
Arumi keluar dari persembunyiannya saat kedua orang itu sudah pergi. Entah kenapa hujan kembali turun di saat paling menyedihkan ini. Alam seolah ikut berduka atas matinya kembali harapan hidup Arumi, untuk kesekian kalinya.
Tak ada gunanya menangis tapi nyatanya hati Arumi tak sekuat itu, meski ia tak ingin, tapi air mata itu keluar juga. Arumi terlihat begitu lemas, tubuhnya begetar karena kedinginan. Tidak tau arah dan tujuan, hidupnya kembali ke titik itu lagi. Dalam hitungan detik kebahagiaan itu kembali hilang untuknya. Arumi menghentikan langkahnya, menatap langit dan membiarkan air hujan menerpanya.
Jika pada akhirnya kamu juga akan pergi, lebih baik sejak awal aku menyerahkan diri kepada rentenir itu. Apa kamu benar-benar pergi, tanpa mendengar penjelasan ku?, batin Arumi.
Dari arah depan, ia melihat cahaya yang semakin mendekat. Tadinya ia ingin segera kabur karena mengira orang-orang itu kembali lagi. Namun langkahnya tertahan saat mendengar suara seorang wanita paruh baya yang terdengar tidak asing.
"Nona Rumi!" teriak Bi Ranti saat melihat Arumi dari jarak dua puluh meter.
Saat kejadian itu, Bi Ranti menyaksikan dari balik pohon hias yang ada di sudut tiang besar Mansion. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Mama mengusir Arumi dari Mansion. Tak ingin tinggal diam, Bi Ranti keluar dari pagar belakang lalu menyusul mobil itu dengan ojek.
"Bi Ranti?" ucap Arumi lemas, saat Bi Ranti turun dari motor dan menghampirinya.
"Nona baik-baik saja, apa ada yang terluka," ucap Bi Ranti sambil memeriksa kondisi Arumi.
Tiba-tiba saja pandangan Arumi terasa berputar-putar dan langsung jatuh pingsan.
"Nona!" Bi Ranti duduk bersimpuh di hadapan Arumi yang jatuh pingsan di tengah derasnya hujan.
"Pak tolong bawa Nona ini naik keatas motor," pinta Bi Ranti kepada supir ojek itu.
"Gimana ini Bu, sepertinya motor saya mogok karena terkena hujan," ucap supir ojek itu.
"Lalu bagaimana ini, Nona harus segera di bawa kerumah sakit," ucap Bi Ranti yang kian kebingungan.
Di tengah kebingungannya, dari jarak tiga puluh meter, Bi Ranti melihat mobil berjalan mendekat, ia bisa bernafas lega karena mobil itu bukanlah mobil yang tadi membawa Arumi tadi. Langsung saja Bi Ranti berdiri dan melangkah ke tengah jalan seraya melambaikan tangan.
Mobil itu berhenti mendadak saat melihat seorang wanita paru baya berdiri di tengah jalan. Bi Ranti memdekati mobil itu dan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Saat jendela terbuka, orang yang ada di dalam mobil ternyata adalah Bima.
"Tuan bisa tolong saya, Majikan saya pingsan dan harus segera dibawa kerumah sakit," ujar Bi Ranti dengan kondisi panik.
"Baiklah, dimana dia?" tanya Bima.
"Di sana Tuan," ucap Bi Ranti sambil menunjuk tempat Arumi berada bersama supir ojek itu.
Tanpa menunda waktu, Bima meraih payung dari kursi belakang dan langsung beranjak turun dari mobil. Ia mengikuti langkah Bi Ranti sampai ke bahu jalan. Betapa terkejutnya ia saat melihat wanita yang tergeletak di sana adalah Arumi.
"Rumi."
"Tuan mengenal Nona Arumi?"
"Ya, dia teman saya, dia harus segera dibawa kerumah sakit." Bima melepaskan payungnya begitu saja dan langsung membawa Arumi masuk kedalam mobil. Di ikuti Bi Ranti yang juga ikut masuk.
