
"Tapi sekarang rasa sakit itu sudah berubah menjadi rasa kebahagiaan yang tak terhingga. Terimakasih sudah memberikan kebahagian kepadaku, Mas." lanjutnya ketika melihat ekspresi Rangga yang berubah sendu.
Rangga tersenyum membalas ucapan istrinya. Di perjalan mereka lewati dengan bercerita tentang perjalanan cinta mereka yang akhirnya berakhir bahagia. Rasa syukur tidak henti-hentinya Vara panjatkan karena sudah diberi kebahagiaan yang tak terhingga seperti saat ini.
Tak terasa mobil yang dikendarai Rangga memasuki gerbang rumah mereka. Vara segera turun dari dalam mobil setelah Rangga memarkirkan mobilnya di depan pintu utama. Rasa rindunya pada Alula membuatnya sampai melupakan jika Rangga belum keluar dari dalam mobil.
Rangga yang melihat kelakuan Vara hanya dapat geleng-geleng kepala. Bahkan Vara melupakan tas jinjingnya yang masih berada di dalam mobil.
Di dala rumah Vara sudah di sambut dengan tangisan Alula yang sangat kencang. Ibu Ana dan Mama Mita nampak bersusah payah menenangkan bayi yang belum genap berusia satu bulan itu.
__ADS_1
"Akhirnya kamu datang juga, Ra." ibu Ana menghela nafas lega ketika putrinya sudah sampai di rumah.
"Maaf sudah merepotkan, Bu, Ma. Vara bawa Alula ke kamar dulu." ucapnya sembari mengambil alih Alula dari tangan Mama Mita. Bayi Alula yang tahu jika tangan Bundanya sudah menggendongnya pun tiba-tiba saja berhenti menangis.
"Rangga kemana, Ra? Kenapa kamu hanya sendiri?" tanya Mama Mita ketika tidak melihat anaknya.
Vara yang berniat melangkahkan kaki ke arah lift langsung menghentikan langkahnya. Ia baru tersadar jika sudah meninggalkan Rangga di dalam mobil sebelum suaminya itu keluar dari sana. Belum sempat Vara menjawab pertanyaan Mama Mita, Rangga langsung mengambil alih jawaban Vara.
"Urusan anak memang tidak ada duanya, Ngga. Mama juga dulu sama seperti Vara. Sampai Papa kamu cemburu karena Mama selalu menomorsatukan kamu." Mita terkekeh. Pandangannya beralih kembali kepada Vara. "Ya sudah, berikanlah ASI pada Lula, Ra. Sebelum dia rewel lagi."
__ADS_1
Vara memgangguk mengiyakan. Melangkahkan kakinya ke arah lift menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
Setelah kepergian Vara, perhatian Mita beralih kepada Rangga. "Bagaimana keadaan Audi, Ngga? Setelah apa yang dia lakukan kepada Vara dan anak kamu. Apa kamu hanya diam saja menanggapinya?" cetus Mita.
Wajah Rangga yang semula hangat tiba-tiba dingin ketika mendengar nama wanita yang tidak ingin lagi didengarnya. "Wanita itu tidak akan berani lagi mengganggu Vara dan anak-anak, Ma. Jika dia kembali merencanakan niat jahatnya. Rangga pastikan dia lebih baik memilih kematian dibandingkan hidup dengan dengan hujatan orang-orang kepadanya. Mama pasti tau wanita licik itu seperti apa!" ucap Rangga tajam.
Ingatannya kembali pada kejadian satu minggu lalu ketika Rangga mendatangi rumah Ilham dan Sally menjelaskan apa yang sudah Audi perbuat kepada istrinya. Niat Rangga yang ingin menghukum Audi dengan tangannya sendiri harus ia urungkan ketika mengingat kembali perkataan Vara. "Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan, Mas. Jika kamu menghukum Audi atas perbuatannya saat ini, bisa saja Audi merasa lebih dendam padaku dan akan berbuat hal yang jauh lebih berbahaya daripada kemarin. Bahkan melibatkan anak-anak." Akhirnya Rangga hanya bisa memberikan sedikit ancaman kepada Ilham, jika Audi masih berusaha merusak rumahtangganya, Rangga tidak akan segan-segan membongkar aib Audi dimuka publik. Aib yang selama ini ditutupi rapat-rapat oleh Papa Ilham dan Mama Sally.
***
__ADS_1
Happy reading!
Cerita Vara dan Rangga akan segera berakhir.. Jika Author mau membuat cerita baru lagi, kalian lebih memilih lanjutan kisah cinta Yura atau Aidan? Jangan lupa tulis di kolom komentar, ya! :)