Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Terjadi kembali


__ADS_3

"Vara!!" teriak Nadia ketika tubuh lemah itu tumbang untuk kedua kalinya. Nadia mencoba menepuk pelan pipi Vara untuk menyadarkannya. Raut wajah panik tidak dapat disembunyikannya, mengangkat wajahnya melihat sosok yang menjadi penyebab pingsannya Vara.


"Puas lo huh?! Gak ada puas-puasnya lo menyakiti bahkan memfitnah Vara selama ini!!" bentak Nadia. Sorot mata merah tajam itu ia hunuskan kepada sang pembuat masalah.


Kembali mengalihkan pandangannya kepada Vara yang kini kepalanya sudah berada di pangkuan dirinya, "Ra bangun Ra!! Jangan membuat aku khawatir seperti ini," Nadia mulai berkaca-kaca. Rasa khawatirnya makin bertambah ketika Vara tak kunjung membuka kedua matanya.


"Mungkin teman lo itu sudah mati," ucap Audi. Melipatkan kedua tangannya di dada. Rasa bersalah tak sedikit pun terlintas di pikirannya. Hanya rasa bahagia atas keberhasilannya yang mendominasi.


"Bu-bunda ke-kenapa Tante?" tanya Yura terisak ketika sudah kembali berada di dekat Vara dan Nadia setelah melihat Bundanya pingsan tiba-tiba.


Nadia menggeleng, "Tante tidak tahu, Aidan tolong ambilkan ponsel Tante di dalam mobil!" perintah Nadia cepat untuk menghubungi Riri yang sedang berada di dalam perjalanan menuju rumah Vara setelah mengambil mobilnya di apartemen Adit. Ia tidak mungkin memapah Vara sendirian ke dalam mobil dalam keadaan pingsan.


"Vara kenapa lagi ini Nad?!" tanya Fero yang tiba-tiba saja sudah berada di dekat mereka. Tanpa pikir panjang Fero langsung mengangkat tubuh Vara untuk yang kedua kalinya ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di belakang mobil Nadia.


"Kita bawa Vara ke rumah Ibunya saja! Gue akan memanggil dokter ke rumah Ibu nanti," ucap Fero ketika Vara sudah berada di dalam mobilnya kepada Nadia.


Nadia mengangguk mengiyakan, Yura tak hentinya menangis melihat keadaan bundanya. Aidan berusaha untuk menguatkan adiknya meski ia sendiri juga terlihat panik atas apa yang terjadi pada Bundanya.


Di dalam perjalan menuju rumah Ibu Ana. Fero tak hentinya mengumpat ketika mobil lain mencoba menghalangi jalannya. Rasa panik dan khawatir menjadi satu. Melihat Vara yang pingsan untuk kedua kalinya membuat Fero begitu takut akan terjadi apa-apa kepada anak yang ada di dalam kandungan Vara. Walau pun bukan anak dari darah dagingnya, tetapi tetap saja hal yang berhubungan dengan Vara membuat Fero khawatir.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan 45 menit, akhirnya mobil yang dikendarai Fero berhenti di halaman yang tidak terlalu luas diikuti mobil Nadia dan Riri. Ibu Ana nampak menunggu di depan rumah ditemani Bibi Kia. Raut wajah panik pun tidak dapat disembunyikannya ketika mendapatkan kabar dari Fero. Bahkan Ibu Ana dengan cepat mengendarai motornya bersama Bibi Kia menuju rumah. Untung saja ketika ia sampai tidak lama setelahnya Fero pun sampai.


"Ayo cepat bawa Vara masuk ke dalam!" perintah Ibu Ana. Menuntun Fero membawa Vara masuk ke dalam kamarnya.


Fero dengan hati-hati menurunkan Vara. Memandang wajah yang terlihat pucat kembali itu nanar. Rasa cintanya kepada Vara seperti tidak hilang di makan waktu. Mesti tau saat ini Vara sudah menikah, tetap saja hatinya tidak bisa dipaksa secepat itu untuk menghapuskan nama Vara di sana.


"Bunda bangun... Huuuaa... Bunda kenapa tidul saja dali tadi... Hiks... Hiks..." Yura berontak di dalam gendongan Neneknya meminta diturunkan. Sepanjang perjalanan di dalam mobil Nadia, Yura tak hentinya menangis. Gadis kecil itu terlihat sangat khawatir dengan kondisi Bundanya yang tidak biasanya seperti itu.


