
Roda mobil itu akhirnya berhenti berputar. Alfaro memicingkan matanya saat melihat sebuah motor matic terparkir di halaman rumah Arumi. Aril yang masih memegang setir mobil, melihat dari cermin, tak ada pergerakan apapun dari sang bos. Hingga akhirnya ia mulai bicara.
"Anda tidak turun Tuan?" Aril berkata tanpa menoleh kepada Alfaro.
"Kamu ikut turun dengan ku, aku hanya ingin melihat dia sebentar saja, " pinta Alfaro lalu melangkah turun tanpa menunggu persetujuan dari sang seketaris.
Tanpa bertanya, Aril keluar dari dalam mobil dengan wajah tertunduk lesu. Pikirannya masih di bayangi rapat yang sudah tersusun apik, kini harus di batalkan begitu saja. Mungkin klien tidak masalah, semua bisa di atur kembali, tapi untuk mencari waktu di tengah kesibukan masing-masing, itu tidak lah mudah untuk seorang sekertaris yang mencangkup berbagai sisi kehidupan bosnya.
Suara dedaunan kering terdengar garing saat pijakan kaki itu semakin mendekat ke teras rumah sederhana dengan cat yang sudah mulai memudar. Mulai saat ini bukan hanya Arumi yang harus masuk kedalam hidupnya namun ia juga akan mulai memasuki kehidupan sang istri, kehidupan yang jauh dari kelas yang sudah mendarah daging saat ia terlahir ke dunia.
Pintu rumah itu tidak terkunci, terdengar suara gelak tawa dari dalam yang membuat Alfaro tak sabar untuk masuk. Tanpa mengetuk dan mengucapkan salam, Alfaro di ikuti oleh Aril masuk kedalam. Matanya membulat saat padanganya fokus melihat wajah sang istri yang di lapisi sesuatu berwarna hitam pekat. Ya, seorang seperti Alfaro tidak akan pernah tahu apa itu masker wajah dan cream pencerah wajah.
"Muka kamu kenapa?" tanya Alfaro yang tiba-tiba sudah berada di hadapan sang istri, dengan tatapan penuh khawatir. Ia menyentuh wajah sang istri dengan tangan bergetar, sesuatu yang menempel di wajah Arumi tidak lebih dari sebuah lumpur pekat baginya.
Aril menepuk jidatnya sendiri dan menggeleng perlahan, semenjak kecil hanya bergaul pena dan kertas, membuat sang Bos tidak tau banyak tentang wanita. Siapa yang tidak terkejut saat tengah asik bersantai tiba-tiba saja seseorang datang dengan wajah paniknya. Masker Dinda sampai retak, karena tak kuat menahan lekungan pipi yang tertarik keatas. Jiwa jomblonya bergetar saat melihat pria tampan nan kaya raya sedang duduk bersimpuh di hadapan sang sahabat.
"Ke-kenapa bisa disini?" tanya Arumi dengan nada suara datar dan ekpresi terkejutnya.
"Apa yang kamu lakukan dengan wajah cantik mu, bagaimana cara menghilangkan ini." Alfaro sedang sibuk dengan kepanikannya, sementara Arumi malah berusaha menahan diri agar tidak tersenyum. Andai wajahnya tidak di tutupi masker, pasti sudah terlihat merona merah bak udang rebus.
Dia bilang aku cantik.
Tak tahan dengan ke polosan bos dan Nona yang juga tidak juga berniat menjelaskan, Aril memdekati sang bos, ikut bersimpuh dan membisikkan sesuatu ke telinganya.
"Itu masker wajah tuan, untuk menyegarkan dan mengencangkan kulit wajah," bisik Aril pada Alfaro.
Wajah panik itu perlahan surut, tangan yang tadinya mencengkram erat pundak sang istri, kini juga telah mengendur. Suasana seketika menjadi hening suara jangkrik pun seakan mengusai keheningan, Alfaro menggerutuki dirinya sendiri, merenungi kebodohannya yang baru saja ia perlihatkan di depan wanita yang menganggapnya pria dingin, tegas dan berwibawa. Mungkin setelah ini pandangan Arumi padanya akan sedikit berubah, bahwa ternyata Alfaro tidak secerdas itu.
