
"Kamu terlihat senang sekali?" tanya Alfaro saat melihat sang istri tak hentinya terseyum sepanjang perjalanan.
"Iya Mas, tadi aku mengobrol banyak sekali dengan Dinda ... rasanya lega sekali, akhirnya aku bisa bertemu dengan dia," ujar Arumi saat menoleh kearah Alfaro.
"Syukurlah kalau kamu senang ... oh iya, kita mampir ke Apartement sebentar ya," pinta Alfaro.
"Untuk apa Mas?" tanya Arumi penasaran.
"Pokoknya kita mampir sebentar saja," ucap Alfaro.
Arumi masih nampak penasaran namun ia hanya diam. Karena percuma saja bertanya jika pada akhirnya jawabannya tetap sama. Hari ini Alfaro begitu bahagia hanya karena kembali melihat senyum sang istri yang begitu lepas, ia harap apa yang akan ia tunjukkan nanti, akan membuat Arumi semakin bahagia.
Setelah perjalanan yang cukup membuat Arumi semakin penasaran. Akhirnya mobil yang di kendarai sang supir, sampai juga di basement apartement. Arumi turun lebih dahulu, lalu di ikuti oleh sang suami. Mereka memasuki gedung apartement itu sambil bergandengan tangan.
Saat di depan pintu unit apartment miliknya. Alfaro menekan kode pintu, yang masih sama seperti dulu. Tak banyak berubah, apartement itu masih sama, kecuali hari ini, karena Alfaro menyiapkan kejutan kecil untuk istrinya itu. Arumi hendak melangkah masuk saat Pintu sudah terbuka namun Alfaro malah mencegahnya.
"Kenapa?" tanya Arumi saat Alfaro menarik tangannya.
"Kamu harus menutup mata dulu," pinta Alfaro seraya menyodorkan sebuah dasi yang sudah ia persiapkan. Tanpa menunggu Arumi menjawab ia langsung menutup mata sang istri dengan dasi yang ia persiapkan. Arumi menurut saja, saat Alfaro menuntunnya masuk kedalam apartement.
Langkah Alfaro berhenti tepat di ruang tengah. Ruangan yang sudah di sulap sedemikian rupa hanya dalam hitungan jam. Siapa lagi yang akan mengurus semuanya kalau bukan Aril. Saat Arumi pergi ke cafe bersama Dinda, Alfaro memanfaatkan waktu itu untuk menyiapkan kejutan kecil untuk sang istri dengan di bantu oleh Aril.
Perlahan Alfaro melangkah kebelakang sang istri. Membuka penutup mata agar Arumi bisa melihat apa yang sudah ia persiapkan hari ini. Perlahan Arumi membuka mata. Hal yang pertama kali ia lihat adalah, lampu-lampu kecil yang menghiasi setiap sudut ruangan sebagai penerangan, di depan nya ada begitu banyak kelopak bunga yang membentuk simbol hati.
"Mas, ini kamu yang menyiapkan semua ini?" tanya Arumi saat mengubah posisinya berbalik menatap Alfaro.
"Ya begitulah, tapi tetap di bantu Aril juga," ucap Alfaro yang entah kenapa merasa gugup saat melihat sang istri sangat senang.
Alfaro melangkah lebih dekat dengan sang istri. Sesaat mereka hanyut dalam keheningan. Sampai saat Alfaro meraih tangan Arumi dan langsung menciumnya. Arumi hanya bisa diam namun mata yang berkaca-kaca, sudah mampu menjelaskan semuanya. jika ia begitu bahagia.
__ADS_1
"Rumi ... mulai sekarang aku akan mencoba memahami dirimu, berteman dengan dunia mu, mencintai kamu dengan lebih baik dan tak akan pernah pergi meski kamu membuat kesalahan," ujar Alfaro. Ia mengingat kejadian dimana Arumi belum sempat menjelaskan dan ia langsung pergi, hingga pada akhirnya mereka harus terpisah.
"Pertemuan pertama kita di awali dengan sebuah kesalahan, mulai hari ini ayo kita mulai semuanya dari awal ... aku kamu dan anak-anak kita," ucapnya lagi.
Arumi tak bisa berkata apa-apa. Ia terus menatap suaminya dengan lekat. Baginya apa yang dilakukan Alfaro saat ini sudah di luar ekspektasinya. Alfaro mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam saku celananya. Dimana di dalamnya bersikan sebuah kalung yang baru ia beli siang tadi.
"Maaf karena aku memutuskan kalung mu waktu itu," ucap Alfaro kemudian memasangkan kalung itu ke leher jenjang sang istri.