Perlahan Vara mulai membuka matanya. Memperhatikan sekitar, ia dapat mengenali ruangan yang sedang ia tempati adalah kamarnya. Air mata mengalir begitu saja di pipi mulusnya, tiba-tiba saja ia mengingat kembali ucapan Audi dan perlakuan Rangga kepadanya. Ia tidak menyangka kebahagiaannya bersama Rangga hanya dengan waktu sesingkat itu.


"Kamu sudah bangun Nak? Mana yang sakit, katakan kepada Ibu! Jangan membuat ibu bertambah khawatir melihat kamu menangis seperti ini," Ibu mulai menangis. Mengelus lembut rambut Vara.


Vara menatap lekat wanita yang telah melahirkannya, "Hati Vara yang sakit, Bu. Sakit sekali..." Vara terisak, "Kenapa Mas Rangga tidak bisa mempercayai Vara sedikit saja, Bu? Vara bahkan belum sempat menjelaskan apa-apa kepadanya. Bahkan dia belum mengetahui bahwa adanya nyawa baru yang akan tumbuh di sini," ucap Vara mengelus perutnya yang masih rata.


Vara mengangguk meneteskan air matanya, "Benar, Bu. Hiks... Kenapa Mas Rangga begitu tega kepada Vara, Bu... Apa sesakit ini rasanya mencintai tanpa balasan... Apa Vara harus selalu berada di pihak yang tidak pantas bahagia... Vara sangat mencintai Mas Rangga, Bu. Sungguh mencintainya... Vara tidak mau Mas Rangga menceraikan Vara... Hiks..."


Fero tersentak mendengarkan ucapan Vara yang mengatakan jika sangat mencintai Rangga. Walau terlihat jelas perasaan Vara kepada Rangga dari tatapan matanya, tapi tetap saja. Hati Fero terasa sakit ketika mendengarnya. Apa Vara tidak sadar akan kehadirannya di sana? Vara bahkan tidak berniat menjaga hatinya ketika mengucapkan kalimat menyakitkan itu.


"Fero keluar dulu, Bu. Sepertinya dokter sudah datang untuk memeriksa Vara, " Fero melangkahkan kakinya yang terasa berat keluar dari dalam kamar Vara. Tangannya mengepal erat dengan wajah yang merah padam.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Vara?" tanya Nadia dan Riri bersamaan.


"Dia sudah sadar," jawab Fero singkat. Mengalihkan pandangan ke arah dokter yang baru saja tiba, "Cepat periksa Vara di dalam. Pastikan kondisinya baik-baik saja setelah ini!" perintah Fero tegas.


Dokter cantik itu hanya mengangguk saja, kemudian berlalu memasuki kamar wanita yang baru saja menjadi pasiennya di rumah sakit.


Fero, Nadia dan Riri menunggu dengan cemas hasil pemeriksaan Vara. Aidan dan Yura bahkan tak berhenti menanyakan keadaan Bunda mereka. Setelah setengah jam pemeriksaan, akhirnya dokter yang bernama Eva itu keluar. Memasang wajah tersenyum sebaik mungkin supaya mencairkan raut wajah-wajah tegang di hadapannya.


"Nona Vara hanya sedikit syok sehingga daya tahan tubuhnya melemah kembali. Saya harap kalian bisa menjaga Nona dengan baik. Karena pada awal masa kehamilan ibu hamil rentan terjadinya keguguran. Jaga pola makan dan pikirannya. Nona tidak bisa berpikir terlalu banyak, karena itu bisa mempengaruhi keadaan kandungannya. Saya sudah memberikan obat penguat kandungan dan vitamin yang harus diminum Nona kepada Ibu Nona," jelas dokter Eva yang membuat orang-orang yang mendengarnya merasa lega.


"Terimakasih! Sekarang kamu boleh kembali ke rumah sakit," ucap Fero yang langsung diangguki dokter Eva.


.


.


.


Maaf ya aku gak bisa membuat cerita seperti yang kalian mau. Karena sudah alurnya begini. Buat yang masih bertahan membaca karyaku yang masih berantakan ini aku ucapkan terimakasih. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, komen, vote dan rate bintang 5. Dukungan kalian sangat berarti bagi kinerja jari author😉 Sambil menunggu Vara dan Rangga update, mari mampir ke karya baru aku yang berjudul :

__ADS_1


— Menikahi Pria Kaku —


Terimakasih ^_^


__ADS_2