Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Meninggalkan rumah


__ADS_3

"Mas... Foto-foto ini sungguh tidak seperti yang kamu bayangkan," ucap Vara dengan suara bergetar.


Rangga berjalan dengan cepat ke arah Vara yang sedang memandangnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tapi ia tidak menghiraukannya, "Buat apa lo balik lagi ke rumah ini, huh?! Kenapa tidak pulang saja ke rumah selingkuhan lo itu!!" mencengkram lengan Vara kuat. Emosi mengalahkan akal sehat Rangga, ia bahkan membatalkan beberapa rapat penting karena mendapatkan kiriman gambar Vara yang sedang bermesraan dengan Fero. Bahkan Rangga memerintahkan Jo untuk mencetaknya sebagai bukti jika Vara berusaha menyangkal tuduhannya.


"Agh, sakit... Lepaskan Mas... Ini sungguh sakit... Kamu menyakitiku, Mas," ringis Vara mencoba melepaskan cengkraman tangan Rangga di lengannya.


"Gue tanya buat apa lagi lo kembali ke sini?! Bukannya Fero sudah cukup memuaskan lo dengan hartanya?! Ternyata Audi benar, jika lo memang wanita murahan seperti yang gue pikirkan dulu!" bentak Rangga dengan kasar melepaskan tangannya di lengan Vara.


"Ka-kamu mengusirku dari sini, Mas?" Vara menggeleng, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika bentakan dan kata kasar itu keluar dari mulut pria yang sangat dicintainya itu. Air mata mengalir deras seperti sedang menggambarkan betapa hati Vara sangat terluka.


"Buat apa lagi lo ada di sini, huh?! Gue bahkan tidak ingin lagi melihat wajah sok polos lo itu!!" ucap Rangga keras. Aura dingin yang bercampur dengan kilatan amarah Rangga membuat tubuh Vara bergetar.


"Kamu sungguh salah paham. Dengarkan penjelasan aku dulu, Mas... Kejadiannya tidak seperti di foto itu, kamu harus percaya kepadaku, Mas... Bukannya kamu sendiri yang mengajarkan aku untuk selalu mempercayai pasangan begitu pun sebaliknya," Vara menghiba-hiba memegang lengan Rangga agar Rangga mau mendengarkan penjelasannya untuk menyelesaikan kesalahpahaman diantara mereka.


Rangga dengan cepat menepis tangan Vara di lengannya, "Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi!! Semuanya sudah cukup jelas!! Sekarang gue minta lo pergi dari sini!!" perintah Rangga, nafasanya naik turun menahan emosi yang ingin segera ia luapkan.


Vara menatap tidak percaya atas apa yang baru saja didengarnya, "Baiklah, Mas. Aku akan pergi dari sini sesuai dengan keinginan kamu. Aku tidak akan menjadi pengganggu di dalam hidup kamu lagi. Berbahagialah bersama Audi, Mas," Vara berbalik, melangkahkan kakinya ke arah kamar kedua anaknya.


"Jangan harap lo bisa membawa anak-anak gue dengan selingkuhan lo itu!!" Rangga dengan cepat mencekal lengan Vara yang akan menuju ke kamar anak-anaknya.


"Kamu tidak berhak melarangku membawa Aidan dan Yura!! Mereka adalah anak-anakku!! Aku yang sudah mengandung dan membesarkan mereka tanpa bantuan dari kamu!! Kamu tidak ada hak sama sekali atas mereka!!" jawab Vara setelah melepaskan cengkraman tangan Rangga.

__ADS_1


"Bunda... Ayah..." teriak Aidan dan Yura bersamaan ketika melihat pertengkaran Ayah dan Bunda mereka. Suara keributan yang ditimbulkan oleh Rangga dan Vara mengusik kedua bocah itu yang sedang asik bermain di kamar mereka.


"Aidan... Yura..," lirih Vara berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya.


