
Setelah obrolan yang cukup menegangkan namun melegakan. Alfaro dan Bianca kembali ke ruangan tempat kedua orang tua mereka berada. Saat masuk kedalam, Alfaro mengeryitkan keningnya karena ada seorang laki-laki yang baru saja bergabung di ruangan itu.
"Nah itu kakak kamu datang," ucap Gunawan saat melihat Bianca dan Alfaro kembali.
Pria yang tadinya duduk membelakangi Alfaro kini sudah berdiri, berbalik kebelakang dan mengarahkan pandangan dimana Alfaro dan Bianca berada. Senyum yang tadinya terukir jelas, kini perlahan surut saat mengetahui jika anak dari rekan bisnis Daddy-nya itu adalah bosnya sendiri.
"Kamu," ucap Alfaro seraya mengarahkan terlunjuknya ke pada Bima.
Bima terlihat bingung dengan situasi ini. Dia tidak menyangka, di antara banyaknya rekan bisnis orang tuanya kenapa harus Alfaro yang berdiri di hadapannya sekarang.
"Kamu kenal adikku," ucap Bianca pada Alfaro.
"Adik? Dia ini bekerja di perusahaan ku sebagai staf bagian perencanaan, tapi kenapa bisa dia--"
"Ternyata Bima bekerja di perusahaan milik kamu, ini suatu kebetulan sekali. Mungkin kamu bingung Al, tapi Bima memang anak yang mandiri dan ingin berdiri sendiri, dia bekerja di Indonesia atas kemauannya sendiri dan tidak membiarkan kami mencampuri urusanya," tutur Gunawan seraya merangkul pundak Bima.
Bima berjalan mendekat, mengulurkan tangan kepada bos yang ia hormati di kantor. Tatapan mata Alfaro tak lepas dari Bima, bahkan saat ia menyambut uluran tangan itu. Sebagai seseorang yang menyukai Arumi selain dirinya, Alfaro merasa kurang nyaman berhadapan dengan Bima dengan situasi seperti ini.
"Senang bertemu dengan Anda disini, tapi ... karena Anda sekarang sudah mengetahui siapa saya, apa saya masih bisa bekerja di perusahaan Anda?" tanya Bima ragu-ragu.
"Ya tentu saja, aku orang yang profesional dalam bekerja, diluar kamu adalah anak om Gunawan, tapi di kantor kamu tetap karyawan ku," jawab Alfaro.
"Tapi kenapa kak Bima betah sekali bekerja di perusahaan kakak, padahal bagian staf perencana itu kan sangat sulit?" tanya Almira, karena orang seperti Bima sangat langka adanya, kebanyakan malah menjadi beban orang tua. Ya, sama sepertinya.
"Karena di sana ada wanita yang dia sukai," sahut Bianca.
Bima membulatkan matanya, menatap sang kakak, yang dengan enteng membuka rahasia, "Kakak apaan sih."
__ADS_1
"Ehm, benar kata kakak kamu?" tanya Mami, mendelik tajam kearah sang putra.
"Ahaha, bukan begitu Mi," ucap Bima sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Tangan Alfaro mencengkeram erat saat mendengar penuturan Bianca. Ia tahu betul bagaimana cara Bima memdekati Arumi saat berada di kantor. Semakin lama rasa cemburu itu kian dalam, apalagi Bima satu ruangan dengan sang istri.
...***...
Akhirnya Alfaro sampai di basement apartement, sekitar pukul sepuluh malam. Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Arumi. Karena seharian ini mereka tidak pernah bertemu di kantor.
Lagi dan lagi, saat berada di depan pintu ia tidak langsung masuk. Sepertinya hal yang satu itu akan menjadi kebiasaan saat pulang kerja, ingin selalu disambut oleh Arumi. Tak butuh waktu lama untuk menunggu, pintu itu terbuka dan Arumi sudah berada di sana, tersenyum kepadanya.
"Mas Al," ucap Arumi dengan raut wajah bahagia, ia berhambur memeluk sang suami, menciumi harum tubuh kekar yang tebalut kemeja putih, rasanya begitu nyaman, hingga ia memejamkan mata. Alfaro sampai terkesiap karena tindakan tiba-tiba sang istri.
