
Arumi menyeret kopernya keluar dari dalam kamar. Waktu menunjukkan pukul setengah enam pagi, ia sengaja berangkat pagi, untuk menghindari Mama Alfaro. Bi Ranti yang sedang bersiap-siap untuk memasak di dapur, menghentikan langkahnya saat melihat Arumi yang sedang membawa koper.
"Nona mau kemana pagi-pagi begini?"
"Oh ini ... saya mau kembali ke rumah Bi," jawab Arumi.
"Loh kok kembali ke rumah? Apa Tuan sudah tau?"
"Sudah kok Bi, saya pamit ya," ucap Arumi seraya meyalim tangan Bi Ranti.
"Kalau gitu saya suruh supir untuk mengantar Nona, tunggu sebentar." Bi Ranti hendak beranjak namun langsung di cegah oleh Arumi.
"Tidak perlu Bi, teman saya sudah di depan."
Bi Ranti tidak bisa berkata apa-apa. Ia memilih untuk membantu Arumi membawa koper itu sampai kehalaman depan. Meski baru mengenal Arumi, tapi Bi Ranti sudah menyayanginya seperti anak sendiri. Melihat Arumi meninggalkan rumah seperti ini, membuat Bi Ranti mengingat momen saat Sarah pergi dari rumah.
~
Sesampainya di depan pagar, Arumi meraih kembali koper miliknya dari tangan Bi Ranti. Sejenak ia memandang kearah jendela kamar Alfaro yang bisa terlihat jelas dari sana, rasanya begitu berat untuk kembali namun untuk sekarang, ini adalah pilihan terbaik.
"Bi aku pamit ya," ucap Arumi pada Bi Ranti.
"Iya, Nona hati-hati di jalan, semoga semua ini cepat berlalu," ucap Bi Ranti penuh harap.
"Iya Bi, terimakasih."
Arumi berbalik membelakangi Bi Ranti dan melangkah keluar dari pagar tinggi Mansion mewah itu. Tempat yang dulu selalu ingin ia tinggalkan secepat mungkin. Namun kenapa sekarang rasanya begitu berat, meskipun mungkin saja besok, lusa , atau bulan depan ia akan kembali lagi ke Mansion yang penuh dengan masa indah bersama Alfaro itu lagi.
Saat keluar dari balik pagar, Arumi bersyukur karena Dinda benar-benar sudah berada di sana untuk menunggunya. Rasanya begitu berat karena selalu merepotkan Dinda, tapi apa boleh buat, di dunia ini hanya Dinda keluarga yang ia punya, meskipun tak sedarah tapi ikatan mereka lebih dari itu.
"Sudah dari tadi?" tanya Arumi saat sudah berada di samping motor Dinda.
"Hoaam... barusan sih, ayo naik aku mau denger penjelasan dari kamu langsung," ucap Dinda yang masih terlihat mengantuk.
Arumi naik keatas motor dengan memangku kopernya, setelah siap Dinda segera tancap gas meninggalkan tempat itu. Sepanjang perjalanan Arumi menjelaskan semuanya kepada Dinda, tentang apa yang telah terjadi kepadanya dan Alfaro hingga ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Mendengarkan cerita sang sahabat, Dinda merasa bahagia sekali prihatin. Bagaimana tidak di saat cinta sang duda sudah di tangan, tiba-tiba saja ibu mertua galak masuk kedalam kisah cinta yang baru saja akan terajut indah. Jalanan masih nampak sepi, hingga tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di halaman depan rumah Arumi.
"Jadi hari ini kamu nggak masuk kerja?" tanya Dinda sambil membantu membuka helm dari kepala Arumi.
__ADS_1
"Ya begitulah, aku beralasan sakit," jawab Arumi.
"Ck, nggak apa-apa lah, suami kamu kan yang punya perusahaan," ujar Dinda.
"Apa sih, udah yuk bantu aku beres-beres," ajak Arumi.
"Ada uang konsumsinya nggak Nih?"
"kelamaan nganggur, kenapa otak mu hanya di penuhi uang," ucap Arumi sambil menggeleng pelan.
"Hidup ini keras Rumi, lagian aku kan sudah bilang sama kamu, carikan aku pekejaan tapi sampai sekarang belum juga, gimana sih," tutur Dinda.
"Oh iya, aku lupa ... besok aku tanya seketaris Aril ya, sekarang bantu aku beres-beres dulu," pinta Arumi lalu tersenyum penuh arti.
"Baiklah Nyonya muda yang terhormat,"ledek Dinda.
...***...
Di ruang makan Mansion, Mama dan Almira sudah duduk di sana menikmati sarapan bersama. Mama memperhatikan para pelayan yang berlalu lalang, dan tidak menemukan sosok wanita yang kemarin mengaku sebagai keponakan Bi Ranti.