"Aku akan mencuci muka dulu." Arumi beranjak dari kursi dan melangkah pergi, meninggalkan Alfaro yang masih diam mematung dengan posisi bersimpuh dengan tatapan kosong.
"Rumi, aku ikut," sahut Dinda lalu mengikuti langkah Arumi menuju kamar mandi belakang.
Aril mendekat pelahan, menatap sang bos yang kini berada di hadapannya. Ia tahu, pasti sekarang bosnya sedang dalam mode siaga kehancuran harga diri yang begitu mendalam hanya karena masker wajah yang tak pernah ia tau sebelumnya.
"Tuan, anda baik-baik saja." Ucapan yang selalu Aril ucapkan saat Alfaro diam membisu karena sesuatu.
"Pastikan Arumi dan temanya melupakan kejadian tadi," ucapnya datar seraya berdiri dari posisinya.
Apa aku Tuhan? Hingga bisa membuat seseorang lupa ingatan, terkadang permintaan anda benar-benar di luar nalar, batin Aril.
Tak lama Arumi dan Dinda muncul dengan wajah yang sudah bersih. Alfaro berusaha menormalkan diri, dan besikap biasa-biasa saja. Dinda meraih tasnya yang ia gantung di sebuah paku yang tertancap di dinding rumah itu.
__ADS_1
"Rumi aku pulang dulu ya," ucap Dinda pada sahabatnya itu.
"Makasih ya, maaf karena rencana kita hari ini gagal," ucap Arumi penuh penyesalan.
"Iya tidak apa-apa." Dinda beralih, menatap Alfaro dan sang seketaris secara bergantian, "Tuan-tuan saya pulang dulu permisi." Dengan langkah cepat Dinda beranjak pergi dan menghilang dari balik pintu.
Aril menoleh kepada sang Bos. Untuk menayangkan apa ia juga sudah selesai, pekerjaan yang menumpuk tidak akan terselesaikan jika terus berada di sini.
"Apa kita bisa berangkat sekarang?" tanya Aril.
"Aku akan tetap disini dengan istri ku, bawakan saja semua berkas-berkas yang harus aku periksa kemari," tutur Alfaro yang sudah keluar dari rencana awal yang katanya hanya ingin berkunjung sebentar.
Aril beralih ke sang Nona yang sedang merona malu. Rasanya ia tidak tahan berlama-lama di hadapan sepasang anak manusia yang sedang di mabuk cinta.
"Kalau begitu saya permisi." Aril hendak melangkah pergi, namun Arumi tiba-tiba saja bersuara, membuat Aril kembali berbalik.
"Apa ada pekerjaan di perusahaan, teman saya yang tadi sangat membutuhkan pekerjaan?" tanya Arumi kepada Aril.
Aril menoleh kepada sang Bos yang saat ini sedang memainkan rambut Arumi dengan jarinya. Alfaro hanya menganggukkan kepalanya dan Aril sudah mengerti maksud dari bosnya itu.
"Baiklah, akan saya atur untuk pekerjaan teman Nona, kalau begitu saya permisi dulu."Aril kembali menunduk hormat lalu berbalik pergi.
Alfaro membawa Arumi kedalam pelukannya. Akhirnya tinggal mereka saja disana, Arumi seakan mempunyai magnet yang mampu membuat Alfaro seakan tak mau jauh darinya.
"Aku tidak pergi untuk selamanya, lalu kenapa harus pamit."
"Kamu selalu berhasil membuat aku kehabisan kata-kata, apa hari ini kita habiskan di kamar kamu saja," ucap Alfaro yang membuat Arumi seketika menegang.
~
Aril sedang dalam perjalanan menuju kantor. Akhirnya ia bisa benafas lega karena bisa pergi dari hadapan Tuan dan Nonanya itu. Saat akan keluar dari gang rumah Arumi, ia melihat Dinda sedang duduk di depan bengkel. Tiba-tiba saja ia teringat permintaan Arumi agar ia mencarikan posisi di perusahaan untuk Dinda. Langsung saja Aril menepikan mobilnya dan menghapiri Dinda.