...**...
Perjalanan menuju rumah sakit. Bi Ranti mengeringkan tubuh Arumi dengan handuk kecil yang di berikan Bima. Bima tak henti-hentinya melirik Arumi dari depan. Melihat kondisi Arumi sekarang, ia yakin pasti sudah terjadi sesuatu yang buruk.
__ADS_1
"Bi, kenapa Arumi bisa menjadi seperti ini?" tanya Bima.
"Ini semua karena Nyonya mengusirnya dari Mansion," jawab Bi Ranti dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Di usir? Kemana suaminya?"
"Saya juga tidak tahu Tuan, yang pasti sejak berangkat pagi tadi tuan Al belum pernah pulang," tutur Bi Ranti.
Ada apa sebenarnya, kenapa dia membiarkan Arumi menjadi seperti ini, batin Bima.
~
Sesampainya di rumah sakit, Arumi langsung di naikan di atas brankar rumah sakit dan langsung di bawa ke UGD. Kini tinggallah Bima dan Bi Ranti di sana menunggu dalam keadaan cemas, mereka berharap Arumi baik-baik saja.
Bima mencoba menghubungi nomor Alfaro yang ia dapat saat Alfaro menghubunginya untuk bertemu di cafe beberapa hari yang lalu. Namun sudah beberapa kali mencoba nomor ponsel itu tidak aktif juga.
Rasa kesal mendadak menghinggapi Bima, ia mencengkram erat ponsel itu di tangannya. Bima benar-benar tidak menyangka akan melihat Arumi dalam keadaan seperti ini tanpa adanya pria yang beberapa hari yang lalu berkata kepadanya akan membahagiakan Arumi.
~
Setelah beberapa saat menunggu, Bi Ranti dan Bima berdiri dari posisi mereka saat seorang dokter keluar dari ruangan UGD.
"Bagaimana keadaan teman saya Dok?" tanya Bima.
"Nona Arumi dalam keadaan yang sangat lemah karena terlalu kelelahan, apa lagi dalam kondisi hamil muda seperti ini, Nona Arumi harusnya banyak beristirahat," ujar Dokter itu.
"Hamil?" ucap Bima dan Bi Ranti secara bersamaan.
Bima terduduk lemas di kursi tunggu. Ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Sementara Bi Ranti malah tidak lagi bisa membendung air matanya, apa lagi saat Mengingat bagaimana kejamnya sikap Mama kepada Arumi.
...**...
Sementara itu di rumah sakit yang berbeda, Almira berdiri dari duduknya saat melihat kedatangan Mama. Tapi ia heran karena Mama tidak bersama dengan Arumi.
"Kak Rumi mana Ma?" tanya Almira saat Mama sudah berada di hadapannya.
"Dia sudah pergi meninggalkan kakak kamu,"jawab Mama.
"Pergi? Apa maksud Mama."
"Dia meninggalkan Mansion begitu saja, mungkin karena rahasianya sudah terbongkar jadi dia memilih pergi," ujar Mama.
"Tidak mungkin Ma, Kak Rumi tidak akan pergi hanya karena masalah pil KB itu," tampik Almira.
"Lihat ini, dia bahkan menulis sebuah surat." Mama menyodorkan sebuah kertas kecil berisi pesan singkat yang bertuliskan bahwa Arumi pamit untuk menghilang dari kehidupan Alfaro. Almira tak bisa berkata apa-apa. Ia masih bingung dan rasanya tidak mungkin Arumi pergi dengan cara seperti ini.
...***...
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Bima pergi menuju Mansion Alfaro. Ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi sampa Arumi harus di usir seperti itu. Saat Bima meninggalkan rumah sakit tadi, Arumi belum juga sadar. Bi Ranti masih di sana untuk menjaga Arumi.
~
Akhirnya mobil Bima terparkir di depan pagar tinggi itu. Ia turun dan langsung memencet bel. Ia sangat berharap Alfaro berada disana untuk menjelaskan semuanya. Setelah beberapa saat seorang petugas keamanan menghampiri Bima.
