Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Hanya sedikit masalah


__ADS_3

Rangga menatap wanita yang sedang memeluknya erat. Mengelus rambut Vara yang membuat wanita itu semakin mempererat pelukan kepadanya. Gumaman Vara sebelum tertidur masih terdengar oleh telinganya walau pun Vara bergumam pelan. Apakah benar jika pendengarannya tidak salah jika Vara mencintainya? Atau hanya halusinasinya saja? Ingin sekali Rangga membangunkan Vara dan menanyakan kejelasannya. Tapi ia masih berpikir jernih, jika ia tidak mungkin mengganggu kembali tidur wanita yang sudah ia buat kelelahan sepanjam malam ... bahkan sampai siang.


Rangga yang sama lelahnya pun akhirnya tertidur dengan tangan memeluk pinggang Vara. Untung saja ia sudah mengabari asisten Jo jika hari ini tidak masuk kantor. Sehingga ia bisa mengistirahatkan tubuh dan otaknya yang terlalu banyak berpikir sejenak.


Ketukan pintu berulang membangunkan tidur Rangga, dilihatnya Vara masih tertidur nyenyak dengan posisi yang masih memeluknya. Menyingkirkan perlahan tangan Vara yang berada di pinggangnya agar tidak membangunkannya. Turun dari tempat tidur dan memakai kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.


"Mama?" ucap Rangga ketika melihat jika Mamanyalah yang mengetuk pintu dan membangunkan tidurnya.


"Kamu baru bangun? Apa kamu tidak bekerja Rangga?" Mama Mita memperhatikan pakaian Rangga yang sedikit berantakan dan rambutnya yang acak-acakkan, "Vara mana?" tanya Mama Mita lagi.


"Hari ini Rangga tidak bekerja, Ma."


"Lalu Vara mana? Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaan Mama?!"


"Vara masih tidur, Ma. Sepertinya Vara masih kelelahan."


"Apa? Kenapa Vara sampai kelelahan sih Rangga? Kamu menyiksa istri kamu, huh?" Mita yang belum mengerti maksud Rangga langsung menerobos masuk ke dalam kamar anaknya, mengkhawatirkan mantunya yang sebenarnya kelelahan karena hal lain.


Mita memperhatikan pakaian Vara yang berserakan dan kancing baju yang bertebaran dimana-mana. Mengalihkan perhatiannya ke arah kasur, wanita yang sedang tertidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai leher. Mita meneguk salivanya, sekarang ia baru mengerti maksud ucapan Rangga.


"Sepertinya Mama harus ke kamar Yura lagi untuk menyuapkan Yura makan siang. Kamu lanjutkan saja acara membuat adik untuk si kembar," Mita terkekeh dan segera keluar dari kamar anaknya.


Rangga hanya menggeleng melihat Mamanya yang keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya. Memungut baju Vara satu per satu dan meletakkan ke keranjang laundry. Memutuskan untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sembari menunggu Vara terbangun dari tidurnya.


Vara mengerjapkan matanya, sinar matahari nampak masih terang seperti sebelum ia tertidur. Mengedarkan pandangan mencari keberadaan Rangga yang sudah tidak ada di atas tempat tidur. Melihat tidak adanya Rangga di dalam kamar, Vara memutuskan untuk membersihkan tubuhnya sebelum mencari keberadaan Rangga di luar kamar.


"Agh, bagaimana ini? Kenapa banyak sekali tanda merah di tubuhku, dan sepertinya bertambah banyak dari yang aku lihat tadi pagi," gumam Vara memperhatikan tubuhnya di cermin, "Rasanya sangat memalukan jika aku keluar dengan keadaan seperti ini. Tapi jika aku tidak keluar, Yura bisa menangis karena tidak menemukanku sedari pagi."


Akhirnya Vara memutuskan keluar dari dalam kamar. Memasuki kamar Yura dan tidak mendapatkan siapa-siapa di sana. Suara tawa yang terdengar dari lantai bawah meyakinkan Vara jika kedua anaknya sedang berada di sana. Menuruni anak tangga satu per satu, samar-samar Vara mendengarkan pertanyaan Yura yang membuat Vara tersentak ketika mendengarnya.

__ADS_1


"Jadi Yula dan Kakak akan punya adik bayi, Nek? Holee..." Yura bertepuk tangan kegirangan.


"Iya benar, nanti Yura harus sayang kepada adik bayi."


