
Setelah kepulangan keluarga dan para sahabatnya, kini tinggallah Rangga yang dengan setia menemani Vara yang sedang tertidur setelah menyusui anaknya yang sudah diberi nama Alula Nafeesa Dharma.
Rangga menatap lama wajah istrinya yang terlihat lelah dari guratan wajahnya. Dibelainya lembut pipi Vara yang semakin berisi. Dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rangga sangat bersyukur bisa memiliki istri seperti Vara. Mengalihkan pandangan ke arah bayi yang sedang tidur pulas di dalam box bayi setelah diberikan ASI oleh Vara.
Wajah Alula sangat mirip dengan wajah Yura sewaktu bayi dulu yang Rangga lihat dari album foto Aidan dan Yura sewaktu bayi. Menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk senyuman. Rangga membayangkan jika Alula akan menirukan sifat Yura yang cerewet. Sudah pasti rumahnya akan dihiasi suara cempreng kedua putrinya nantinya.
Vara mengerjap. Melihat wajah Rangga yang pertama kalinya ia lihat ketika membuka mata. Pakaian suaminya itu masih sama semenjak ia dilarikan ke rumah sakit hingga sekarang. Bahkan saat ini jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. "Kamu masih di sini, Mas?" tanya Vara dengan suara pelan.
"Tentu saja aku masih di sini, sayang. Aku akan menjaga kamu dan anak kita di sini."
"Kamu bisa beristirahat di rumah sebentar, Mas. Ibu bisa menjagaku di sini." ucap Vara tidak enak. Vara dapat melihat raut wajah suaminya yang lelah. "Ibu dimana, Mas?" tanya Vara ketika sudah tidak menemukan ibunya di dalam ruangan.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh ibu untuk pulang bersama anak-anak. Ibu pasti lelah seharian ini menjaga cafe lalu pergi ke sini."
"Kamu juga pasti lelah, Mas. Istirahatlah, aku tidak apa-apa." terangnya agar Rangga tidak khawatir.
"Aku hanya memerlukan waktu beberapa menit untuk membersihkan tubuhku. Dan jangan minta aku untuk meninggalkan kamu dan anal kita di sini lagi! Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa kalian."
"Apa kamu akan memakai baju yang ada di sini saja?" ucap Vara terkekeh geli.
"Tentu saja, tdak! Aku sudah meminta pengawal untuk membawakan pakaian ganti ke sini."
"Itu memang sudah menjadi tanggungjawabku, sayang. Aku tidak ingin kejadian buruk menimpa kamu dan anak kita.
__ADS_1
Vara tersenyum menanggapinya. Sikap Rangga yang super posesif, membuat Vara sadar, jika suaminya jtu sudah benar-benar mencintainya.
***
Berbeda dengan Rangga dan Vara yang sedang berada di dalam ruangan rawat VVIP, Fero dan Zia kini berada di dalam mobil Fero dengan keadaan canggung. Setelah Fero memaksa Zia untuk ikut dengannya, dengan sedikit ancaman. Akhirnya Zia pun mau tidak mau menuruti perintah Fero untuk pulang bersamanya.
Fero berdehem untuk memecahkan keheningan diantara mereka. "Apa lo tidak mau diantarkan ke rumah orang tua lo saja?" tanya Fero ketika arah yang dilewatinya mulai memasuki daerah apartemen Zia.
"Tidak. Mama dan Papa bisa panik jika mengetahui aku pulang bersamamu. Mama dan Papa hanya tau jika aku sangat mem-" ucapnya terpotong ketika menyadari ucapan yang akan segera keluar dari mulutnya."
"Mem apa?" tanya Fero cepat.
__ADS_1
Bagaimana ini?. "Agh, lupakan saja!" ucap Zia cepat.
Sebenarnya Fero tahu apa yang ingin Zia bicarakan. Hanya untuk saat ini Fero hanya ingin lebih mengenal Zia dan membiasakan diri bersama wanita yang akan menjadi ibu dari anaknya.