Arumi memang sedikit mencuri perhatiannya, apa lagi saat melihat putranya pulang bersama Arumi. Meskipun Arumi sudah menjelaskan jika dirinya adalah keponakan Bi Ranti, tapi Mama bisa melihat jika sang putra memandangi Arumi dengan tatapan yang tidak biasa. Meskipun hanya menerka-nerka tapi Mama tetap mewanti-wanti, jangan sampai Alfaro kembali salah memilih wanita yang tidak sesuai dengan kriterianya.
"Dia sudah kembali ke rumahnya Nyonya, pagi tadi," jawab Bi Ranti.
"Oh baguslah, rumah anak saya ini bukan panti sosial yang bisa menampung orang asing, mengerti!" ketus Mama pada Bi Ranti.
"Mengerti Nyonya." Bi Ranti menunduk hormat, lalu melangkah pergi.
"Ma, jangan seperti itu sama Bi Ranti, Arumi itu gadis yang baik dan aku suka mengobrol dengannya," sahut Almira.
"Mira, kamu ini apa-apaan sih siapa suruh kamu bergaul dengannya, Mama tidak suka ya, ingat kamu itu siapa, dia siapa," tegas Mama.
"Pagi-pagi sudah ribut, ada masalah apa?" tanya Alfaro yang sekarang sudah bergabung dengan Mama dan adiknya.
"Mama started bro, padahal aku hanya membicarakan Arumi, apa salahnya," jelas Almira pada sang kakak.
"Kamu ini suka sekali mengadu pada kakakmu," keluh Mama.
"Memangnya Arumi kenapa?" tanya Alfaro yang tiba-tiba terlihat serius.
__ADS_1
"Kata Bi Ranti, Arumi sudah pulang ke rumahnya kak," jawab Almira.
Alfaro yang hendak mengoleskan selai di atas roti tiba-tiba saja terdiam kaku. Arumi memang mengatakan padanya bahwa ia akan kembali ke rumah, namun ia tidak menyangka Arumi akan pergi pagi-pagi sekali bahkan tanpa mengatakan apapun padanya.
Seketika Alfaro langsung melihat kearah Mama yang sedang menikmati sarapan paginya. Ya, sang Mama adalah halangan terbesar untuk hubungannya dan Arumi. Hal yang paling Alfaro takutkan saat sang Mama mengetahui jika Arumi adalah istrinya, adalah kata-kata tajam yang akan sang Mama lemparkan kepada Arumi dan ancaman-ancaman yang akan mematahkan mental Arumi. Bukan tanpa alasan tapi semua sudah pernah terbukti dengan Sarah yang memilih pergi ketibang bertahan.
"Selamat pagi Nyonya, Nona Almira," sapa Aril yang baru saja tiba untuk menjemput Alfaro karena mereka akan meeting di luar kantor.
"Selamat pagi seketaris Aril," Sahut Almira, sementara sang Mama hanya tersenyum lalu kembali fokus ke makanannya.
"Aril, kita berangkat sekarang," ucap Alfaro yang sudah berdiri dari posisinya,
"Loh kamu belum sarapan Al," ucap Mama menatap heran kepada putranya.
"Aku ada rapat penting Ma, Aril ayo."
"Baik Tuan."
Alfaro meninggalkan ruangan itu dan di ikuti Aril dari belakang. Mama dan Almira hanya bisa memandangi kepegian Alfaro dengan bingung.
"Kakak kamu itu sudah gila kerja, padahal kita baru saja di Indonesia satu hari, tapi dia malah memilih pekerjaannya ketibang Mama sendiri," keluh Mama pada Almira.
"Ya, yang nikmatin uangnya kan Mama juga," ucap Almira seraya melirik kearah Mama. sementara Mama memilih diam dan kembali memakan makanannya, tanpa menimpali ucapan Almira.
~
Alfaro sudah masuk kedalam mobil, Aril juga sudah duduk di kursi kemudi, memasang sabuk pengaman dan bersiap-siap untuk tancap gas menuju sebuah restaurant bintang lima, tempat ia mengatur janji dengan klien dari luar negeri.
"Mereka sudah dalam perjalanan ke lokasi, bisa di pastikan kita akan sampai di sana dengan tepat waktu," jelas Aril.
"Batalkan," ucap Alfaro tiba-tiba.
Aril langsung berbalik melihat sang Bos yang sedang duduk di kursi belakang sambil berpangku tangan, ia harap hanya salah dengar saja tadi, karena jika benar, berarti ia harus mengatur kembali jadwal dengan klien yang susah di temui itu, "Batalkan? maksudnya, rapat pagi ini di batalkan?"
"Iya batalkan dan antar aku kerumah Arumi sekarang," perintah Alfaro.
Aril kembali ke posisinya, mencoba menenangkan diri dengan mengelus dada. Ia mencoba memaklumi Alfaro yang saat ini sedang mengalami falling in love.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊.