Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Harus bahagia


__ADS_3

Yura hanya diam saja selama dalam perjalanan. Biasanya gadis kecil itu selalu ceria dan banyak bercerita di dalam perjalanan kemana pun itu. Vara ikut membisu menikmati perjalanan menatap ke luar jendela. Ia tau jika putrinya itu pasti sangat sedih berjauhan dari ibunya yang sudah terbiasa memanjakan Yura setiap harinya.


Mobil memasuki gerbang tinggi bewarna hitam rumah orang tua Rangga. Di depan rumah, kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Mita dan Lala. Rangga keluar dari dalam mobil, membukakan pintu untuk Yura dan menggendongnya di susul Aidan. Yura menenggelamkan wajahnya di leher Rangga, ia tidak berniat berbicara sedikit pun untuk memperlihatkan kepada orang-orang jika ia sedang bersedih.


Lala berjalan ke arah Rangga untuk mengambil alih Yura dari gendongan Rangga. "Ponakan onty kenapa diam saja, hem? Apa Yura tidak senang tinggal di sini bersama onty, nenek dan kakek?" Yura tidak memberontak saat tubuh mungil miliknya diambil alih Lala. Ia melakukan hal yang sama di dalam gendongan Lala.


Aidan berdecak kesal melihat tingkah adiknya yang selalu suka mendapatkan perhatian dari orang lain. Ia sangat tau jika adiknya itu sedang mencari perhatian menunjukkan kesedihannya. Aidan menyalimi Mita dan Lala secara bergantian. Mita tersenyum senang melihat Aidan yang sangat sopan di balik sikap dinginnya yang sama persis seperti Rangga, anaknya.


Mita beralih memeluk Vara erat, ia sangat bersyukur Rangga mendapatkan istri seperti Vara yang lemah lembut dan sopan. Melihat sikap Aidan dan Yura selama ini kepada orang-orang, Mita dapat menilai jika Vara sudah berhasil mendidik anak-anaknya dengan baik, walaupun di usia Vara yang masih muda.


Rangga mengeluarkan koper dari dalam mobil, menyerahkan kunci kepada supir pribadi Bayu untuk dimasukkan ke dalam garasi. Rangga mendekati Vara dan Mita yang sedang terlibat percakapan.


Rangga memperhatikan sekitar mencari sosok papanya yang tidak terlihat. "Papa kemana, Ma?" tanya Rangga.


Mita mendekati Rangga, mencium kening Rangga sekilas. "Papa keluar sebentar ke rumah tetangga, Ngga. Ada urusan katanya tadi." Jawab Mita.


Vara yang melihat Rangga diperlakukan sangat manis oleh Mita hanya bisa menahan senyumnya. Ia tidak menyangka, jika Rangga yang terlihat dingin di luar, masih diperlakukan sangat manja oleh kedua orang tuanya.


"Ajak Vara ke kamar dulu, Ngga. Mama mau bermain bersama kedua cucu mama di kamar mereka." ucap Mita tersenyum.

__ADS_1


Rangga mengangguk menyetujui, "Ayo," ucap Rangga melirik ke arah Vara yang juga sedang menatapnya. Rangga berjalan mendahului Vara, menaiki anak tangga menuju kamarnya yang berada di lantai atas diikuti Vara.


Vara membulatkan matanya memperhatikan kamar Rangga berukuran jauh lebih besar dari kamarnya. Ia memperhatikan kamar Rangga yang begitu tertata rapi dengan aroma maskulin yang sangat disukai Vara. "Kemarikan kopernya, Ngga. Aku akan merapikan baju-bajuku di dalam lemari. Vara memperhatikan sekitar mencari di mana letak lemari.


Rangga mengarahkan Vara ke sebuah pintu yang terletak jauh dari pintu kamar. Vara mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Rangga. Vara berjalan ke arah pintu yang ditunjukkan oleh Rangga dan membukanya. Mencari lemari yang masih kosong dan merapikan baju-baju miliknya.


Vara keluar dari walk in closet, matanya tertuju pada Rangga yang sedang sibuk memainkan ponsel. Berjalan ke arah Rangga dan mendudukkan tubuhnya di samping Rangga.


