
Akhirnya Rangga tetap pergi tanpa membawa kedua anaknya dan Vara. Ia tidak mungkin membawa mereka di saat sedang ada masalah, Rangga berusaha mencari cara dan rayuan agar Yura mau menerima untuk tinggal bersama Mamanya sementara ia pergi. Akhirnya Yura dapat mengerti dan menerima jika harus ditinggalkan lagi oleh Ayahnya.
Sudah lebih seminggu Rangga berada di luar kota, selama itu pula Rangga sangat jarang menghubungi Vara yang membuat wanita itu merasa khawatir dengan keadaan suaminya di sana. Vara memutuskan membawa kedua anaknya pulang ke rumah. Hatinya tidak kuat lagi menahan gejolak rindu yang kian bertambah setiap harinya. Vara ingin menumpahkan rasa rindunya dengan menangis di kamarnya. Ia tidak mungkin menangis di rumah mertuanya, pasti itu dapat membuat Mama Mita khawatir.
Sesampainya di rumah, Vara mengantarkan Aidan dan Yura ke kamar mereka terlebih dahulu dan menunggu mereka tertidur, setelah dirasa Aidan dan Yura sudah terlelap dengan nyenyak. Vara beranjak ke dalam kamarnya, menuju walk in closet mengambil baju yang sering Rangga kenakan dan membawanya ke atas tempat tidur.
"Kenapa kamu tidak ada mengabariku lagi, Mas? Apa kamu tidak tahu jika aku sangat mengkhawatirkan kamu," Vara terisak. Mendekap erat baju Rangga seolah-olah baju itu adalah Rangga yang sedang berada dalam dekapannya.
Cukup lama Vara menangis hingga membuat matanya membengkak. Vara tak menghiraukannya, rasa rindunya pada Rangga sudah memuncak dan ingin disembuhkan dengan hadirnya Rangga saat ini. Karena sudah terlalu lelah menangis, Vara pun tertidur dengan posisi masih memeluk baju Rangga.
Seorang pria nampak berjalan pelan ke arah wanita yang sedang tertidur memeluk erat baju miliknya. Hatinya berkecamuk melihat pemandangan di depannya. Akibat terlalu sibuk mengurus masalah proyek hingga ia melupakan untuk memberi kabar kepada Vara. Pergi pagi dan pulang dini hari di lewati Rangga supaya ia cepat kembali ke rumah, tetapi itu justru membuat dirinya lupa menghubungi Vara karena terlalu lelah hingga tertidur sesampainya di hotel.
Vara yang merasa tidurnya terganggu karena seseorang mencium seluruh wajahnya langsung membuka mata, dilihatnya sosok yang sangat ia rindukan sudah sangat dekat bahkan berada di hadapannya. Mengucek kedua matanya untuk memastikan jika pria yang dilihatnya benar-benar Rangga, suaminya.
"Mas," lirih Vara yang langsung memeluk Rangg erat.
"Hei, kenapa menangis?" Rangga menjarakkan tubuhnya dari dekapan Vara untuk bisa melihat wajah yang sudah hampir dua minggu ia rindukan.
"Kenapa lama sekali pulangnya, Mas? Dan kamu juga tidak ada lagi mengabari aku dan anak-anak. Aku sungguh khawatir dengan keadaan kamu," ungkap Vara mengeluarkan isi hatinya.
"Maaf, akibat terlalu sibuk jadi sampai melupakan untuk mengabari kamu dan anak-anak."
__ADS_1
Vara mengamati wajah lelah suaminya, "Apa pekerjaan kamu sudah selesai, Mas? Sepertinya kamu sangat bekerja keras di sana?" menangkup kedua pipi Rangga. Mengamati lingkar hitam di mata Rangga yang terlihat jelas.
Jarak wajah Vara dan dirinya yang terlalu dekat, hingga hembusan nafas hangat Vara bisa terasa di wajahnya membuat Rangga dengan tidak sabar memberikan ciuman singkat di bibir Vara.
Vara membulatkan kedua matanya karena mendapatkan ciuman secara tiba-tiba. Melihat kabut gairah yang mulai membara dari mata Rangga membuat Vara bergidik, "Sepertinya kamu harus istirahat, Mas. Mandilah terlebih dahulu. Aku akan menyiapkan air hangat untuk kamu," menyibakkan selimut yang menutupi setengah tubuhnya dan hendak turun dari tempat tidur.
