
"Kita harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan anak anda, Tuan. Kondisi Nona Zia sangat lemah. Nona Zia sudah tidak sanggup menahan rasa sakitnya yang menyebabkan Nona Zia tidak sadarkan diri."
Fero menggeser posisi dokter yang sedang memeriksa keadaan Zia. Wajahnya terlihat sangat frustasi dengan keadaan yang kini menimpa. Fero ingat dengan keinginan besar Zia untuk bisa melahirkan anaknya secara normal. Tetapi saat ini jalannya begitu buntu. Anaknya harus segera keluar dalam kondisi Zia yang tidak sadarkan diri.
"Lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya." ucap Fero begitu pasrah. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Zia dan buah hati mereka.
"Baik, Tuan. Saya pamit untuk menyiapkan segala keperluan operasi." dokter pun berlalu pergi diikuti dua orang perawat.
__ADS_1
***
Wajah pucat Zia kini menjadi pusat perhatian Fero. Mata Zia yang tertutup rapat sedikit meninggalkan jejak air mata kesakitan di sudut matanya. Selama menunggu persiapan operasi, Fero dengan setia menunggu Zia di dalam ruangan persalinan. Mama Hera yang sangat takut mendengar keadaan putrinya akhirnya menangis histeris. Dengan terpaksa Papa Ardi membawa Mama Hera pergi menjauh dari ruangan Zia supaya tidak menimbulkan keributan dan bermaksud menenangkan istrinya.
Usapan lembut terus fero berikan di perut Zia. Matanya tak berpaling sedikitpun dari mata Zia yang tengah tertutup. Fero menghela nafasnya yang terasa semakin memberat. "Jangan membuatku khawatir seperti ini, Zia. Aku mohon, bangunlah. Apa kamu tidak ingin melahirkan anak kita secara normal? Apa ini cara kamu menunjukkan jika kamu tidak sanggup melahirkankan secara normal? Aku tidak mempermasalahkan cara apa yang akan kamu lakukan untuk mengeluarkankannya dari sini," mengusap perut Zia. "Yang terpenting saat ini, bangunlah, Zia. Jangan membuatku tak berdaya seperti ini." pintanya menggenggam erat tangan Zia.
Entah perasaan apa yang kini menjalar di tubuhnya. Sejenak Fero memejamkan kedua kelopak matanya untuk menghayati perasaannnya yang begitu aneh. Ternyata Fero baru menyadari. Jika dirinya sudah jatuh cinta kepada istrinya sendiri. Istri yang sudah lama memendam perasaan tak terbalas darinya. Istri yang selama ini selalu ia acuhkan. Istri yang selama ini memendam rasa kesakitan akibat perilaku dinginnya.
__ADS_1
Fero begitu menyesali perbuatannya selama ini. Bahkan, dengan sikapnya yang begitu kejam setelah menodai Zia dan menyuruh wanita itu pergi dari hidupnya. Zia masih bersedia mengandung anaknya untuk tinggal sementara di dalam rahimnya.
"Maafkan aku, Zia. Maafkan aku. Aku memang begitu bodoh tidak menyadari ada hati yang begitu terluka karena sikapku. Bangunlah, sayang. Bagunlah permata hatiku." air mata Fero semakin deras membasahi pipinya. Menelungkupkan wajahnya di tangan Zia yang tertancap selang infus. Tangisan Fero begitu lirih. Bahkan Asisten Zayn yang melihat dari luar ruangan keadaan Tuannya tidak dapat berbuat apa-apa selain mendoakan keselamatan istri dan calon anak Fero.
"Bagunlah, Zia. A-aku mencintaimu." akhirnya ungkapan cinta yang selama ini ditunggu Zia keluar dari mulut pria yang dicintainya.
Fero yang merasakan adanya pergerakan dari jemari Zia yang kini digenggamnya seketika mengangkat wajahnya. Matanya membulat penuh ketika melihat mata sayu yang tertutup rapat itu akhirnya terbuka kembali. "Zi-zia?"
__ADS_1