini, kapan dia akan melepaskan topeng yang di pasangkan oleh suaminya sendiri?"

__ADS_1


"Nanti juga kamu akan tahu, sebentar lagi, tinggal beberapa langkah lagi," ujar Aril sambil menoleh kearah Dinda.


"Apa Tuan Al merencanakan sesuatu?" tanya Dinda penasaran.


Aril menatap Dinda yang kini sedang menunggu jawaban darinya. Ya mungkin sebaiknya Dinda tahu tentang rencana itu, agar Dinda bisa membantu melancarkan rencana yang akan segera terealisasi.


"Ini sebuah rahasia yang tidak boleh di ketahui oleh Nona Arumi, apa kamu bisa menutup mulut?"


"Iya saya janji, ayo cepat katakan," ucap Dinda sambil mengangguk mantap.


"Sebenarnya, Tuan Al akan mengumumkan pernikahannya di pesta ulang tahun perusahaan lusa," ucap Aril berbisik.


"Apa! Di hadapan semua karyawan WB grup?" tanya Dinda yang cukup tercengang.


"Iya ... jadi aku minta sama kamu, pastikan Nona datang tepat waktu," ucap Aril.


"Wah, aku jadi tidak sabar, baiklah ini adalah sebuah misi, kita harus menyukseskannya," ucap Dinda yang sangat antusias.


"Duduklah di sofa, sebentar lagi Nona akan sampai," pinta Aril.


"Baik."


Aril berbalik melangkah lebih dulu lalu di susul oleh Dinda. Namun karena tidak melihat-lihat, Dinda tersandung ujung karpet yang tergulung kertas.


Aahhhk.


Mendengar teriakkan itu, sontak saja Aril yang berada di depan Dinda langsung berbalik dan sedetik kemudian.


Bukk.


Dinda terjatuh tepat di atas tubuh Aril. Matanya terpejam lalu beransur terbuka saat ia merasakan tubuhnya tidak sakit karena terjatuh ke lantai. Saat matanya terbuka sempurna, yang pertama kali ia lihat adalah wajah Aril yang hanya tersisa beberapa centimeter saja dari wajahnya, hembuskan nafas Aril pun terasa hangat menerpa kulit wajah Dinda.


"Apa ka-kamu tidak berencana untuk turun, kau itu sangat berat!" seru Aril untuk menutupi rasa gugupnya.


"Oh i-iya." Baru saja Dinda hendak mengubah posisinya. Pintu apartemen itu tiba-tiba saja terbuka. Arumi dan Alfaro menghentikan langkah mereka saat mendapati Aril dan Dinda sedang dalam posisi yang tidak biasa hingga menimbulkan spekulasi yang negatif dari Arumi dan Alfaro.


"Dinda," ucap Arumi.


"Aril," ucap Alfaro.


"Apa yang kalian lakukan!" seru Arumi dan Alfaro secara bersamaan.


Bersambung 💓


Jangan lupa like+komen+vote ya readers.

__ADS_1


Lanjut malam ini ya readers, huh listrik baru hidup, sempatin up walau satu bab, malam ini author kebut nulis tiga bab untuk besok ya untuk menyelesaikan pengakuan cinta Alfaro kepada Arumi. terimakasih untuk yang selalu setia menunggu, Nggak tau lagi harus ngomong apa atas dukungan kakak-kakak semua yang luar biasa. 😭😭😭❤️❤️❤️ sampai jumpa di bab selanjutnya, author harus kembali beraktivitas di luar kepenulisan novel 😘😘


__ADS_2