Rangga dengan cepat menahan pergerakan Vara, "Aku memang butuh istirahat, tapi setelah menyelesaikan satu pekerjaan terlebih dahulu," ucapnya datar.
"Pekerjaan apa lagi, Mas? Sebaiknya kamu istirahat saja, pekerjaan bisa kamu lanjutkan besok hari," saran Vara yang tidak tega melihat keadaan suaminya.
"Pekerjaan melepas rindu," bisik Rangga dan dengan cepat menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Vara kemudian menanggalkan pakaiannya sendiri.
Hawa panas terasa memenuhi kamar ketika Rangga dengan tidak sabar menyalurkan kerinduannya kepada Vara. Tubuh Vara serasa remuk kembali ketika Rangga melakukan dengan gerakan yang lebih cepat dan tidak membiarkan Vara menolak setiap sentuhan darinya.
***
Dua bulan pun berlalu, Rangga kembali disibukkan dengan urusan pekerjaan di kantor yang menumpuk. Kerja sama antara perusahaan miliknya dan Fero berjalan dengan lancar sehingga menghasilkan keuntungan yang besar diluar perkiraan kedua perusahaan besar itu.
Rangga menyandarkan tubuhnya di sofa ruangan kerjanya. Sudah satu bulan belakangan ini Rangga mulai menjaga jarak dengan Vara. Setelah mendapatkan kiriman gambar kebersamaan Vara dan Fero yang terlihat dekat di cafe Ibu Ana membuat Rangga sangat murka.
Penjelasan Vara bahkan tidak diterima olehnya, ia bahkan dengan bodohnya tidak memerintahkan Jo seperti biasanya untuk melacak nomor yang mengirimkan gambar kepadanya. Rasa cemburu mengalahkan akal sehatnya, setiap hari Rangga pergi pagi dan pulang dini hari di saat Aidan dan Yura sudah tertidur. Vara tetap dengan setia menunggu kepulangan Rangga untuk menyelesaikan kesalahpahamannya dengan Rangga. Hasil yang diterimanya tetap sama, Rangga bahkan tidak sedikit pun menghiraukan jika Vara mengajaknya berbicara dan lebih memilih untuk tidur di kamar tamu.
__ADS_1
Pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Rangga dengan cepat menegakkan tubuhnya. Dilihatnya Audi masuk seperti biasa tanpa permisi dengan kotak makanan di sebelah tangannya, "Ada apa? Apa lo udah gak punya sopan santun masuk keruangan orang tanpa mengetuk pintu?" ucap Rangga keras merasa jenuh melihat sikap Audi yang selalu saja seenaknya. Jika tidak menghargai Tante Sally yang merupakan teman Mamanya, mungkin sudah sejak lama Rangga memerintahkan karyawan kantornya melarang Audi masuk ke wilayah perusahaannya.
"Kamu sepertinya sedang banyak masalah Rangga," ucap Audi dengan nada manja. Mendudukkan tubuhnya di samping Rangga dan menyandarkan kepalanya di lengan Rangga yang berotot.
"Jaga sikap lo! Jangan buat gue memunculkan sikap lain gue yang tidak pernah lo ketahui!" hardik Rangga melepas kasar tangan Audi yang melingkar di lengannya.
"Kamu kenapa selalu saja menolakku Rangga! Apa karena perempuan kampung itu, huh?! Kamu pikir aku tidak tahu jika kamu hanya terpaksa menikahinya?!"
"Lo jangan ikut campur urusan gue! Apa pun yang gue lakukan tidak ada urusannya dengan lo!"
Audi melirik pintu yang sedikit terbuka dan menampakkan wajah Vara di sana yang akan berjalan ke arah pintu. Dengan cepat Audi memeluk tubuh Rangga erat dan menjatuhkan tubuhnya di sofa setelah menarik tubuh Rangga sehingga seperti sedang menindihnya.
Vara menutup mulut dengan satu tangannya ketika melihat pemandangan di depannya. Niatnya yang ingin mengantarkan makan siang untuk Rangga dan memperbaiki hubungan mereka justru membuat dirinya bertambah hancur. Air matanya menetes begitu saja melihat adegan yang cukup lama tanpa Rangga berniat menjauhkan tubuh Audi darinya.
Vara berbalik menuju meja sekretaris Rangga, menitipkan makan siang Rangga kemudian berlalu dari sana dengan aliran air mata yang membasahi pipinya.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5. Beri dukungan supaya author semangat untuk menulisnya.