
"Apa sering seperti ini?" tanya Ibu yang sedang memijit tengkuk Vara.
Vara mengangguk, kepalanya terasa sakit ketika rasa mual itu datang. Ibu memapah Vara keluar dari kamar mandi menuju sofa. Vara menurut saja. Kepalanya yang pusing dan baru saja muntah membuatnya kesusahan untuk berjalan.
"Sudah berapa lama kamu mengalami seperti tadi, Ra?" tanya Fero. Raut wajah khawatir tak surut dari wajah tampannya ketika melihat sang pujaan hati lemah tak berdaya seperti itu.
"Entahlah, aku tidak tahu pasti. Sepertinya sudah hampir 1 bulan terakhir aku sering merasakan mual di pagi hari bahkan tengah malam. Aku kira hanya mual biasa karena masuk angin," jelas Vara.
Nadia datang dari arah dapur membawa segelas teh yang baru saja ia buat, "Minumlah, Ra!" perintah Nadia. Menyodorkan teh hangat ke arah bibir Vara. Vara yang merespon ucapannya dengan mengangguk membuat Nadia langsung membantu Vara untuk meminum tehnya.
"Bunda kenapa?" tanya Yura. Mata gadis kecil itu sudah tergenang air mata yang siap ditumpahkan.
Segelas teh sudah diteguk habis oleh Vara. Kepalanya masih terasa sakit, untung saja mualnya sudah sedikit berkurang. Menepuk sofa yang kosong di sebelahnya. Mengisyaratkan Yura untuk duduk di sampingnya, "Bunda tidak apa-apa. Apa anak Bunda sudah makan?" tanya Vara. Ia ingat jika jam makan siang Aidan dan Yura terganggu oleh pertengkaran ia dan Rangga.
Yura mengangguk, mengangkat wajahnya melihat wajah Bundanya yang masih terlihat sedikit pucat, "Yula dan Kakak sudah makan belsama Tante Lili. Tante Lili sunggu celewet sekali nyuluh-nyuluh Yula makan," Adu Yura. Mencebikkan bibirnya ke arah Riri.
Riri terkekeh, jika tidak mengingat anak sahabatnya. Mungkin saja Riri sudah menggigit gadis kecil itu gemas, "Iya Tante Lili memang celewet," goda Riri.
"Tante Lili bukan Tante Lili," protes Yura. Lidahnya yang tidak mampu menyebutkan maksud ucapannya hanya bisa memprotes. Walau pun hasilnya sama saja, tetap salah.
__ADS_1
"Iya, iya. Tante Lili," jawab Riri terkekeh geli. Nadia dan Fero tidak bisa menahan tawanya. Mereka bersamaan melepas tawa. Seperti menular, Ibu dan Vara ikut tertawa mendengarnya.
Aidan tidak ikut menimpali tawa orang dewasa yang ada di hadapannya. Masih setia duduk di sofa single sambil menggelengkan kepalanya. Yura nampak merengut, ucapannya selalu saja dijadikan bahan tawaan bagi teman-teman Bundanya.
"Perutku sampai sakit. Anak siapa sih ini?" ucap Nadia. Posisinya yang lebih dekat dengan Yura membuat ia langsung saja membawa gadis kecil itu kedalam gendongannya. Mencium gemas pipi bulat Yura bertubi-tibu yang membuat Yura kegelian.
"Tulunkan Yula..." teriak Yura.
Nadia dengan cepat menurunkan Yura. Suara teriakan Yura cukup membuat telinganya sakit mendengarnya. Ibu nampak tersenyum melihat interaksi teman-teman Vara. Ibu sungguh bersyukur Vara masih memiliki sahabat-sahabat yang tidak pernah meninggalkannya dan selalu saja ada di saat susah dan senang anaknya.
"Apa kamu kuat untuk berangkat ke apartemen Fero?" Nadia nampak tak yakin melihat kondisi Vara.
Vara menganggukkan kepala sebagai jawaban, "Aku masih sanggup, Nad. Tapi untuk malam ini, apakah boleh jika ibu menginap di apartemen Fero? Aku membutuhkan Ibu saat ini," lirih Vara.
"Bibi Kia kemana, Bu? Kenapa Vara tidak melihatnya dari tadi?" tanya Vara heran.
