Serpihan Cinta Nauvara

Serpihan Cinta Nauvara
Apa itu sakit?


__ADS_3

Vara tak hentinya memperhatikan interaksi antara Rangga dan Yura yang berada di hadapannya. Hatinya terasa menghangat, ia tidak pernah menyangka sosok dingin seperti Rangga bisa menjadi ayah yang baik seperti yang ia lihat belakangan ini. Semenjak terbongkarnya rahasia jika Aidan dan Yura adalah anak kandung Rangga, Vara dapat melihat jika Rangga benar-benar menyayangi kedua anaknya tidak seperti yang ia pikirkan selama ini. Hatinya terasa lega, perasaan takut mulai sirna dengan berjalannya waktu. Dan hal yang Vara takutkan jika Rangga tidak menerima kehadiran kedua anaknya tidak terjadi. Vara sangat bersyukur dengan hal itu.


Suara bel yang berbunyi mengalihkan perhatian Vara. Dahinya mengkerut, siapa lagi yang datang pikirnya. Teman-temannya dan Rangga sudah pulang dan Mama Mita juga sedang mengantarkan Syifa pulang ke rumah Rey.


"Aku ke depan dulu melihat siapa yang datang," ucap Vara ketika Rangga melihat ke arahnya.


"Iya."


Vara bangkit mendorong sedikit kursi yang didudukinya ke arah belakang. Melangkahkan kaki dengan cepat ketika suara bel kembali berbunyi untuk yang kedua kalinya, "Fero!" ucap Vara tak percaya jika orang yang ada di hadapannya adalah Fero.


Senyum terkembang menghiasi wajahnya, rasanya sudah sangat lama mereka tidak pernah berjumpa setelah ia dan Rangga menikah. Biasanya Fero selalu menyempatkan waktu untuk mengunjungi kedua anaknya di cafe Ibunya.


"Hai, Ra. Apa kamu hanya terdiam tanpa berniat menyuruhku untuk masuk?" kekeh Fero mengacak rambut Vara.


"Agh, iya! Mari masuk," perintah Vara.


Fero melangkahkan kaki jenjangnya ke dalam rumah rivalnya sedari sekolah dulu. Senyum tertarik tipis di kedua sudut bibirnya ketika melihat Vara nampak semakin cantik dengan gaun bewarna pastel yang dikenakannya.


"Yura mana, Ra? Aku dengar Yura kakinya baru saja dijahit," tanya Fero setelah mendudukkan tubunya di sofa. Mengedarkan pandangan ke segala arah yang dapat dijangkaunya mencari keberadaan Yura.


"Kamu tahu dari mana jika kaki Yura terluka?" tanya Vara heran.


"Tadi aku menghubungi Melani menanyakan keberadaan kamu, karena tadi aku ke cafe dan tidak menemukan kamu dan anak-anak. Ibu bilang jika kamu dan anak-anak sedang berada di rumah Melani," jelas Fero.


Vara mengangguk-angguk, "Tunggulah sebentar! Aku kebelakang dulu memanggilkan Yura. Sepertinya dia sudah selesai makan. Pasti Yura sangat senang bertemu kamu Fer, Yura sering sekali menanyakan kamu yang tidak pernah ke cafe lagi."


"Apakah benar seperti itu?" Fero menyunggingkan senyuman, "Baiklah, panggilkanlah kedua anak-anakku, Ra!" perintah Fero. Ia bahkan sudah menganggap Aidan dan Yura sebagai kedua anaknya, meski ia tahu jika itu akan menambah masalah dengan Rangga nantinya.


Vara mengangguk, beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki ke arah meja makan. Dilihatnya jika Rangga baru saja selesai menyuapkan Yura dan sedang mengelap sisa makanan yang menempel di bibir Yura.


"Siapa?" tanya Rangga yang menyadari kehadiran Vara tanpa mengalihkan pandangannya dari mengelap bibir Yura.


"Fero, Mas."

__ADS_1


"Apa?!" ucap Rangga keras.


"Fero ingin berjumpa dengan Yura, Mas. Fero tau dari Melani jika kaki Yura terluka," jelas Vara.


Rangga mendengus, "Alasan saja," ketusnya.


"Yula mau jumpa Daddy, Bunda!" Yura merentangkan kedua tangannya ke arah Vara.


"Biar Ayah saja yang gendong! Bunda kamu terlalu kecil jika menggendong tubuh gemuk kamu ini," walau pun hatinya terasa memanas. Tapi Rangga berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya.


"Ayo Kakak, Daddy sudah menunggu kita di depan," ajak Yura.


