
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, dan Arumi belum pernah sekalipun keluar dari dalam kamar itu. Untung saja Bi Ranti dengan senang hati membawakan makan malam untuknya.
Arumi bergerak perlahan, membuka kembali koper yang ia bawa ke acara camping kemarin. Ia memasukkan semua baju kerja yang Bi Ranti ambilkan dari kamar atas. Ia sudah memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri untuk waktu yang belum bisa ia tentukan.
Kebahagiaan yang sempat ia rasakan saat bersama Alfaro di acara camping sepertinya telah berakhir. Saat tengah sibuk bergelut dengan pakaiannya, tiba-tiba saja pintu kamar itu terbuka. Alfaro masuk dengan terburu-buru dan kembali menutup pintu itu, dan menguncinya.
"Mas Al," ucap Arumi yang sudah berdiri dari duduknya, ia terkejut saat melihat kedatangan sang suami secara tiba-tiba.
Alfaro medekati Arumi dan langsung memeluknya tanpa bicara apapun. Ia semakin.mempererat pelukannya saat merasakan Arumi ingin menjauh darinya.
"Mas, lepaskan aku dulu."
"Tidak, aku tidak akan mau."
"Maaf, karena kamu harus melalui situasi seperti ini," ucap Alfaro terdengar lirih.
"Tidak apa-apa, aku juga akan pindah ke rumah ku mulai besok," ucap Arumi yang berusaha untuk tetap tegar.
Mendengar ucapan Arumi, akhirnya Alfaro melepaskan pelukannya dari sang istri. Di tatapnya netra hitam itu dalam, "Kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk pindah?"
"Hanya untuk sementara, sampai situasi lebih baik."
"Aku akan secepatnya memberitahu Mama tentang pernikahan kita, aku janji."
"Tapi Mas Aku--"
Tok Tok Tok.
"Arumi... apa kamu didalam?" Panggil Mira yang tiba-tiba saja datang ke kamar Arumi.
Arumi dan Alfaro saling memandang kearah pintu, kemudian kembali menatap satu sama lain. Arumi terlihat sangat panik karena ia mengenali suara itu.
"I-iya Nona, tunggu sebentar!" seru Arumi kepada Mira yang masih berada di balik pintu.
"Mas bagaimana ini?" tanya Arumi berbisik.
"Kita hadapi saja, ayo buka pintunya." Saat Alfaro hendak bergerak kearah pintu, Arumi langsung menarik tangannya. Arumi menggeleng perlahan seolah berkata jika ia belum siap untuk hal itu.
Dengan gerakan cepat, Arumi menarik tangan Alfaro dan membawanya masuk kedalam sebuah lemari pakaian yang ada di dalam kamar itu. Awalnya Alfaro tidak mau tapi karena melihat Arumi yang terus memohon padanya, akhirnya ia setuju.
"Mas tunggu di sini, tidak akan lama," ucap Arumi dan langsung di tanggapi anggukan dari sang suami.
Setelah menutup pintu lemari itu, Arumi bergegas melangkah untuk membuka pintu, Tapi sebelum itu ia berusaha menormalkan dirinya dulu, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya.
__ADS_1
Krekk
Pintu itu terbuka, dan Almira benar-benar berada disana dengan sebuah paper bag yang ia ada di tangannya.
"Lam sekali buka pintunya?"
"Maaf tadi saya lagi berganti pakaian ... ada apa ya?
"Oh ini, aku ingin memberikan kamu beberapa cemilan yang aku bawa dari Amerika," ucap Mira sambil menyodorkan paper bag itu kepada Arumi.
Terlihat ragu-ragu, namun Arumi tetap mengambil oleh-oleh pemberian adik iparnya itu, "Terimakasih."
"Karena belum terlalu malam, bagaimana jika kita makan cemilan ini bersama di kamar kamu," pinta Almira.
"Apa! Maksud saya, kamar ini terlalu kecil, Hehe."
"Tidak apa-apa, aku masuk ya." Almira menerobos masuk begitu saja dan membaringkan tubuhnya di atas kasur kecil yang ada di dalam kamar itu.
Arumi menghapiri Almira, ia melirik kearah lemari, dimana sang suami sedang duduk sambil meringkuk. Dalam hati ia berharap, semoga saja Alfaro bisa bertahan sampai Almira pergi.
"Kenapa diam di situ, ayo kita mengobrol," sahut Almira.
Arumi ikut duduk di atas kasur. Ia mengeluarkan semua isi paper bag itu, ada beberapa cemilan khas Amerika yang di berikan oleh Almira. Adik iparnya itu, membuka salah satu cemilan berbahan dasar coklat dan menyuruh Arumi untuk mencobanya.
