
Alfaro berlari sampai ke halaman cafe. Ia menggedarkan pandanganya, namun tak juga menemukan sang istri. Ia tahu pasti sekarang Arumi sedang sedih karena mendengar masalah perjodohan antara ia dan Bianca.
"Kenapa dia cepat sekali menghilang." Alfaro mulai kesal pada dirinya sendiri, karena tak menemukan Arumi. Ia menarik rambutnya kebelakang, mendengus kesal dengan kaki yang menendang ke udara.
Tak ingin membuang banyak waktu akhirnya Alfaro memilih untuk kembali ke Apartement. Ia harap sang pujaan berada disana, menunggu ia untuk menjelaskan semuanya. Setelah masuk kedalam mobil, ia menyalakan mesin lalu tancap gas meninggalkan halaman cafe.
Dari balik pohon yang ada di bagian luar halaman cafe, Arumi sedang bersembunyi dari Alfaro. Air matanya keluar begitu saja, ia bisa kuat dalam keadaan apapun. Namun untuk urusan hati ia begitu lemah. Untuk pertama kalinya ia jatuh cinta dan sekarang harus menerima fakta jika cinta pertamanya, suaminya kini telah di jodohkan dengan perempuan lain.
Saat melihat mobil Alfaro menjauh pergi, Arumi bergegas keluar dari persembunyiannya. Memanggil taksi yang kebetulan sedang lewat. Ia tidak tau akan kemana, yang jelas itu bukan pulang ke apartement, rumahnya apalagi ke Mansion yang sudah jelas di huni Mama Alfaro.
...***...
Sesampainya di basement apartement, Alfaro begegas keluar dari dalam mobil dan langsung berlari masuk kedalam gedung apartement itu. Semakin dekat ia semakin merasa takut. Ia takut sang istri tidak pulang ke sana, ia merasa ragu jika Arumi berada disana. Alfaro sudah berada di depan pintu unit Apartment miliknya, ia mencoba mengatur nafas yang tersengal-sengal karena habis berlari.
Setelah beberapa detik, ia langsung menekan kode pintu dan masuk kedalam. Suasana masih nampak sepi, lampu juga masih mati, itu berarti Arumi belum pulang kesana. Ia meraih ponsel mencoba menghubungi Arumi untuk ke sekian kalinya ia mencoba.
Namun tak juga ada jawaban. Alfaro duduk di sofa ruang tamu, mengusap wajahnya dengan kasar. Sudah pernah kehilangan satu kali, hingga membuat ia merasa trauma. Meskipun Arumi tidak pergi sebagaimana Sarah meninggalkannya, entah kenapa ia merasa sangat panik. Hati dan pikirannya pun tak juga tenang. Ia kembali beranjak keluar dari apatement itu untuk mencari sang istri.
...***...
Mobil berwarna hitam itu kembali terparkir di halaman rumah Dinda. Pintu mobil terbuka dan Dinda langsung turun. Tapi tidak dengan Aril, ia hanya membuka kaca jendela kemudian melihat kearah Dinda yang masih berdiri di samping pintu mobilnya.
"Besok pagi jam delapan kamu sudah harus sampai di hotel XX, untuk memantau persiapan pesta," ucap Aril pada Dinda.
"Saya, sendiri?" tanya Dinda memastikan.
"Iya, itulah gunanya kamu sebagai asisten sekretaris," tegas Aril.
__ADS_1
"Iya-iya," ucap Dinda pasrah, "Bawel banget sih jadi orang," gumamnya kemudian.
"Apa kamu bilang!" sahut Aril saat mendengar secara samar-samar, jika Dinda mengumpat kepadanya.
"Ahaha tidak apa-apa kok, saya masuk dulu permisi." Buru-buru Dinda melangkah menuju teras rumahnya. Ia tidak menyangka Aril akan mendengar ucapannya.
Aril memutar mobil lalu tancap gas meninggalkan halaman rumah Dinda. Dinda memeluk tiang teras rumahnya, memandangi mobil milik Aril yang kian menjauh pergi. Ia menghela nafas panjang, mengelus dada karena baru saja selamat dari masalah.
