
Hari keberangkatan telah tiba. Koper Arumi dan Alfaro sudah di bawa turun oleh beberapa pelayan di Mansion. Pagi ini Vino dan Viona masih tertidur, Arumi menyempatkan untuk berbaring di samping anak-anaknya sebelum akhirnya berpisah beberapa hari.
Waktu keberangkatan, sekitar pukul sembilan pagi. Jadi Arumi masih punya waktu sekitar dua jam untuk memandangi wajah anak-anaknya sampai puas. Alfaro yang baru saja selesai mandi melihat istrinya yang masih berbaring seakan tak ingin beranjak.
"Sayang, kamu tidak mandi?" tanya Alfaro seraya mengeringkan kepalanya dengan sebuah handuk kecil.
Mendengar suara sang suami. Arumi bangkit dari posisinya lalu melangkah turun untuk menghampiri suaminya. Melihat deretan roti sobek di pagi hari seperti ini membuat mata Arumi malah lebih fokus ke perut dari pada wajah Alfaro. Arumi meraih handuk kecil itu lalu mengambil alih mengeringkan rambut suaminya.
"Aku keasyikan memandangi Vino dan Viona," Jawab Arumi seraya berusaha bernjinjit agar bisa mensejajarkan tingginya dengan sang suami. Melihat Arumi yang begitu susah mengeringkan rambutnya, Alfaro membungkukkan sedikit badan agar sang istri tidak kesusahan.
"Ternyata kamu pendek juga," ledek Alfaro.
"Hah, pendek? Mas saja yang terlalu tinggi," ucap Arumi dengan wajah cemberutnya.
Cup.
Di tengah fokus sang istri mengeringkan rambutnya. Alfaro masih sempat mencuri ciuman walau hanya sedikit. Arumi hanya tersenyum seraya menggeleng perlahan, karena tingkah sang suami. Di pagi hari seperti ini, hasrat Alfaro semakin bertambah, namun lagi-lagi tidak bisa tersalurkan.
"Kamu masih datang bulan?" tanya Alfaro.
"Sudah tidak," jawab Arumi singkat.
Alfaro menahan tangan Arumi yang sedang mengeringkan rambutnya, saat mendengar ucapan sang istri, "Jadi kamu sudah tidak datang bulan?"
"Iya Mas, sejak dua hari yang lalu," ucap Arumi singkat.
"Apa! Dua hari yang lalu ... kenapa kamu tidak bilang," kata Alfaro seraya menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kita mau pergi bulan madu," ucap Arumi lalu mendekatkan wajahnya di telinga sang suami, "Aku harus menyiapkan tenaga untuk menghadapi hasrat suamiku," bisik Arumi yang membuat bulu kuduk Alfaro berdiri dan termaksud yang di bawah sana juga.
Melihat Alfaro hanya diam mematung. Arumi segera melangkah pergi menuju kamar mandi. Saat Ia tersadar dari lamunannya, Alfaro segera menyusul sang istri yang sudah masuk kedalam kamar mandi, namun saat ia berusaha membuka pintu kamar mandi, ternyata istrinya itu cukup cerdas untuk terus menyiksanya, pintu itu terkunci dari dalam.
"Sayang buka pintunya," ucap Alfaro dengan wajah memelas.
"Aku mau mandi Mas, bersiap-siap lah kita akan berangkat ke bandara," teriak Arumi dari dalam kamar mandi.
"Baiklah, sesampainya disana aku tidak akan membiarkan kamu tidur sepanjang malam!" seru Alfaro dengan wajah tersiksanya. Dan karena suaranya itu juga Vino dan Viona terbangun dari tidurnya.
"Mommy!" teriak Vino dan Viona saat terbangun dari tidurnya.
...***...
Arumi bersama anak dan suaminya, turun ke lantai bawah. Sesampainya di ujung tangga, mereka bisa melihat ruang makan sudah ramai karena Aril, Dinda juga ikut bergabung bersama Mama, Almira dan Bima pagi ini. Ya, mereka semua akan mengantarkan Arumi dan Alfaro ke bandara.