Vara menuntun Aidan menuju ruang tamu di mana Fero berada. Dua orang bertubuh tinggi itu nampak bertatap dingin satu sama lain. Vara baru menyadari jika keadaan seperti ini tidak baik. Ia ingat jika Rangga melarangnya untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki lain termasuk Fero. Dan sekarang ia malah membiarkan Fero masuk ke dalam rumahnya. Vara sangat merutuki kecerobohannya kali ini.


"Daddy Fero!" seru Yura manja ketika Fero menatap ke arahnya.


"Anak Daddy kenapa?" Fero memperhatikan kaki Yura yang terlilit perban, "Apa itu sakit?" tanya Fero menunjuk kaki mungil Yura.


Yura mengangguk cepat, "Sangat atit, Dad!" Yura meringis mengipas-ngipas kakinya dengan kedua tangan.


"Jatuh, kena kaca!"


Fero terkekeh, muka Yura yang menggemaskan membuatnya selalu rindu dengan gadis kecil berwajah bulat itu. Dilihatnya Aidan yang duduk di sebelah Rangga, ia mengakui jika sosok yang berada di hadapannya bagaikan pinang dibelah dua, "Hai Boy!" sapa Fero.


"Hai, Dad! Kenapa lama sekali tidak ke cafe Nenek lagi? Yura cerewet menanyakan Daddy terus."


"Daddy sibuk kerja Boy, Bunda kamu mana? Bukannya tadi bersama kamu ke sini?" tanya Fero tanpa memperdulikan tatapan tajam yang dihunuskan Rangga ke arahnya.


"Balik ke dapur, Dad. Mau membuatkan minum tadi kata Bunda."


"Itu Bunda, Dad!" ucap Yura menunjuk Vara dengan jari mungilnya.


"Diminum dulu, Fer," Vara menyodorkan gelas bewarna coklat yang berisi kopi hitam hangat ke arah Fero. Ia tahu jika Fero sangat menyukai minuman bewarna hitam itu. Dan meletakkan minuman yang sama ke arah Rangga.

__ADS_1


"Tidak perlu repot begini, Ra! Aku cuma sebentar saja."


"Tidak masalah, minumlah!"


Fero menyesap kopi yang terasa sama seperti yang biasa Vara buatkan untuknya, "Terimakasih." ucap Fero yang dibalas anggukan diiringi senyuman oleh Vara.


"Anak Daddy... Cepat sembuh ya kakinya sayang... Daddy tidak bisa lama-lama di sini... Daddy masih ada urusan..." Fero beranjak ke arah Yura yang sedang memanyunkan bibirnya.


"Sebental sekali," cebik Yura.


Fero terkekeh geli, "Ya, lain kali Daddy akan lama-lama tapi tidak di sini," ucap Fero melirik sinis ke arah Rangga.


"Gue balik, terimakasih sudah berbaik hati membiarkan gue melihat Vara dan kedua anak-anak gue," bisik Fero ke telinga Rangga yang membuat muka Rangga memerah menahan amarah yang sudah membara di dalam tubuhnya.


"Aidan, Daddy pulang dulu. Ra, aku pamit pulang," lanjutnya lagi.


Vara mengangguk, beranjak dan mengantarkan Fero ke depan rumah bersama Aidan. Sedangkan Rangga langsung membawa Yura ke dalam kamarnya.


***


Setelah pertemuan singkat dengan Fero siang tadi, Rangga nampak diam saja tanpa berniat mengajak Vara berbicara. Baru saja satu masalah selesai dan masalah baru datang lagi, pikir Vara.


Apa aku pakai saja pakaian kurang bahan yang dibelikan Mama waktu itu? Bukannya Mas Rangga menyuruhku memakai itu malam ini? Agh, sebaiknya aku pakai saja!


Vara melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun tidur yang sedang dipakainya saat ini membuat lekukan tubuhnya nampak jelas, "Aku seperti wanita penggoda saja," Vara mendelik, tapi demi membuat Rangga tidak marah lagi kepadanya ia memberanikan diri keluar dari walk in closet. Berjalan pelan ke arah tempat tidur di mana Rangga sedang tegak membelakanginya sambil memainkan ponsel.


"Mas," lirih Vara yang langsung memberanikan diri memeluk tubuh Rangga.


Tubuh Rangga menenggang, merasakan sensasi yang luar biasa ketika tubuh Vara yang hanya berbalut gaun tipis itu memeluk tubuhnya.


.


.

__ADS_1


.


Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5. Beri dukungan supaya author semangat untuk menulisnya.


__ADS_2