"Terimakasih, Nona baik sekali," ucap Arumi dengan mata yang tak henti-hentinya melirik kearah lemari.
"Tidak usah sungkan ... oh iya, kamu bisa bicara santai dan memanggil aku Mira saat kita sedang berdua, asal jangan di depan Mama," ujar Mira lalu memasukkan sepotong coklat kedalam mulutnya.
"Nyonya memang terlihat sedikit galak," ucap Arumi ragu-ragu.
"Hahaha, kamu jujur sekali. Ya begitulah bukan cuma galak, tapi lebih dari itu," ujar Almira.
"Maksudnya?"
"Kamu tahu, mantan istri kak Al itu berselingkuh karena sikap Mama, padahal kak Sarah itu awalnya orang yang sangat baik, tapi Mama selalu menghina dan mendesaknya dengan cacian - cacian lewat telepon, aku selalu mendengar saat Mama menelpon kak Sarah, terkadang aku mengerti kenapa kak Sarah memilih pria lain ketimbang harus bertahan dengan Kak Al, kasihan sekali," tutur Almira.
Arumi menelan salivanya dengan susah payah. Baru mendengarkan cerita dari Almira saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Ternyata mertua kejam itu bukan hanya ada di sinetron, tapi juga dunia nyata.
Sekitar satu jam Almira berada dikamar itu. Dan hal itu membuat Arumi semakin gugup, takut-takut kalau saja Alfaro tiba-tiba keluar dari dalam lemari.
"Aku ke kamar ku dulu ya, lain kali kita ngobrol lagi," ucap Almira yang sudah berdiri dari duduknya.
"Iya tentu saja."
__ADS_1
Akhirnya Arumi bisa bernafas lega saat Almira keluar dari kamarnya. Setelah memastikan sang adik ipar sudah berjalan menjauh, buru-buru Arumi berjalan menuju lemari. Saat pintu lemari terbuka, Arumi terkejut saat mendapati sang suami yang sudah terlihat pucat dan berkeringat.
"Mas, baik-baik saja?" ucap Arumi yang terlihat sangat khawatir.
Perlahan Arumi membantu Alfaro untuk berdiri. Alfaro terlihat meringis karena kakinya terasa kaku, bayangkan saja lebih dari satu jam ia harus menekuk tubuhnya di dalam lemari itu.
"Rasanya kaki ku akan patah," keluh Alfaro.
Arumi semakin merasa bersalah, ia menuntun Alfaro agar berbaring di atas tempat tidur. Namun Alfaro malah menarik Arumi dan membuat sang istri terjatuh di atas tubuhnya.
"Sebagai balasannya karena kamu sudah mengurung ku di dalam lemari, aku tidak akan membiarkan kamu tidur nyenyak malam ini.
Tak ingin memberikan kesempatan untuk Arumi bicara, Alfaro menarik tekuk leher Arumi dan langsung menyatukan kembali bibir mereka. Sudah berlalu lama ia tidak menikmati tubuh sang istri. Meskipun bukan kamar yang luas dan ber-AC. Hasrat itu tetap harus tersalurkan.
~
Pukul enam pagi, Arumi kembali membuka matanya perlahan. Saat melirik kesamping, sang suami sudah tidak berada disana. Entah jam berapa Alfaro keluar hingga ia tidak menyadarinya.
Arumi bergerak perlahan, turun dari atas tempat tidur. Tidak seperti kamar di lantai atas yang mempunyai toilet pribadi, di sini ia harus keluar dari kamar terlebih dahulu, untuk pergi ke kamar mandi khusus untuk para pekerja rumah itu.
...***...
"Dinda!" teriak Ibu dari balik pintu kamar.
Perlahan Dinda membuka matanya, mengerjap perlahan. Kesadarannya belum seratus persen kembali. Sudah menjadi makanan sehari-harinya saat sang ibu berteriak di pagi hari untuk membangunnya, yang semenjak lulus kuliah masih berstatus pengangguran.
"Dinda bangun napa, kagak denger tuh hp bunyi dari tadi!" teriak Ibu lagi seraya terus menggedor pintu.
"Iya Bu, denger kok." Tangan Dinda bergerak meraih ponselnya di atas nakas. Perlahan ia mengucek-ngucek matanya, saat melihat nama Arumi tertera di sana, "Tumben, ni anak nelpon jam segini."
"Hallo, Rumi?"
[Din, bisa jemput aku sekarang?]
"Jemput dimana?"
[Di Mansion, aku akan pindah ke rumah ku hari ini.]
"Apa, pindah!"
Saking kagetnya Dinda sampai loncat turun dari atas tempat tidur. Sudah satu minggu tak bertemu dan pagi ini ia mendapatkan telepon dari sahabatnya itu, bahwa ia akan pindah.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