"Penerbangannya jam berapa Al?" tanya Mama setelah selesai menyeruput teh herbalnya.
"Jam sembilan Ma," jawab Alfaro saat menoleh ke arah Mama.
"Di London sekarang sedang musim dingin, sebaiknya bawa jaket yang banyak, karena satu lapis saja tidak akan cukup," sahut Bima.
"Iya, benar sekali dulu sewaktu kuliah di Amerika, aku pernah melakukan perjalanan wisata ke sana bersama teman-teman ku, cuacanya benar-benar sangat dingin," sambung Almira.
"Iya, jaket yang ku bawa cukup banyak sampai satu koper besar," ujar Arumi.
"Apalah daya ku yang belum pernah ke London," ucap Dinda dengan ekspresi sedih yang di buat-buat.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana terkekeh saat mendengar ucapan Dinda. Sementara Aril hanya menggeleng tak percaya, karena gadis yang ia cintai itu, tetap menjadi dirinya sendiri meski sedang duduk di antara keluarga Wilson.
Di tengah suasana hangat yang tercipta, Aril melirik kearah Alfaro yang terlihat begitu bahagia. Ya, Aril masih tidak menyangka bahwa negara yang di pilih sebagai tempat untuk berbulan madu sang bos adalah kota London. Ia tau betul kota itu di huni oleh seseorang yang pernah menorehkan luka hingga gelar duda sempat di sandang meski hanya beberapa hari.
Aril yakin jika bosnya kini sudah melupakan sang Mantan. Tapi dendam dimasa lalu, apa juga sudah hilang? Mengingat bagaimana kini sang Mantan juga sudah menikah dengan pria yang menjadi orang ketiga di antara hubungan pernikahan Alfaro dan Sarah.
Bulu kuduk Aril seketika berdiri saat mengingat ucapan Alfaro ketika Sarah pamit untuk terakhir kalinya sebelum pergi ke London bersama pria selingkuhannya. Masa itu Alfaro berkata kepada Sarah, "Pergilah sejauh mungkin, karena jika aku sampai menemukan kamu dan si brensek itu, aku pastikan kalian akan ke neraka bersama-sama."
...**...
Dua jam berlalu, akhirnya mereka sampai di bandara internasional Soekarno Hatta. Di depan pintu keberangkatan, Arumi bersimpuh di hadapan Vino dan Viona memeluk seraya menciumi kedua mereka tanpa henti. Tangisnya tertahan karena tak ingin membuat kedua anaknya melihat betapa rapuhnya seorang ibu saat akan meninggalkan anak-anaknya meski hanya beberapa hari. Alfaro dan yang lainnya, hanya membiarkan Arumi melepas rindu sebelum pergi.
"Mata Mommy melah," ucap Vino.
"Mommy nonton yutube lama ya, tuh kan matanya melah," sambung Viona.
"Iya Mommy terlalu banyak nonton, selama mommy pergi Vino dan Viona jangan nonton YouTube terlalu lama ya, jangan telat makan, dan harus nurut kata Oma, uncle dan onty," ujar Arumi dengan senyum yang di paksakan.
"Siap Mommy." ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
Suara nyaring mulai terdengar. Bahwa pesawat dengan tujuan London akan segera berangkat. Hal itu juga sebagai pertanda jika Alfaro dan Arumi harus segera berpamitan. Arumi berdiri dari posisinya, pamit kepada mertua, ipar, Dinda, Aril dan juga Bima. Begitu juga dengan Alfaro yang juga ikut pamit.
Setelah momen yang cukup dramatis terlewati. Arumi dan Alfaro melangkah pergi meninggalkan orang-orang terkasih selama satu minggu kedepan. Sebelum benar-benar pergi, Arumi kembali berbalik, untuk sekedar melambaikan tangan. Melihat anaknya tetap tersenyum meski ia tinggalkan, Arumi merasa lebih lega, apa lagi Vino dan Viona di kelilingi oleh orang yang sangat menyayangi mereka.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+Komen+vote ya readers 🙏😊😍❤️
__ADS_1