Rangga mengalihkan pandangan ke arah Vara yang berada di sampingnya. "Apa sudah selesai?" tanya Rangga.


"Ya, aku baru saja selesai." Jawab Vara singkat.


"Aku akan istirahat di sini saja, Ngga," ucap Vara yang masih canggung jika tidur di ranjang Rangga. "Agh, iya. Ada yang ingin aku bicarakan kepada kamu, Ngga." lanjut Vara pelan.


"Bicaralah, apa yang ingin lo bahas?"


"Begini, apa boleh aku merubah panggilan aku kepada kamu? Aku tidak enak jika memanggil kamu seperti biasanya di depan ibu dan orang tua kamu." Vara menunduk, mencengkram erat ujung baju yang dikenakannya. Ia sangat takut jika Rangga tidak setuju dengan usulannya.


Rangga mengangkat dagu Vara, memperhatikan wajah polos dan cantik yang sudah menjadi istrinya. "Emang lo mau manggil gue apa, huh?" ucap Rangga pelan.

__ADS_1


Hembusan nafas Rangga yang begitu terasa hangat di wajahnya membuat Vara gugup dan wajahnya terasa panas. "Bagaimana jika mas Rangga saja?" ucap Vara cepat.


"Ya, terserah lo saja. Gue harap lo bisa nyaman tinggal di sini dan di rumah kita nanti. Jika lo butuh apa-apa lo bisa langsung bilang ke gue."


Vara mengangguk, "Apa aku masih bisa bekerja membantu ibu di cafe, Rang—eh mas?"


"Ya, boleh saja. Asal lo bisa membagi waktu lo dengan baik. Dan juga lo harus sudah berada di rumah sebelum gue pulang kerja."


"Baiklah, terimakasih mas." akhirnya Vara merasa lega karena Rangga masih mengijinkannya untuk bekerja di cafe. Setidaknya walaupun tidak satu rumah lagi tapi ia dan ibu masih bisa berjumpa setiap hari di cafe, pikir Vara.


"Apa lo bahagia menikah dengan gue?" pertanyaan yang tiba-tiba saja keluar dari mulut Rangga membuat Vara tersentak. Vara dapat melihat raut kesedihan dari wajah Rangga.


"Tentu saja, aku bahagia dan harus bahagia. Apa kamu tau apa yang membuat aku bahagia, mas?" tanya Vara menatap Rangga dalam. Rangga mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak tahu.


Vara tersenyum lembut, "Alasan terbesar aku bahagia adalah Aidan dan Yura. Aku sangat bahagia bisa memberikan mereka keluarga yang lengkap seperti yang mereka harapkan sejak dulu. Setelah bertemu kamu, aku dapat melihat raut kesedihan mulai hilang dari wajah mereka. Bagiku, tidak ada kebahagiaan yang lain, selain kebahagiaan untuk ibu dan anak-anak. Mereka lah yang selama ini menjadi semangat untuk aku bekerja dan menjalani hidup. Mungkin mereka dihadirkan untuk menghiasi hari-hariku yang dulu tidak bewarna semenjak kepergian ayah.


Aku selalu berusaha untuk menjadi ibu sekaligus ayah untuk anak-anak, aku kira perhatian lebih yang aku berikan itu sudah cukup untuk menggantikan posisi kamu di dalam hidup mereka. Ternyata aku salah, mereka tetap sama sepertiku yang sangat membutuhkan sosok ayah sebagai pelindung mereka. Walaupun Aidan tidak memperlihatkan rasa bahagianya seperti Yura ketika bertemu kamu sebagai ayah kandungnya. Tapi aku tau, di balik sikap dinginnya, ia sangat bahagia." Vara menghapus air mata yang mulai menetes di pipinya.


Rangga menatap lekat wajah Vara yang sudah memerah karena menangis. Ia tidak berniat menimpali ucapan Vara. Rasa bersalah kembali menyeruak ke dalam tubuhnya. Dadanya terasa sesak mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Vara. Suasana terasa hening sampai ketukan pintu mengalihkan pandangan mereka ke arah sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2