Setelah selesai. Alfaro kembali menatap sang istri. Sesaat mereka hanya diam, saling memandang satu sama lain, hingga pada akhirnya perlahan Alfaro menyatukan bibir mereka kembali untuk kesekian kalinya. Aktivitas itu tiba-tiba saja berhenti saat Alfaro melepaskan ciuman itu dan menyadarkan kepalanya di bahu Arumi.
"Ada apa dengan ku, kenapa aku gugup sekali ... padahal ini bukanlah ciuman pertama kita," ucap Alfaro dengan kepala yang bertumpu di bahu sang istri.
"A-aku juga ... rasanya jantungku ingin meledak, karena terlalu gugup," ucap Arumi ragu-ragu.
Alfaro kembali menegapkan kepalanya. Menatap sang istri sebentar kemudian kembali mendaratkan ciuman yang sempat terhenti. Lebih dalam hingga Arumi mulai menikmati permainan. Deru nafas yang terasa hangat membuat hasrat kian membara, eluhan kecil mulai terdengar saat Arumi menikmati sensasi yang di ciptakan suaminya. Tak ingin larut hingga tersiksa, Alfaro mengakhiri ciuman itu dan langsung membawa Arumi kedalam pelukannya.
"Iya Mas,"jawabnya.
"Kapan kamu berhenti datang bulan, aku sangat tersiksa sejak kemarin," ucap Alfaro lagi dan lagi. Masih sama, Arumi tidak menjawab dan hanya tertawa kecil tanpa suara.
...**...
Di tempat yang berbeda, Aril sedang berjalan beriringan bersama Dinda keluar dari kantor. Dinda terlihat sangat senang karena malam ini akan makan malam dengan seorang pria yang ia yakini akan menjadi pacarnya sebentar lagi. Sementara Aril terus meliriknya dengan tatapan sinis.
"Malam ini aku harus pakai baju apa ya, apa aku harus beli gaun baru, bagaimana menurut mu?" tanya Dinda.
"Pikir saja sendiri," ucap Aril yang terlihat kesal.
"Kamu benar-benar tidak bisa di andalkan ... lihat sepatu ku ini cantik tidak, dia yang mengirimkannya kemarin, ukurannya memang agak kecil tapi wajar lah, karena kami memang belum pernah bertemu," ucap Dinda seraya memperlihatkan sepatu high heels yang membalut kakinya.
__ADS_1
"Kalau kekecilan kenapa di pakai, lepas saja." Aril membungkuk badannya untuk melepaskan sepatu itu dari kaki Dinda namun dengan sigap Dinda menarik kakinya.
"Eits,kamu mau apa?"
"Kamu bilang sepatunya sempit jadi aku mau melepaskannya!" seru Aril tanpa sadar.
"Kamu kenapa kesal! Tidak senang melihat teman bahagia itu namanya sirik tau." Dinda menginjak kaki Aril hingga Aril mengeluh kesakitan kemudian melangkah pergi.
"Hey kau mau kemana? tidak jadi aku antar pulang!" teriak Aril saat Dinda melangkah semakin jauh. Dinda tak bergeming dan tetap melanjutkan langkahnya.
~
Sekitar jam delapan malam. Dinda keluar dari rumahnya saat seorang pria tampan yang mengendarai mobil sudah berada di depan rumahnya, ia langsung terpesona pada pandangan pertama saat melihat wajah pria itu yang ternyata lebih tampan dari pada di foto. Ibu Dinda yang juga ikut keluar, terlihat tidak senang saat melihat seorang pria keluar dari mobil dan menghapiri Dinda.
"Bu Dinda pergi dulu ya," ucap Dinda seraya mencium punggung tangan Ibu.
"Iya, jangan malam-malam pulangnya," ucap ibu.
Saat pria itu hendak meraih tangan Ibu Dinda, Ibu langsung menarik tangannya. Entah kenapa ia tidak suka melihat Dinda pergi dengan pria itu, "Kagak usah salim segala, sana pergi." Ibu berbalik masuk kedalam rumah, sementara Dinda terlihat kesal karena sikap ibunya.
"Maaf ya, sepertinya Ibu ku sedang PMS, makanya bawaannya mau marah-marah terus," ujar Dinda kepada pria itu.
Pria itu tersenyum kepada Dinda kemudian bekata, "Iya tidak apa-apa, aku mengerti ...ayo berangkat."
Dinda melangkah beriringan dengan pria itu, masuk kedalam mobil kemudian tancap gas meninggalkan halaman rumahnya. Di tempat yang tidak jauh dari rumah Dinda, tepatnya di pinggir jalan yang gelap. Aril sedang menunggu mobil yang membawa Dinda lewat. Ya, dia akan mengikuti Dinda dan pria asing itu. Ia juga tidak mengerti kenapa ia seingin tahu itu dengan kehidupan Dinda. Tapi yang jelas, Aril tidak bisa tenang karena terus memikirkan Dinda.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊
__ADS_1