"Bibi Kia kembali lagi ke cafe setelah mengantarkan Ibu. Pesanan di cafe cukup banyak untuk nanti malam," jelas Ibu.
"Lalu bagaimana cafe jika Ibu ikut bersama Vara ke apartemen?" tanya Vara tidak enak. Setelah hampir setahun membantu Ibunya mengurus cafe. Vara cukup mengerti kesibukan di cafe jika sedang banyaknya orderan.
__ADS_1
"Ada paman kamu yang membantu. Kamu tenang saja, dan jangan banyak pikiran. Ayo sebaiknya kita berangkat sekarang nak Fero," ajak Ibu.
Awan hitam mulai menutupi langit. Sepertinya akan turun hujan sebentar lagi. Gemuruh saling bersahutan membuat Ibu, Riri dan Nadia dengan cepat memasukkan barang- barang Vara ke dalam mobil Fero. Aidan dan Yura sudah duduk di kursi belakang. Untung saja Yura tidak memainkan drama sebelum masuk ke dalam mobil, walau pun Vara yang harus menuntunnya untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
Fero membukakan pintu untuk Vara duduk di samping kemudi. Tubuh Vara sudah mengenakan jaket tebal yang dipasangkan oleh Ibu ketika melihat cuaca yang sepertinya akan turun hujan. Memasukkan tubuhnya ke dalam mobil, Vara duduk di samping kemudi. Ibu ikut masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Yura dan Aidan.
Fero melihat ke arah Nadia dan Riri yang masih berdiri di depan rumah Vara, "Gue berangkat dulu. Kalian bisa mengikuti gue dari belakang. Jika ada yang ingin kalian urus terlebih dulu, biar Vara gue saja yang mengurusnya."
"Kita akan ikut, tidak ada yang lebih penting dibandingkan Vara saat ini," timpal Nadia.
Fero mengangguk, memutari mobil dan masuk ke dalam mobil di belakang kemudi. Setelah mobil Fero mulai berjalan, mobil Nadia pun mulai mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana bisa Rangga berpikiran dangkal seperti itu! Dia yang terkenal cerdas di sekolah dulu ternyata begitu bodoh menanggapi sesuatu," geram Riri. Setelah mendapatkan jawaban apa yang terjadi di rumah Rangga hingga menyebabkan Vara pingsan, emosi Riri langsung tidak terkontrol.
"Cih, aku yakin dia akan menyesal setelah ini! Pria bodoh seperti dia memang harus diberi pelajaran," ketus Nadia. Hatinya masih saja terasa sakit mengingat perlakuan Rangga kepada Vara.
"Tetapi tidak dengan menghancurkan rumah tangga mereka!" lanjut Riri. Walau pun tidak menyukai sikap Rangga kepada Vara, tetapi tetap saja ia tidak mau Vara harus merawat anaknya seorang diri tanpa suami lagi.
"Kamu pikir aku sudah gila? Apa kamu tidak sadar jika Rangga sedang cemburu buta kepada Fero? Pria bodoh itu mungkin belum menyadari perasaannya kepada Vara. Tetapi aku akan tetap dengan senang hati melihat raut penyesalan dari Rangga. Dan tidak semudah itu dia bisa membawa Vara pulang ke rumahnya lagi!" ucap Nadia penuh keyakinan.
__ADS_1
"Apa kamu yakin jika Rangga akan menyesali perbuatannya kali ini? Jika Rangga bersikap biasa saja bagaimana? Bagaimana jika Rangga berniat menceraikan Vara?" panik Riri. Menggigit kukunya ketika membayangkan wajah Vara yang dibasahi air mata ketika surat perceraian sampai ke hadapannya.
"Aku sangat yakin, jika Rangga berniat menceraikan Vara biarkan saja! Lelaki seperti dia memang tidak pantas untuk Vara! Bisa-bisanya dia lebih memilih percaya kepada orang lain dibandingkan istrinya sendiri," geram Nadia. "Dan ... Apa kamu melupakan jika ada Fero yang selalu ada untuk Vara dan tidak pernah menyakiti Vara selama ini? Aku juga setuju jika Vara bersama Fero, dan Fero pasti mau menerima anak-anak Vara nantinya," ucap Nadia penuh keyakinan.