"Motor kamu kenapa?" tanya Aril saat sudah turun dari mobil dan menghampiri Dinda yang nampak kelelahan.
"Bannya kempes, sepertinya tertusuk paku," jelas Dinda seraya mebasuh keringat yang bercucuran di dahinya.
"Naiklah, saya akan mengantarkan kamu pulang," ajak Aril.
"Tidak perlu, sebentar lagi selesai kok," tolaknya.
"Jangan salah paham, aku ingin mengantar kamu karena aku ingin meminta foto copy ijazah kamu, Nona bilang kamu ingin bekerja di perusahaan.
__ADS_1
Seketika Dinda langsung berdiri dari tempat duduknya, menatap Aril dengan antusias, "Baiklah, ayo pergi."
"Pak! saya titip motor saya dulu ya!"
"Oke siap." sahut bapak kang bengkel.
Tanpa menunggu Aril, Dinda sudah terlebih dulu masuk kedalam mobil. Dinda sangat antusias sekali, ia sudah tidak sabaran untuk memberitahu ibunya, memberitahu tetangganya yang selalu membicarakannya karena setelah lulus hanya menganggur.
~
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Dinda, karena hanya berjarak sekitar tiga kilometer saja dari rumah Arumi. Mobil itu kembali terparkir, Aril sempat tertegun melihat disaign rumah Dinda yang masih kental dengan adat Betawi. Ternyata gemerlapnya ibu kota masih ada sedikit celah untuk melihat sebagian orang yang mempertahankan tradisi dan tak larut dalam modernisasi.
"Mari Tuan, masuk dulu," ajak Dinda.
Aril mengikuti langkah Dinda masuk kedalam rumah itu. Sesampainya di dalam Dinda mempersilahkan Aril untuk duduk, ia hanya menggangukkan kepalanya namun matanya terus saja berputar memandangi sekeliling ruangan yang ternyata juga bernuansa etnik khas Betawi.
"Saya permisi ke kamar sebentar, untuk mencari foto copy yang anda minta," ucap Dinda pada Aril.
"Iya, silahkan."
Dinda beranjak pergi. Sementara Aril tetap fokus melihat, menyetuh semua benda etnik yang terpajang di dinding rumah itu. Rasanya sedang berada di museum yang kaya akan benda-benda langka.
Bertepatan dengan kedatangan Aril. Ibu Dinda juga baru saja tiba dari pasar, ia mengelilingi mobil yang terparkir di depan rumahnya. Pikiran ibu mulai negatif. Ia menyangka, jangan-jangan Dinda membawa pacarnya ke rumah dan berbuat hal yang tidak-tidak.
"Ni anak bener-bener yak." Ibu melangkah dengan tergesa-gesa, menggenggam erat tas belanja yang di penuhi sayuran dan ikan.
Sesampainya di dalam, mata ibu membulat sempurna ketika melihat sesosok pria sedang berada di ruang tamu rumahnya. Tanpa basa-basi Ibu langsung bergerak dengan cepat menghampiri Aril dengan amarah yang menggebu-gebu.
Pakkkk
Tas belanja itu akhirnya melayang tepat di kepala Aril. Aril tersungkur ke lantai dan seraya memegangi kepalanya. Seolah tak memberi ampun, ibu lagi-lagi meraih tas belanja yang tadi ia lempar dan memukulkannya ke wajah mulus putih itu.
"Rasain nih, berani-beraninya ya pacaran sama anak saya, kamu mau ngapain sama Dinda," ucap ibu dengan tangan yang terus menarik rambut Aril.
"Aduh sakit, ibu sudah salah paham." Penjelasan Aril seakan tak di dengar ibu sampai pada akhirnya--
Stooop.
Teriakan Dinda membuat Ibu dan Aril menoleh kearahnya. Apa yang Dinda lihat saat ini benar-benar tidak ia sangka. Ia sudah bisa bayangkan jika setelah ini akan gagal mendapatkan pekerjaan.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