Yura mengangguk-angguk, "Tentu saja Yula akan sayang... Tapi Yula mau adik bayi pelempuan... Nda mahu laki-laki.." cebik Yura.


"Kenapa?" Mita menyerngitkan dalam keningnya.


"Nanti sepelti Kakak. Nda bisa ajak main, diam saja sepelti batu, Yula suka kesal," Adunya yang membuat Aidan mendengus.


"Mama?" ucap Vara ketika melihat mertuanya sedang duduk memangku Yura. Mendudukkan tubuhnya di sofa di samping Aidan setelah menyalami Mita, "Sejak kapan Mama datang? Maaf Vara tidak tahu, Ma," sesal Vara.


"Tidak masalah, Nak. Mama tahu kamu pasti kelelahan membuatkan adik untuk si kembar," ucap Mita menyeringai.


Wajah Vara seketika merona mendengarkan ucapan Mita, bagaimana mertuanya itu bisa tahu, pikirnya bingung.


"Lehel Bunda kenapa?" tunjuk Yura ke leher Vara.


Vara dengan cepat menutup lehernya dengan kedua tangannya, hal yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Anak-anaknya itu memang memiliki rasa tahu yang tinggi akan sesuatu. Vara mulai merakit kata-kata yang cocok untuk menjawab pertanyaan kedua anaknya.


"Leher Bunda kalian habis digigit semut," timpal Mita terkekeh ketika melihat Rangga yang baru saja datang sehabis menerima telepon dari kantor.


"Cemut?" Yura bergidik.


Mita mengangguk, "Cemut besal," ucapnya menirukan bicara Yura.


"Besal?" Yura melototkan kedua matanya ke arah leher Vara. Kemudian melihat ke arah Ayahnya, "Ayah... Bunda atit... Lehel Bunda digigit cemut besal..."


"Apa ini sakit Bunda?" tanya Aidan menekan leher Vara dengan jarinya.

__ADS_1


Vara menggeleng, "Tidak sayang, ini sungguh tidak apa-apa."


"Kenapa Ayah diam saja? Ayo bawa Bunda ke lumah sakit, Ayah..." rengek Yura yang khawatir dengan keadaan Bundanya.


Bagaimana tidak, leher Vara nampak penuh dengan hasil karya Rangga. Bahkan hanya sedikit cela yang tidak memerah. Vara sungguh malu dengan kejadian ini, terlebih adanya Mama Mita di sana. Ingin sekali ia menerobos pintu doraemon yang bisa kemana saja saat ini. Sungguh memalukan, pikirnya.


Rangga hanya diam saja tanpa berniat membantu Vara menjawab pertanyaan kedua anaknya. Vara dapat melihat dari raut wajah Rangga jika ada masalah yang sedang dihadapi suaminya itu, "Kenapa, Mas?" tanya Vara ke arah Rangga.


"Tidak apa-apa, sepertinya aku harus berangkat ke luar kota lagi. Ada sedikit masalah di sana," jawab Rangga memijit pelipisnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Itu bisa mengganggu kesehatan kamu."


"Masalah apa yang terjadi di proyek baru kamu, Rangga?" tanya Mita yang mulai serius dan melupakan bahan candaannya tadi.


"Hanya sedikit masalah, Ma. Besok Rangga akan berangkat keluar kota. Rangga titip Vara dan anak-anak, sepertinya Rangga cukup lama di sana."


"Yula mau ikut, Ayah... Nda mahu ditinggal lagi..." rengek Yura yang mulai berkaca-kaca.


"Yura di rumah Nenek saja ya, nanti Nenek akan membawa Kakak Syifa untuk menginap di rumah," rayu Mita yang mengerti jika Rangga tidak mungkin membawa keluarga kecilnya.


"Nenek benar, sayang... Kita di rumah Nenek saja, Ayah tidak akan lama. Di rumah Nenek Yura bisa bermain lagi dengan Didi kelinci, bukannya Yura sangat senang bermain dengan Didi?" Vara mencoba ikut merayu Yura yang pipinya sudah teraliri air mata.


"Nda mahu... Yula mahu ikut, Ayah... Ayah selalu saja meninggalkan Yula dan Kakak... Apa Ayah nda sayang kami lagi... Huuu..." ucap Yura yang memberontak di pangkuan Mama Mita.


.


.


.

__ADS_1


*Happy Reading! :)


__ADS_2