
Fero mengemudikan mobilnya dengan cepat ketika mendapat perintah dari Papanya untuk segera datang ke rumah utama. Dari cara bicara Papanya, Fero tahu jika Papanya tengah menahan emosi yang memuncak. Berbagai pertanyaan muncul di pikirannya, hal apa yang membuat Papanya sampai semarah itu. Tidak ingin mengambil pusing, Fero bahkan membatalkan beberapa rapat penting yang harus ia hadiri.
Sesampainya di depan rumah orangtuanya. Fero melihat mobil yang tidak asing di penglihatannya. Melangkah cepat masuk ke dalam rumah. Belum sempat matanya mengedarkan pandangan untuk melihat siapa saja yang ada di dalam ruang tamu, tamparan keras sudah melayang di pipi kirinya.
"Apa yang sudah kamu lakukan kepada Zia, huh? Lihat hasil dari perbuatan kamu! Zia sekarang hamil di luar nikah. Kamu benar-benar membuat Papa malu!! Kurang apa Papa dan Mama mengajarkan kamu untuk menghargai wanita selama ini?!" bentak Doni.
__ADS_1
"Sabar, Pa. Tahan emosi Papa, nanti penyakit darah tinggi Papa bisa kambuh," Dewi mencoba untuk menenangkan suaminya yang tengah emosi. Sejak mengetahui keadaan Zia yang sebenarnya dari mantan calon besannya, Doni mengajak keluarga Ardi untuk datang ke rumahnya dengan membawa Zia untuk menyelesaikan permasalahan keluarga mereka.
Fero menatap Zia yang tengah duduk di sofa dengan menunduk. Bahunya yang naik turun membuat Fero bisa menarik kesimpulan jika wanita itu sedang menangis, "Maafkan Fero, Pa. Fero tau apa yang Fero lakukan adalah sebuah kesalahan. Fero akan menikahi Zia secepatnya," melirik ke arah Ardi dan Hera, "Maafkan atas perbuatan bejad Fero kepada Zia, Om, Tante."
Ardi dan Hera saling pandang. Walaupun mereka sangat murka atas perbuatan Fero, tetapi mereka telah mendiskusikan sebelumnya untuk tidak membahas masalah itu lagi. Keadaan tidak akan kembali ke posisi semuala. Mereka tidak dapat mengembalikan takdir anak mereka yang sudah terjadi, "Kami serahkan semua keputusan kepada Zia. Jujur, kami sangat kecewa kepada kamu. Tetapi untuk kali ini yang terpenting adalah anak yang ada di dalam kandungan Zia."
__ADS_1
Masuk ke dalam mobil orangtuanya, "Bawa Zia pergi dari sini, Pak. Cepat!" perintah Zia pada supir pribadi keluarganya.
Tanpa menanyakan apapun, Pak Yatno dengan cepat membawa Zia keluar dari halaman rumah. Sepanjang jalan hanya terdengar suara tangisan Zia. Hatinya serasa sakit, ia tahu Fero hanya ingin menebus rasa bersalahnya saja kepada dirinya.
Zia mengingat betapa kagetnya kedua orangtuanya melihat perut buncitnya ketika membuka pintu rumah Gita. Mamanya bahkan menangis tersedu-sedu melihat nasib buruk yang terjadi pada putrinya. Zia tahu, lambat laun semuanya akan terbongkar.
__ADS_1
Aku tidak peduli lagi dengan nasibku yang buruk ini. Kini hanya anak yang ada di dalam kandunganku yang harus aku utamakan. Anakku harus bahagia dan bisa hidup dengan layak. Perasaan ini akan hilang seiring berjalannya waktu. Aku tidak menyesal pernah mencintai Fero. Yang aku sesali hanya kelancanganku yang sudah berani mencintainya dan mengusik hidupnya.