Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Rencana licik


__ADS_3

Sally masuk ke dalam kamar putrinya melihat Audi masih tertidur pulas di atas tempat tidur. Sally menyambar remot di atas nakas samping tempat tidur Audi dan membuka gordyn. Silau cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya menganggu Audi dalam tidurnya. Perlahan Audi membuka mata dan mendapati Mama Sally yang sedang menatapnya.


Audi berdecak, "Kenapa dibuka sih, Ma, gordynnya. Mengganggu tidur Audi saja," kesal Audi, menyibakkan selimut dan duduk di tepi ranjang seraya mengucek kedua matanya yang masih terasa berat. Audi tau, Mamanya pasti akan menceramahinya setelah ia bangun seperti yang sudah terjadi satu minggu belakangan ini.


Mama Sally mendudukkan tubuhnya di samping Audi, "Sampai kapan kamu seperti ini terus, nak? Meminum Alkohol setiap hari tidak baik untuk kesehatan kamu, Audi."


Audi memberengut, "Audi bukan anak kecil lagi, Ma. Audi bisa menjaga kesehatan tubuh Audi sendiri." kesal Audi, mengambil air mimum yang ada di atas nakas dan meneguknya habis. "Audi sudah bosan mendengarkan ceramah Mama setiap hari, Mama tidak akan pernah mengerti dan tidak mau mengerti perasaan Audi saat ini."


"Mama sangat mengerti perasaan kamu, Audi. Hanya saja, kamu harus mengikhlaskan Rangga. Rangga sudah memiliki istri dan anak, Audi, sampai kapan kamu hidup dalam bayang-bayang Rangga?" Mama Sally merapikan rambut Audi yang sedikit berantakan dengan jemarinya.


Audi melirik Mama Sally sekilas dan menatap lurus ke depan, "Sampai Audi bisa mendapatkan Rangga dan menyingkirkan perempuan murahan itu dari sisi Rangga!!" saut Audi.


Mama Sally hanya bisa mengela nafas melihat tingkah Audi yang selalu keras kepala. Rasa cinta Audi yang berlebihan kepada Rangga membuat ia membenarkan segala cara untuk bisa mendapatkan Rangga. "Belajarlah melupakan Rangga, nak." ucap Mama Sally lagi.


"Tidak bisa!! Sampai kapan pun, Audi tidak akan pernah melupakan Rangga... Bahkan membiarkan dia bersama wanita lain selain Audi. Termasuk wanita murahan itu!!" keras Audi.


Mama Sally hanya bisa menggelengkan kepala melihat Audi yang bersikeras untuk mendapatkan Rangga. Membelai kepala Audi lembut, "Mama ke bawah dulu, teman-teman kamu sudah menunggu di bawah untuk sarapan. Bersihkan tubuh kamu dan cepat turun ke bawah untuk sarapan." perintah Mama Sally.


Audi tidak bergeming, setelah memastikan Mama Sally keluar dari dalam kamarnya. Audi bangkit dan mengambil sesuatu yang ada di dalam lemarinya. Mengelus lembut foto Rangga yang ia ambil di ruangan ketua osis sewaktu sekolah dulu.

__ADS_1


"Sampai kapan pun gue gak akan pernah membiarkan Rangga bersama wanita lain selain gue!! Jika gue tidak bisa memiliki Rangga, begitu pun dengan wanita sialan itu!! Dia tidak akan pernah hidup bahagia dan memiliki Rangga!! Lo nikmati aja hari-hari terakhir lo bersama Rangga, Vara!! Karena sebentar lagi gue akan merebut Rangga dari sisi Lo!!" Audi menyeringai licik. Entah apa yang sedang direncanakan oleh Audi untuk merebut Rangga dari Vara. Yang pasti, segala cara licik akan mulai ia jalankan sebentar lagi.


***


Yura nampak meraung-raung di depan rumah dalam gendongan Rangga. Gadis kecil itu memberontak di dalam gendongan tidak terima ditinggal ayahnya pergi ke luar kota. Rayuan Vara pun tidak dihiraukannya. Ia sangat takut, jika sang ayah lama kembali ke rumah seperti 4 tahun lalu, katanya.