"Anda mencari siapa?" tanya petugas keamanan itu.
"Apa Tuan Alfaro ada?" tanya Bima.
Petugas keamanan itu terdiam sesaat, seperti sedang berpikir, "Tu-tuan Alfaro dan keluarganya sudah berangkat ke Amerika," ucap petugas keamanan itu pada akhirnya.
"Apa! Amerika?"
"Iya, silahkan pergi saja, orang yang Anda cari tidak ada." Dengan cepat petugas keamanan itu menutup kembali pagar tinggi itu.
Bima mencengkram erat kedua tangannya. Saat mendapati fakta bahwa Alfaro benar-benar meninggalkan Arumi. Apa sebenarnya masalah yang terjadi hingga Alfaro meninggalkan Arumi begitu saja, pikirnya. Tak ingin berlama-lama di sana, Bima melangkah masuk kedalam mobil untuk kembali ke rumah sakit.
~
Saat sampai di rumah sakit. Bima berjalan dengan lemas menuju ruang perawatan Arumi. Ketika ia masuk, hatinya kian teriris saat melihat Arumi menangis di pelukan Bi Ranti. Ia mencoba menguatkan diri dan mengahampiri Arumi yang sedang duduk di atas brankar.
"Bagiamana Tuan, apa Anda berhasil menemui Tuan Alfaro?" tanya Bi Ranti.
Bima menggeleng perlahan sambil melihat Arumi yang memandangnya penuh harap, " Petugas keamanan disana mengatakan kalau Dia pergi ke Amerika." Jawaban Bima membuat Arumi semakin yakin jika Alfaro benar-benar pergi meninggalkannya.
"Apa kamu mempunyai nomor Aril sekertarisnya, mungkin dia tau sesuatu?" tanya Bima pada Arumi.
"Sekertaris Aril sedang di luar kota, dia pasti tidak tahu apa-apa ... sudahlah kamu tidak perlu lagi mencoba untuk mengetahui kabarnya," ucap Arumi sambil memandangi Bima dengan mata memerah karena menahan tangisnya.
"Apa maksud mu?" tanya Bima bingung.
"Saat ini ada janin yang harus aku lindungi, aku tidak mau kembali hanya untuk kembali di sakiti, cukup aku yang merasakannya, aku tidak mau anak ku juga." Air mata Arumi kembali mengalir. Betapa perihnya hati seorang istri yang harus melewati semua ini sendiri tanpa suami yang ternyata benar-benar pergi.
Bima tediam sesaat. Melihat Arumi seperti ini, ia benar-benar tidak tega. Jika memang Arumi sudah memutuskan untuk pergi dari Alfaro, apa mungkin ini adalah jalan untuk ia merebut cinta Arumi, meskipun ia tak yakin bisa karena dari mata Arumi ia bisa melihat cinta yang begitu besar untuk Alfaro.
"Apa kamu mau ikut aku ke Malaysia?" tanya Bima tiba-tiba.
"Apa maksud mu?" tanya Arumi saat mengangkat kepalanya untuk melihat Bima.
"Disana kamu bisa memulai hidup baru dengan anakmu kelak, tanpa bayang-bayang ketakutan seperti sekarang, aku hanya ingin membantu mu sebagai teman, jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak," jawab Bima.
"Benar Nona, saya sendiri akan ikut bersama Nona untuk membantu merawat bayi Nona," sahut Bi Ranti tiba-tiba.
Arumi berpikir sejenak. Apa keputusannya ini sudah tepat. Pergi dan benar-benar melupakan kisah indah bersama Alfaro. Saat hatinya masih ragu, pikirannya seolah mengingatkan bahwa sekarang Alfaro juga pergi meninggalkannya dengan status menggantung.
Demi anak ini, setidaknya saat ia lahir, ia harus mempunyai masa depan yang baik, meskipun tanpa ayah di sampingnya jika memag pergi jauh adalah jalan satu-satunya, maka aku akan melewatinya dengan kuat, batin Arumi.
__ADS_1
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