Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Selalu saja berlebihan


__ADS_3

Mengelus perutnya, Zia berharap anaknya dapat diajak bekerjasama. Ternyata keberuntungan tidak berpihak kepadanya untuk memasak kali ini. Rasa mual kembali menyerang. Zia menyerah, memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi meronta ingin keluar. Tubuhnya luruh di lantai, tenaga Zia yang semangat tadi hilang entah kemana. Jika sudah mual seperti ini Zia tak dapat lagi melanjutkan aktivitasnya.


"Zia," pekik Gita yang melihat Zia memejamkan mata dengan tangan yang sedang memeluk lututnya.


Mendengar suara keras Gita, Zia dengan segera mengangkat wajahnya yang nampak pucat, "Kamu sudah pulang? Kenapa cepat sekali? Agh, maaf. Aku tidak sempat memasak makanan untuk kamu hari ini," lirih Zia.


"Kamu kenapa duduk di sini Zia?! Apa kamu tidak apa-apa??" Gita nampak semakin panik melihat wajah pucat Zia. Memegang tangan Zia yang terasa lemas dan membantunya berdiri, "Kenapa kamu selalu saja tidak menuruti perkataanku, Zia! Lihat kamu jadi seperti ini. Aku bisa membeli makanan atau memasak sendiri jika lapar!" kesal Gita. Mukanya masih nampak panik. Ia dudukkan Zia di atas kursi meja makan.


"Maafkan aku, Git. Aku memasak karena aku lapar."

__ADS_1


"Kamu bisa memesan makanan saja, Zia! Jangan menyakiti diri kamu seperti ini. Kamu sudah tau jika tidak bisa mencium aroma masakan. Tetapi kenapa kamu selalu saja memasak!" Gita nampak berkaca-kaca. Seandainya bisa, ia ingin sekali menemani Zia di rumah. Tidak mudah melewati masa kehamilan seorang diri tanpa ada yang mendampingi seperti Zia saat ini.


"Anakku ingin makanan yang Mamanya buat sendiri. Lagi pula ini hanya sebentar, kamu tenang saja!" Zia terkekeh pelan, sahabatnya itu memang terlalu perhatian dengannya sejak dulu. Melihat wajah Gita yang nampak memerah menahan tangis, Zia merasa bersalah, "Tenanglah, aku sungguh tidak apa-apa, Git. Kemarilah," merentangkan kedua tangannya. Gita menyambut pelukan Zia, air matanya akhirnya lolos juga. Zia mengelus punggung Gita yang bergetar untuk menenangkannya.


"Jangan seperti ini lagi, Zi. Aku sungguh khawatir meninggalkan kamu sendiri di rumah. Siapa yang akan membantu kamu jika kamu tidak bisa berdiri seperti tadi," kelakar Gita.


Zia terkekeh, "Selalu saja berlebihan," memukul pelan pundak Gita.


"Git."

__ADS_1


"Hem?"


"Aku sungguh lapar. Emh, bagaimana ini?" tanyanya ragu.


"Kita membeli makanan saja! Akan lama jika menunggu memasak terlebih dahulu," masih tidak menghentikan aktivitasnya membersihkan dapur. Seketika matanya membulat sempurna ketika mengingat dengan siapa ia pulang ke kontrakan dan apa tujuannya.


Gita menoleh ke arah pintu dapur. Ia dapat melihat dengan jelas Fero sedang menatap Zia lekat yang tengah mengelus perutnya sambil memejamkan mata. Entah sejak kapan Fero berdiri tegak di pintu dapur. Posisi Zia yang duduk membelakangi Fero membuat Gita yakin, jika sedari tadi Zia tidak menyadari adanya sosok Fero di sana.


Fero memberi isyarat kepada Gita untuk pergi meninggalkan dia dan Zia. Gita mengangguk mengerti, "Ada yang ingin aku cari di dalam kamar, kamu tunggulah di sini dan jangan mengerjakan apapun lagi. Jangan membantah ucapanku kali, Zi!"

__ADS_1


Zia mengangguk, menelungkupkan wajahnya di atas meja makan. Perutnya terus berbunyi meminta diisi secepatnya, "Sabar ya, sayang. Kita akan makan sebentar lagi. Tunggu tante Gita ada urusan sebentar saja," gumamnya.


Perlahan Zia mengangkat wajahnya ketika aroma parfum yang sangat dikenalinya mulai menusuk ke indera penciumannya.


__ADS_2