Vara mencoba merayu Yura sekali lagi dengan menjanjikan mengajaknya dan Aidan pergi ke taman bermain bersama Syifa. Lagi-lagi rayuan itu tidak diacuhkan Yura. "Nda mahu... Nanti Ayah lama pulang ke lumah... Yula nda mahu di ejek teman-teman lagi nda punya Ayah... Hiks...." raung Yura.


Rangga mengelus-ngelus punggung Yura supaya menenangkannya, "Ayah cuma sebentar, sayang, Ayah pasti pulang. Nanti Ayah bawakan Yura dan Kakak Aidan mainan." bujuk Rangga.


Melihat pergerakan Yura yang sudah mulai tenang, Vara mengambil Yura dalam gendongan Rangga. "Anak Bunda gak boleh seperti itu, sayang. Ayah pasti pulang... Ini kan rumah Ayah... Mau kemana lagi Ayah pulang jika tidak ke sini...." Vara menghapus air mata putrinya yang masih menetes di kedua pipi bulatnya.


Aidan yang kesal melihat tingkah Yura pun mulai angkat bicara, "Kemarin ayah lupa jalan pulang, makanya ayah gak pulang-pulang... Iya kan, Ayah??" cebik Aidan melihat ke arah Rangga supaya mengiyakan ucapannya. Rangga mengangguk mengiyakan, Jo menahan tawanya melihat Rangga disudutkan anaknya sendiri. Rangga yang melihat raut wajah Jo seperti menahan tawa langsung menatapnya tajam.


"Ayah janji akan membawakan mainan untuk Yula dan Kakak??" Yura mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Rangga.


Rangga menautkan kelingkingnya dan kelingking mungil Yura, "Iya, Ayah janji..." Mengelus lembut rambut pirang Yura.


Vara menatap Rangga, memberi kode supaya berangkat sekarang juga sebelum Yura mulai bertingkah lagi, "Ayah berangkat dulu... Yura dan kakak harus baik-baik di rumah... Tidak boleh menyusahkan Bunda..." ucap Rangga kepada Yura dan Aidan yang langsung diangguki oleh mereka, melirik ke arah Vara, "Aku berangkat dulu, jika ada apa-apa cepat hubungi aku atau Jo." perintah Rangga.

__ADS_1


Vara mengangguk, "Baik, Mas... Kamu hati-hati di jalan... Jika sudah sampai jangan lupa kabari ke rumah, Mas..." pinta Vara.


Rangga mencium kening Aidan dan Yura bergantian, Yura yang melihat Ayahnya hanya menciumnya dan Aidan saja mengembungkan kedua pipinya. "Kenapa Ayah nda cium Bunda?? Apa Ayah nda sayang sama Bunda?? Ayo Ayah cium Bunda sekalang..." cebik Yura.


Rangga melihat ke arah Vara meminta persetujuan dan diangguki Vara. Mendekat ke arah Vara menurunkan Yura dalam gendongan Vara. Menarik pinggang ramping Vara mendekat ke arahnya dan langsung membenamkan ciuman yang cukup lama di kening Vara. Vara melebarkan kedua matanya diikuti detak jantung yang mulai berdetak lebih cepat.


"Jaga kesehatan kamu dan anak-anak di rumah," bisik Rangga ke telinga Vara dan menghembuskan singkat nafasnya yang membuat Vara bergedik.


Rangga masuk ke dalam mobil diikuti Jo, mobil perlahan melaju meninggalkan halaman rumah diikuti lambaian tangan Vara, Yura dan Aidan. Rasanya Vara juga berat berjauhan dari Rangga, mengingat ia baru memulai pendekatan dengan Rangga dan mulai terbiasa tidur bersama Rangga, Tapi Vara sadar, memiliki suami yang super sibuk membuat ia harus berusaha menahan rindu untuk saat ini maupun untuk waktu yang akan datang.


Setelah mobil Rangga hilang dari pandangan, Vara mengajak kedua anaknya masuk ke dalam rumah. Vara naik ke lantai atas menuju kamarnya mengambil tas dan keperluan Aidan dan Yura selama di cafe. Setelah di rasa siap, Vara langsung mengajak Aidan dan Yura berangkat ke cafe di antar oleh supir pribadinya sesuai perintah Rangga. Walau Rangga tidak berada di rumah, tapi Vara tetap menuruti segala perintah Rangga walau pun ia sudah sangat rindu mengendarai motor seperti biasanya.


.


.


.


Happy Reading😉

__ADS_1


__ADS_2