"Kamu sangat merindukan ku ya?" tanya Alfaro dengan kedua tangan yang mengusap lembut punggung minimalis sang istri.
"Ayo masuk." Arumi menarik tangan Alfaro masuk kedalam unit apartment itu. Saat pintu itu sudah terkunci, Alfaro langsung memeluk Arumi dari belakang, menenggelamkan wajah di sana, merasakan harum tubuh yang selalu memabukkan.
"Aku juga sangat merindukan mu," kata Alfaro tepat di telinga sang istri.
"Mas mau mandi? Akan aku siapkan air hangat," ucap Arumi seraya melirik Alfaro yang menjatuhkan kepala di bahunya.
"Nanti saja, aku ingin melepas rindu dengan istri ku dulu."
Tangan kekar itu mengubah posisi Arumi agar menghadapnya. Meraih tekuk untuk penyatuan bibir mereka lagi. Ia menyesap bibir merah tipis itu secara perlahan, merasakan manisnya, melilit lidah hingga suara decapan halus terdengar memecah keheningan malam.
Rasa yang tak pernah membuat bosan, hangat, dalam dan menuntut. Tanpa sadar Arumi telah mengalungkan tangannya di leher sang suami. Matanya terpejam erat, menikmati dan berharap semua lebih dari ini.
__ADS_1
Penautan keduanya sesaat terlepas, untuk memberi kesempatan mengambil nafas lalu kembali menyatu, lebih menuntut dari sebelumnya. Tangan Arumi mulai turun kebawah, membelai dada bidang Alfaro hingga sang empunya semakin bergelora. Pertahanan kian runtuh karena yang di bawah sana mulai terasa sesak meminta untuk di bebaskan.
Alfaro mengangkat tubuh sang istri. Kaki Arumi melingkar di pinggang Alfaro, tak ingin melepaskan penautan itu meski hanya sebentar, karena hasrat yang mulai menguasai. Sesampainya di dalam kamar ranjang ukuran king size itu kembali menjadi saksi pergulatan panas antar keduanya.
...***...
Pagi kembali menyingsing. Alfaro turun dari atas tempat tidur dan belalu ke kamar mandi. Hari ini adalah hari libur, jadi ia bisa seharian bersama sang istri. Setelah kemarin tak bertemu seharian, hari ini dia berniat untuk mengajak Arumi jalan-jalan.
Alfaro sudah selesai mandi, di lihatnya Arumi yang masih terlelap seraya memeluk guling. Ia paham dan mengerti karena aktivitas malam tadi yang begitu menguras tenaga. Dengan jubah mandi yang menutupi tubuhnya, Alfaro beranjak menuju balkon kamar, menatap layar ponsel yang sudah dalam genggaman.
Kehadiran Bima dan Bianca benar-benar mengusik kehidupannya. Ia tidak mau Bima terus saja memdekati Arumi dan ia tidak mau sang Mama semakin berharap lebih kepada Bianca. Ponsel itu sudah menempel di telinganya, saat panggilan telepon mulai tersambung.
[Hallo, ada apa tuan menelpon, bukannya ini hari minggu?] Suara Aril terdengar berat karena baru saja bangun dari tidurnya.
"Bagaimana dengan persiapan pesta ulang tahun perusahaan?"
[Besok saya akan pergi mengsurvei hotel untuk pesta ulang tahun perusahaan.]
"Jangan besok, kamu pergi hari ini dan pastikan persiapan sudah sampai ke tahap pengerjaan dekorasi."
[Apa! Hari ini ... tapi Tuan ini hari minggu, jadwal saya hari ini adalah tidur seharian.]
"Tunda dulu! Cepat pergi, aku tunggu laporan kamu hari ini."
Alfaro mengakhiri panggilan telepon itu, tanpa mau mendengarkan alasan Aril lagi. Ia sudah tidak sabar untuk memperjelas semuanya, semua yang membuat hati dan pikirannya tak bisa tenang. Sementara di lain tempat, sudah bisa di pastikan Aril saat ini sedang meluapkan rasa kesalnya pada bantal dan selimut karena hari libur yang sangat berharga harus di relakan demi tugas dadakan dari sang bos.
Bersambung 💓
__ADS_1
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