Selir Hati Mr. Billionaire

Selir Hati Mr. Billionaire
Bab.113 (Fakta kejadian di masalalu)


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul empat sore Sudah saatnya untuk semua karyawan WB grup meninggalkan pekerjaan mereka, meski tak jarang masih ada yang harus tetap tinggal untuk bekerja lembur. Almira yang baru saja keluar dari lift, memutar bola matanya malas, saat telepon yang ia harapkan datang dari sang kekasih, nyatanya malah datang dari Dave.


Almira memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Lalu melanjutkan langkahnya keluar dari gedung dua puluh lantai itu. Langkahnya kembali harus terhenti saat seseorang yang tidak di hadapkan sedang berdiri seraya bersandar di samping mobil yang terparkir di halaman kantor. Orang itu adalah Dave, ia tersenyum seraya melambaikan tangan kepada Almira.


Langkah yang tak juga ingin berlanjut, membuat Dave beranjak dari posisinya untuk menghampiri Almira. Almira bersikap acuh terhadap mantan sahabatnya itu karena masih merasa kejadian di masa lalu, sangat membebaninya, di luar sikap Mama yang dulu sangat keterlaluan terhadap Dave dan keluarga, ia juga terbebani dengan perasaan sang sahabat yang nyatanya sampai saat ini masih mencintainya.


"Kenapa tidak mengangkat telpon ku?" tanya Dave saat berhenti di hadapan Almira.


"Aku sudah bilang berhenti mengganggu ku kenapa juga kamu harus sampai disini," ucap Almira seraya berpangku tangan.


"Ck, sepertinya kedatangan ku sangat menggangu mu ya ... maaf untuk malam itu, karena aku terbawa suasana dan membuat kamu merasa tidak nyaman, tapi aku hanya mengungkapkan perasaan ku. Aku tidak berharap kamu menanggapinya ... aku sudah lama menunggu saat ini, saat kita bisa mengobrol bersama sebagai teman," ujar Dave.


Maafkan aku karena aku harus berbohong, agar kamu bisa menerima kembali kehadiran ku, meski hanya sebagai teman, tapi aku sudah mengawasi mu sejak dulu, meski dari kejauhan ... aku benar-benar masih mencintai mu, batin Dave.


"Jadi apa kita bisa bicara sebentar?" pinta Dave penuh harap.


Almira menghela nafas panjang, menunduk sebentar kemudian kembali menatap Dave, "Baiklah, sepertinya kita memang harus bicara."


~


Cahaya jingga dari ufuk barat menemaninya sepasang sahabat lama yang kini sedang duduk di sebuah cafe dengan tema outdoor. Secangkir moca latte menemani keheningan yang tercipta antar keduanya. Baik Almira ataupun Dave tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dulu. Di saat Almira memandang kearah jalan raya dari lantai dua, Dave sedang menikmati minumanya seraya terus menatap Almira.


"Sampai kapan kamu akan melihat ku seperti itu," ucap Almira saat sadar, jika terus di pandangi oleh Dave.

__ADS_1


"Aku ketahuan ya, kamu memang sangat peka tentang hal seperti ini," ucap Dave lalu kembali menyeruput kopinya.


Almira mengalihkan pandangan ke Dave yang duduk di hadapannya, "Maaf untuk kejadian di masa lalu ... terutama untuk sikap Mama ku yang sangat keterlaluan saat itu," ucap Almira kemudian tertunduk sebentar, menghembuskan nafas yang terasa berat.


Mendengar ucapan Almira, Dave hanya tersenyum. Masa itu ia cukup syok karena mendapatkan sebuah tamparan di hadapan teman-teman dan juga guru, "Aku sudah melupakan semuanya ... dulu, aku memang cukup kaget karena perlakuan Mama kamu, tapi semakin dewasa aku semakin mengerti jika semua itu karena Mama kamu menginginkan yang terbaik untuk anaknya."


"Lalu kenapa kamu keluar dari sekolah di akhir semester, padahal sebentar lagi kita akan ujian, kamu juga tiba-tiba menghilang tanpa kabar?" tanya Almira. Pertanyaan yang membuat ia menerima ajakan Dave untuk bicara.


