Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Akan baik-baik saja


__ADS_3

"Capek?" tanya Rangga ketika kepala Vara menyandar di bahunya.


Vara mengangguk, "Padahal tidak melakukan apa-apa. Tetapi kenapa rasanya badanku capek sekali, Mas."


"Kamu mau tidur?"


Vara menggeleng, ia hanya membutuhkan bahu tempat bersandar ternyaman saat ini, "Aku mau dipeluk kamu saja," kelakarnya.


Rangga menyambut perkataan Vara. Segera ia mendekap wanita yang sangat ia cintai. Tidak peduli tatapan dari pelanggan cafe yang menatap tidak percaya seorang Rangga yang terkenal dingin bisa bersikap semanis itu pada istrinya.


Beberapa orang nampak berbisik-bisik atas keterkejutan mereka. Mereka sangat mengetahui siapa Rangga. Wajahnya yang sudah tersebar luas di majalah bisnis dan televisi sebagai pria sukses di usianya yang masih muda.


"Lepasin, Mas. Malu dilihat orang."


"Apa peduli mereka. Kita suami istri, Ra. Bebas mau ngapain aja."

__ADS_1


"Tetapi tidak di sini juga, Mas," mencubit pinggang Rangga yang membuat pria itu meringis.


"Kejam banget sih, Ra," dengusnya.


"Apa sakit?" raut wajah Vara nampak panik melihat Rangga mengelus pinggangnya yang terasa memanas.


Rangga terkekeh geli melihat reaksi istrinya. Kembali ia membawa tubuh Vara ke dalam dekapannya, "Tidak ada apa-apanya dibandingkan sakitnya melihat kamu bersama laki-laki lain, Ra," lirihnya.


"Fero hanya meminta saran kepadaku, Mas. Kamu tau 'kan masalahnya sangat rumit saat ini?"


"Kamu menyindirku, Mas?" rungut Vara.


"Tidak, sayang. Jika aku di posisi Fero saat ini, aku sangat bersyukur. Setidaknya tuhan masih memberi kesempatan untukku bertanggungjawab pada ibu dari anakku dengan membersamainya ketika mengandung."


Vara menunduk, "Maafkan aku, Mas."

__ADS_1


Rangga mengelus punggung Vara. Semua juga kesalahannya yang membuat hati istrinya begitu terluka dulu. Jika mengingat sikapnya kepada Vara dulu, rasanya Rangga sangat merutuki kebodohannya, "Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku hanya berharap kamu bisa memaafkan kesalahanku yang dulu."


Vara menatap manik coklat itu lama. Matanya sudah berkaca-kaca. Cairan bening siap lolos dari pelupuk matanya, "Kamu sudah membayar semuanya untuk saat ini, Mas. Tidak perlu membahas masalah yang sudah berlalu. Untuk saat ini aku sangat bahagia bisa bersamamu. Aku sangat mencintai kamu."


"Aku juga sangat mencintai kamu, Ra."


Vara melepaskan pelukannya. Suasana cafe sudah mulai sepi ketika para mahasiswa sudah selesai menikmati makanan mereka, "Bagaimana dengan Audi, Mas?" tanya Vara hati-hati. Jujur saja hatinya tidak tenang mengingat wanita yang selalu mengejar suaminya dari dulu.


"Sudahlah, jangan membahasnya lagi."


Hati Vara tetap saja gelisah. Ia tahu bagaimana Audi begitu terobsesi dengan suaminya. Bahkan sampai saat ini wanita itu masih saja mengganggu Rangga walau hanya lewat media sosial, "Apa Audi menetap di sana, Mas?" tanya Vara. Ia mengetahui dari ketiga sahabatnya jika Audi kini tengah berada di luar negri untuk waktu yang cukup lama.


"Aku tidak tahu apa-apa tentangnya, Sayang. Tenanglah, kamu lebih berarti untukku," tegas Rangga.


Pikiran Vara menerawang, ia yakin jika Audi belum mengetahui jika ia dan Rangga akan memiliki anak lagi. Mengingat perlakuan Audi yang semena-mena kepadanya membuat Vara takut. Bisa saja wanita itu berniat jahat dan mencelakai anak dalam kandungannya.

__ADS_1


"Tenanglah, sayang. Semua akan baik-baik saja," tutur Rangga. melihat raut wajah Vara membuat Rangga yakin, jika istrinya kini masih menyimpan rasa takut yang mendalam karena perbuatan Audi dulu.


__ADS_2