Aidan dan Yura langsung berhambur ke dalam pelukan Bunda mereka. Air mata Vara masih terasa membasahi pipinya, rasa sakit yang belum sembuh harus kembali tergores akibat ucapan dan bentakan Rangga yang diterimanya.


"Ayo kita pergi dari sini, tempat kita bukan di sini," ucap Vara mencium kening kedua anaknya bergantian.


"Kita mau kemana Bunda? Yula nda mahu pelgi dali sini... Yula mau sama Ayah...," jawab Yura yang sudah ikut menangis melihat Bundanya menangis.


"Vara!! Ada apa ini?!" tanya Nadia yang tiba-tiba saja sudah berada di lantai dua rumah Rangga.


"Nadia? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Vara yang masih berlinang air mata.


"Ayo, Ra! Kita pergi dari sini! Seharusnya dari awal gue gak menyetujui lo buat nikah sama laki-laki tidak tahu diri seperti dia!!" sinis Nadia.


"Aidan, Yura. Bunda mohon, ikuti kata Bunda kali ini, ayo kita pergi dari sini," pinta Vara kepada kedua anaknya. Ia merasa menyesal harus memperlihatkan pertengkarannya bersama Rangga di depan kedua anaknya yang masih kecil.


Aidan dan Yura mengangguk bersamaan ketika melihat raut wajah Bunda mereka yang memelas, Yura melihat ke arah Rangga sejenak, "Ayah... Yula dan Kakak pelgi dulu... Ayah jangan lupa jemput Yula dan Kakak lagi yaa," pintanya ke arah Rangga.


Rangga yang tidak ingin menambah ketakutan anak-anaknya dengan memperlihatkan kembali perdebatannya dengan Vara memilih mengalah ketika Vara mulai menuntun anak-anak mereka menuruni tangga satu per satu tanpa membawa satu helai pakaian pun dari rumahnya.

__ADS_1


"Gue pastikan lo akan menyesal dengan sikap lo kali ini, Rangga!! Gue gak akan membiarkan Vara kembali kepada orang seperti lo yang dengan mudahnya terhasut ucapan orang lain!! Gue akan membuat Vara dan Fero bersama seperti yang lo tuduhkan kepada Vara!!" ancam Nadia sebelum berbalik mengikuti Vara menuruni tangga.


"Kita mau kemana, Bunda?? Kenapa kita halus pelgi dali sini, Yula mau sama Ayah...," rengek Yura yang tidak terima meninggalkan Ayahnya.


"Aidan, bawa adik kamu masuk ke dalam mobil Tante terlebih dahulu, Tante ingin bicara dengan Bunda kamu sebentar," ucap Nadia ke arah Aidan.


Aidan mengangguk mengiyakan. Anak itu sudah mengerti permasalahan yang sedang dialami kedua orang tuanya. Walau pun masih kecil, tetapi Aidan memiliki pemikiran selayaknya orang dewasa. Menuntun Yura yang masih menangis untuk masuk ke dalam mobil.


Nadia langsung memeluk Vara untuk menenangkan sahabatnya itu, "Tenanglah, Ra! Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, kamu wanita kuat yang pernah aku temui," ucap Nadia memberikan semangat kepada sahabatnya yang belum berniat menghentikan tangisannya.


Vara mengangguk, "Terimakasih, Nad. Harusnya aku sadar, jika tempatku dan anak-anak dari awal bukan di sini. Aku terlalu percaya diri untuk mendapatkan kebahagiaan dari Mas Rangga bahkan cintanya," Vara menangis tersedu-sedu yang membuat seseorang di belakang Nadia tersenyum puas seraya bertepuk tangan.


"Hahaha, harusnya memang dari awal lo sadar jika tempat lo bukan di sini wanita kampungan!! Lihat saja, Rangga bahkan tidak berniat menghentikan langkah lo keluar dari rumahnya. Selamat menunggu menjadi janda dan undangan pernikahan gue dan Rangga yang akan lo terima sebentar lagi," provokasi Audi yang membuat Vara mematung dengan deru nafas yang semakin melemah.


.


.


.


*Happy reading!:)

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉


__ADS_2