
...Empat tahun berlalu begitu cepat...
...🍁...
...🍁...
...🍁...
...🍁...
Masih dengan pakain kerjanya, Aril dan Dinda sampai di depan sebuah club malam. Mereka baru saja selesai bekerja lembur di perusahaan, saat akan mengantarkan Dinda pulang, Aril mendapatkan telepon dari manager club malam bahwa Alfaro sedang mabuk berat.
"Apa benar ini tempatnya?" tanya Dinda seraya memandangi gedung yang di hiasi lampu kelap kelip.
"Iya ini tempatnya," jawab Aril.
"Kenapa Tuan Al mabuk-mabukan?" tanya Dinda lagi.
"Hari ini tepat 4 tahun Nona Arumi menghilang dan setiap tahunnya, di tanggal yang sama dia akan menjadi kacau dan mengkonsumsi alkohol di club ini ... kenapa aku bisa sampai lupa hari ini ya," tutur Aril yang menatap nanar kedepan.
"Huh, dimana Arumi sekarang? Aku juga sangat merindukannya," lirih Dinda.
"Kamu mau tunggu disini atau ikut masuk?" tanya Aril saat menoleh kearah Dinda yang berdiri di sampingnya.
"Tentu saja aku ikut, bagaimana jika ada preman atau om om yang menggoda ku," ucap Dinda.
"Hah, siapa juga yang akan tertarik kepada wanita pendek seperti mu," ejek Aril.
Bug.
Satu pukulan mendarat tepat di bahu Aril, "Setelah empat tahun kamu masih saja suka meledekku, awas saja aku tidak akan menemani kamu menonton bola lagi. Mulai sekarang aku akan fokus mencari pacar." Dinda melangkah melewati Aril.
"Hey! Aku cuma bercanda, kenapa kau sensitif sekali." Teriak Aril namun tak di perdulikan Dinda ia tetap melangkah masuk kedalam club malam itu.
Empat tahun bekerja sama. Aril dan Dinda menjadi teman satu frekuensi, meski tak jarang di warnai pertengkaran kecil yang membuat keributan namun setelahnya mereka kembali normal. Sering dikira pacaran tapi baik Aril dan Dinda sama-sama menyangkal jika hubungan mereka lebih dari teman.
Melihat Dinda marah adalah sebuah hiburan tersendiri baginya. Kehadiran Dinda sebagai sahabat membuat hidup Aril lebih berwarna, namun rasa itu kian melenceng saat perasaan yang mulai menggelitik hati tanpa di sadari. Setelah terdiam beberapa saat, Aril berlari menyusul Dinda masuk kedalam club itu.
Sesampainya di dalam suasana sudah sepi karena club itu sudah tutup. Mereka bisa melihat Alfaro tertidur dengan posisi duduk di sebuah kursi bar. Dengan cepat Aril dan Dinda menghampiri sang Bos. Bau alkohol yang begitu menyengat dan mulut yang terus mengucapkan kata-kata samar yang tak jelas di dengar.
Tepat di bulan ini Arumi pergi meninggalkannya entah kemana. Empat tahun sudah ia berusaha mencari. Namun tak satupun orang tahu dimana Arumi. Sesak di dada tak juga hilang seiring waktu yang berjalan. Apa yang harus ia lakukan sekarang karena cinta itu tak pernah berkurang walau sedikit.
__ADS_1
"Tuan... tuan.." panggil Aril seraya menepuk pundak Alfaro.
Perlahan Alfaro mengangkat kepalanya, menatap Aril yang sekarang berada di sampingnya. Wajah putih dengan bulu halus yang menghiasi terlihat memerah padam. Ia tersenyum dengan mata sayup karena mabuk.
"Aril kau sudah datang." Alfaro berdiri dari posisinya dan langsung memeluk Aril, "Apa kau sudah menemukannya, aku sudah terlalu lama menunggu."
"Tuan anda terlalu banyak minum, sekarang anda harus pulang," ucap Aril sambil melepaskan pelukan Alfaro.
Alfaro mencoba berdiri dengan tubuh yang sempoyongan. Ia menatap Dinda yang berdiri di samping Aril, ia tersenyum menyeringai saat wajah Dinda berubah menjadi wajah Arumi dalam pandangannya, "Istriku ... kau sudah pulang." Alfaro bergerak hendak memeluk Dinda namun Aril segera menghalangi.
"Hey Tuan, dia bukan Arumi! Dia milik saya, eh maksud saya, dia Dinda asisten saya," ucap Aril yang kini sedang melindungi Dinda di belakang punggungnya.