Tak lama setelah mobil Aril berlalu pergi. Dari kejauhan Dinda bisa melihat sebuah taksi masuk ke halaman rumahnya. Ia menunggu, menanti seseorang keluar dari sana. Seraya terus memeluk tiang teras rumahnya.
"Rumi," ucapnya saat melihat Arumi keluar dari taksi.
Dinda melepaskan pelukannya dari tiang dan melangkah mendekati Arumi. Melihat sang sahabat datang, Dinda menjadi sedikit heran karena Arumi tidak memberitahu jika ia akan datang, apalagi saat melihat ekspresi wajah sendu yang terpampang nyata di wajah Arumi, perasaannya pun semakin tidak enak.
"Rumi, tumben kamu datang nggak bilang-bilang, kamu ada masalah?" tanya Dinda saat sudah di hadapan Arumi.
"Kalau gitu ayo kita masuk," ajak Dinda sambil menarik tangan Arumi agar berjalan mengikutinya.
~
Sekarang Alfaro berada di depan rumah Arumi. Ia mencoba membuka pintu namun terkunci. Ia mengintip di jendela namun di dalam juga nampak gelap. Lalu kemana Arumi pergi, pikirannya. Rasanya tidak mungkin jika Arumi pergi ke Mansion karena sudah jelas Mama berada disana.
"Rumi, kamu dimana," gumamnya sendiri.
Alfaro kembali memastikan jika Arumi benar-benar tidak berada disana. Setelah hasil yang di dapatkan benar-benar nihil, ia pun beranjak pergi, untuk kembali mencari meskipun ia tidak tahu harus kemana. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih, hingga lupa jika Arumi mempunyai seorang teman bernama Dinda, jika tidak pulang ke Apartement ataupun ke rumah sudah pasti Arumi akan pergi kerumah sang sahabat.
~
__ADS_1
"Jadi suami kamu akan di jodohkan." Dinda menatap tak percaya, saat mendengar cerita Arumi.
Arumi mengagguk pelan sambil menyeka air matanya. Ia masih saja menangis bahkan saat berada di hadapan Dinda. Hanya Dinda tempat untuk ia pulang di saat seperti ini, rumah kedua yang selalu siap menyambut kedatangannya dengan tangan terbuka.
"Jadi ceritanya sekarang kamu minggat gitu, kabur dari masalah cuma buat keadaan makin buruk."
"Aku cuma mau nenangin diri aja Din, bukannya kabur dari masalah."
Dinda menghela nafas panjang, menatap sang sahabat yang sedang memalui masalah rumah tangga yang ia juga tidak mengerti harus menyikapinya bagaimana, karena sudah jelas Dinda masih single. Jangakan untuk menikah, pacar saja tidak punya.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat dulu, tidur atau tebahan aja nggak masalah, aku mau belakang dulu," ucap Dinda.
"Iya, makasih ya, aku selalu aja ngerepotin kamu," ucap Arumi dengan senyum yang di paksakan.
"Ngomong apa sih, kita kan saudara tak sedarah, aku keluar sebentar ya," ucapnya sambil berdiri dari posisinya.
Dinda keluar dari dalam kamar. Sebenarnya ia berbohong bahwa ia akan pergi kebelakang. Padahal ia akan memberitahu sekertaris Aril jika Arumi sedang berada di rumahnya. Ia pikir ini adalah cara terbaik. Dinda tahu pasti Alfaro kebingungan mencari Arumi sekarang.
Saat sudah di area yang cukup aman untuk menelpon. Dinda langsung mengambil ponsel di dalam saku blazernya. Sialnya ia lupa menyimpan nomor Aril dengan nama apa. Ada saja masalah saat waktu mepet seperti ini. Lama ia mencari sampai akhirnya ia ingat jika pagi tadi Aril menelpon. Tentu saja nomor ponsel Aril tertera di riwayat pangilan.
"Bahaha, ternyata aku menyimpan nomornya dengan nama Ari-ari," ucap Dinda sambil tertawa sendiri.
Saat tawanya sudah reda, ia segera mengirimkan pesan singkat kepada Aril. Untuk mempersingkat waktu dan sebenarnya ia juga sedang malas mendengar suara Aril.
Bersambung 💓
Next siang ini ya Mak, author ngantuk parah 😪🙏😘
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊.