
Mata yang semula tertutup rapat itu perlahan terbuka. Vara menarik kedua sudut bibirnya dengan wajar merona mengingat aktivitasnya dengan Rangga semalaman. Jemarinya mulai terangkat untuk membelai wajah pria yang kini sangat dekat dengannya, "Kenapa kamu semakin tampan saja, Mas?" masih membelai pipi Rangga dengan ibu jarinya.
Rangga yang merasa tidurnya terusik pun membuka kedua matanya. Dilihatnya wanita yang sudah membuat hidupnya kacau hampir satu bulan belakangan, "Apa kamu masih belum puas memandang wajah tampan suamimu ini, hem?" tanya Rangga menahan tangan Vara yang sedang menempel di pipinya dengan tangannya.
Vara yang merasa malu akibat aktivitasnya diketahui suaminya pun segera membenamkan wajahnya ke dada Rangga, "Apa kamu sedang menggodaku, sayang? Kamu bisa kembali membangunkan macan yang sedang tidur?" goda Rangga. Ia tahu, jika saat ini istrinya itu tengah malu. Bahkan Vara sampai tidak menyadari jika dirinya tengah polos.
"Kenapa kamu bangun sih, Mas? Aku kan jadi malu," menggeleng-gelengkan kepalanya di dada Rangga.
"Untuk apa malu, hem? Aku bahkan senang, istriku ini tidak pemalu lagi seperti biasanya," Rangga terkekeh, memeluk tubuh wanita yang sudah mulai berani mengacaukan hidupnya.
Vara menikmati hangatnya pelukan dari pria yang sudah lama dicintainya. Seketika ingatannya kembali pada kata cinta yang diucapkan Rangga tadi malam, "Mas?" mengangkat wajahnya untuk melihat wajah Rangga.
"Hem?"
"Apa benar kamu mencintaiku, Mas?"
__ADS_1
"Ya, aku benar-benar mencintai kamu. Apa kamu masih meragukanku?" melonggarkan pelukannya. "Maafkan aku yang sudah terlalu banyak menyakiti kamu, Ra," lirih Rangga. Ia tahu, jika kesalahannya sudah terlalu banyak. Bahkan dengan teganya menuduh istrinya berselingkuh dengan Fero.
"Terimakasih sudah mau mencintaiku, Mas. Aku juga sangat mencintaimu," akhirnya kata yang sulit keluar dari bibirnya pun keluar juga.
Rangga membelai rambut wanita yang kini semakin memeluk tubuhnya erat, "Tidak perlu berterimakasih. Saat ini aku yang harusnya berterimakasih kepada kamu, Ra. Terimakasih sudah kembali memberi kesempatan untuk aku bisa bersama kamu dan anak-anak kita lagi.
Vara mengangguk sebagai jawaban. Rasa lega dan bahagia menjadi satu di dalam dirinya, "Agh, sebaiknya aku mandi dulu. Sebentar lagi waktunya sholat subuh," Vara bergedik ketika merasakan sesuatu yang tegak di bawah sana.
"Baiklah, aku akan membantu kamu membersihkan diri," menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya mereka. Vara merasa semakin malu, ia hanya bisa pasrah ketika Rangga sudah menggendong tubuhnya ke kamar mandi.
"Ayah?!" pekik seorang gadis kecil yang sedang mengucek kedua matanya ketika melihat sosok yang sangat dirindukannya.
"Ayah?" Aidan tak kalah terkejutnya. Ia tidak menyangka jika Ayahnya kini berada di hadapannya.
Rangga tersenyum, hatinya menghangat bisa melihat kembali kedua buah hatinya. Membelai rambut Yura yang sedikit berantakan, "Apa princess merindukan Ayah?" tanyannya.
__ADS_1
"Tentu saja! Yula bahkan sangat lindu. Mau jumpa sama Ayah, tapi Yula takut Bunda akan malah," bisik Yura.
Aidan mendengus, kembarannya ini terlalu senang mencari perhatian kedua orangtua mereka, "Bunda ada dimana, Yah?" tanya Aidan ketika tidak mendapatkan sang Bunda di dalam kamarnya seperti biasanya.
"Bunda sedang membantu Nenek memasak di dapur. Aidan dan Yura ayo mandi dulu! Ayah akan memandikan kalian," ajak Rangga.
Yura mengangguk antusias, "Benelan Ayah mau mandikan Yula dan Kakak?" tanyanya memastikan.
Rangga mengangguk mantap, "Tentu saja! Setelah mandi dan sarapan, Ayah akan mengajak kalian bermain ke rumah Kakak Syifa."
"Asikkk.. Yula sudah kengen dengan Kaka Syifa."
.
.
__ADS_1
.