"Sepertinya Tuan Al benar-benar mabuk berat," ucap Dinda dari belakang punggung Aril.
"Kita harus membawanya keluar," ucap Aril.
"Minggir kau! Aku ingin memeluk istriku." Alfaro menggeser tubuh Aril dengan kasar hingga Aril tersungkur ke lantai.
Namun saat ia kembali melihat wanita di balik punggung Aril. Ia terdiam karena ia mulai sadar jika itu bukalah Arumi melainkan Dinda. Ia mundur perlahan hingga menumbur kursi bar seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Hari ini semua banyangan kenangannya bersama Arumi benar-benar memenuhi pikirannya.
"Kenapa kamu seperti hantu! Kemanapun aku pergi, bayanganmu selalu membayangi ku, kenapa!" teriaknya dengan kencang. Kemudian ia duduk bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk dan air mata yang kembali menyapa, "Kembalilah, ku mohon ... aku merindukanmu ... sangat merindukan mu."
...***...
Pagi yang cerah di seberang lautan nan jauh di sana. Bima baru saja sampai di depan apartement yang di tempati Arumi. Ia harus menempuh perjalanan selama satu jam dari rumahnya untuk sampai ke apartemen itu. Ia meraih dua buah coklat dari dasboard mobil, lalu beranjak turun dari mobil.
~
Baru saja pintu apartemen itu terbuka Bima sudah disambut oleh dua bocah kecil yang sudah menunggu kedatangannya.
"Uncle Bi!!" teriak dua orang anak kecil yang berusia sekitar 3tahun lebih.
Bima merentangkan kedua tangannya saat dua anak kecil itu berhambur memeluknya. Ya, dua bocah kembar itu adalah anak Arumi yang di beri nama Vino dan viona.
"Uncle bawa apa?" tanya Vino saat melepaskan pelukannya dari Bima.
"Itu cokat lah," sahut viona.
"Ya! vino juga tau itu cokat," ucap Vino kesal.
"Telus kenapa nanya lagi," ucap Viona.
__ADS_1
"Sudah-sudah jangan bertengkar, ini satu untuk Vino dan satu lagi untuk Viona."
"Thank you Uncle Bi!" ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
Bima terkekeh sendiri mendengarkan pertengkaran dua bocah menggemaskan di hadapannya. Tak lama Arumi dan Bi Ranti datang menghampiri mereka. Bima tersenyum saat melihat Arumi yang pagi ini juga sedang menikmati libur akhir pekan.
"Selamat pagi Rumi, Bi Ranti," sapa Bima sambil mengangkat tangannya.
"Selamat pagi Tuan Bima," sapa Bi Ranti.
"Bima ... aku kira kamu tidak jadi datang," ucap Arumi.
"Rapatnya di undur," jawabnya.
"Oh begitu ... kebetulan kamu disini, bisa kita bicara sebentar," pinta Arumi.
"Baiklah."
Bima menoleh kearah Vino dan Viona yang sedang menikmati coklat mereka, "Uncle dan Mommy bicara sebentar ya, nanti kita main lagi."
"Oke uncle," ucap Vino dan Viona secara bersamaan.
Bima mengikuti langkah Arumi menuju balkon apartemen. Empat tahun sudah Bima menemani perjalanan hidup Arumi sebagai teman yang siap membantu kapan saja. tanpa mengharapkan apapun. Meski perasaannya kepada Arumi masih sama.
"yona," panggil Vino.
"Apa," ucap Viona dengan mulut penuh coklat.
"Kok Uncle Bi manggil Mommy Alumi telus, bukannya nama Mommy itu Amanda?" tanya Vino dengan polosnya.
"Nama Mommy ada dua kali," sahut Viona.
Vino terdiam sejenak seraya memcoba berpikir keras, "Mungkin," ucap Vino sambil mengangkat bahunya.
Bi Ranti selalu saja terseyum saat melihat dua anak kembar di hadapannya ini. Hatinya kembali terenyuh jika mengingat kejadian empat tahun silam yang membuat Vino dan Viona tumbuh tanpa sosok seorang ayah.
Andai Tuan Alfaro sekarang berada disini, pasti dia akan sangat senang melihat kedua anaknya yang tumbuh sangat tampan dan cantik, kapan mereka akan kembali di pertemukan dan kembali menjadi keluarga yang seutuhnya, batin Bi Ranti.
Bersambung 💓
Jangan lupa like+komen+vote ya readers 🙏😊😍
__ADS_1