Dave tertegun sesaat. Ia menatap wajah Almira yang saat ini benar-benar ada di hadapannya. Wajah wanita yang menjadi cinta pertamanya semasa SMA, wajah yang tak bisa ia lupakan karena memberi luka dan cinta disaat yang bersamaan.


"Masa itu ... setelah kejadian dimana Mama kamu menemui ku di sekolah, ayahku jatuh sakit karena mengetahui jika aku di permalukan ... hari itu juga ayahku meninggal dunia. Jenazah ayah langsung dibawa ke kota kelahirannya. Maaf aku tidak sempat pamit waktu itu karena semua terjadi secara tiba-tiba."


Deg.


Almira menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terdiam sesaat, hal itu membuat Dave menjadi merasa bersalah karena sudah menceritakan semuanya. Semua ini, ia ceritakan agar Almira tidak menjauhinya lagi. Namun di luar dugaan, Almira nampak sangat terpukul dengan berita itu.


"Mira kamu baik-baik saja?" tanya Dave yang mulai terlihat khwatir.


Almira kembali menegapkan kepala, menatap Dave dengan mata berkaca-kaca, "Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah mengetahui semuanya ... kenapa kamu baru datang dan menjelaskan semuanya."


"Aku melanjutkan sekolah ku, aku bekerja keras agar aku bisa pantas berhadapan dengan mu lagi," jelasnya.


Almira mengusap wajahnya dengan kasar. Samar-samar ia masih ingat kata-kata Mama kepada Dave waktu itu. Mama bilang jika Dave tidaklah sederajat dengannya. Hal itu menjadi pemacu Dave untuk menjadi orang sukses seperti sekarang.

__ADS_1


"Maaf untuk semuanya ... Dulu Mama ku memang sangat keras, andai dulu aku tahu jika ayah kamu meninggal, aku pasti akan meminta Mama bagaimana pun caranya, agar pergi kerumah kamu untuk minta maaf," ucap Almira dengan suara bergetar.


"Sudahlah Mira, semua sudah berlalu ... ayah ku dulu selalu mengajarkan ku untuk memaafkan orang lain, andai dulu Mama kamu tidak mengatakan hal seperti itu, aku pasti tidak akan seperti sekarang."


"Kenapa dari dulu kamu selalu saja senaif ini," ucap Almira yang mulai terlihat terseyum.


Dave ikut tersenyum, "Kamu tahu sendiri bagaimana aku sejak dulu."


"Seiring berjalannya waktu, kamu banyak berubah kecuali satu hal yang satu itu," ucap Almira.


Dave terkekeh sendiri mendengarkan ucapan Almira, lekungan bibir itu kembali terlihat datar saat ia kembali ingat jika Almira sudah mempunyai kekasih, "Lalu bagaimana dengan kamu dan pacarmu, apa hubungan kalian sangat serius?" tanya Dave yang berusaha tetap bersikap normal, demi menjaga kenyamanan Almira.


"Ya begitulah ... dia orang yang sangat mandiri dan pekerja keras, hubungan kami masih baru, tapi aku dan dia mempunyai komitmen tersendiri," jelas Almira.


"Kamu terlihat sangat bahagia," ucap Dave yang berusaha tetap tersenyum, walau hatinya terluka, ia menyesal karena datang terlambat hingga membiarkan seseorang mendahuluinya.


"Besok pembukaan cabang restaurant baru ku, aku harap kamu bisa hadir ... aku juga mengundang teman-teman yang lain," ujar Dave berusaha mencairkan suasana.


"Emm ... mungkin akan sedikit terlambat tapi aku usahakan datang," ucap Almira kemudian kembali menyeruput kopinya.


Cahaya matahari senja ini, membuat pesona Almira kian terpancar. Melihat Almira yang sedang memandang kearah jalanan, secara diam-diam, Dave memotret wajah cantik yang memang pantas di abadikan. Ia sudah seperti pengagum rahasia yang mencuri-curi kesempatan untuk sekedar mengabadikan momen, meski pada kenyataannya ia sudah menyatakan perasaannya meski berakhir dengan penolakan.


Bersambung 💓

__ADS_1


Jangan lupa like+komen+votenya readers 🙏😊😍❤️


__ADS_2